Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

PERAN MANUSIA DALAM PERJALANAN SEJARAH


Sayyid Muhammad Baqir Shadr


Penemuan dimensi-dimensi yang sesungguhnya dari peran agama dalam perjalanan sejarah dan kemajuan manusia bergantung pada penilaian atas dua unsur yang tetap dari hubungan sosial, yakni manusia dan alam.
Marilah kita melihat, dari sudut pandang Al-Quran, mengenai manusia, dan perannya dalam gerakan sejarah dalam konsep Qurani yang nyata terlihat bahwa manusia atau kandungan batinnya membentuk landasan bagi gerakan sejarah. Sebagaimana kita ketahui, mempunyai tujuan adalah sifat yang khas dari gerakan sejarah. Dengan kata lain, gerakan sejarah adalah gerakan yang bertujuan. Ia tidak semata-mata berkaitan dengan masa lampaunya melalui penyebabnya, tetapi juga berkaitan dengan masa depannya melalui tujuannya. Sebagai gerakan yang bertujuan, ia memiliki sebab-akhir dan mengacu ke masa depan.
Masa depanlah yang merangsang gerakan aktif sejarah. Meskipun masa depan tidak eksis di masa kini, ia divisualisasikan melalui keberadaan mentalnya. Keberadaan mental inilah yang di satu pihak menunjuk kepada aspek intelektual yang mencakup tujuan, dan di lain pihak mendorong manusia ke arah tujuan tersebut. Jadi, keberadaan mental dari suatu tujuan yang akan terwujud di masa depan dan yang memotivasi sejarah, di satu pihak menunjukkan keberadaan suatu gagasan dan di lain pihak menunjukkan keberadaan suatu kehendak. Gabungan antara gagasan dengan kehendak inilah yang mempunyai kekuasaan untuk menciptakan masa depan, dan merupakan kekuatan yang mampu memulai kegiatan bersejarah di bidang sosial.
Gagasan dan kehendak, dalam kenyataannya membentuk kesadaran manusia, dan dalam kedua unsur dasar ini kandungan batin manusia bisa dilihat. Kandungan batin manusialah yang menggerakkan sejarah dan bersama dengan gabungan antara gagasan dengan kehendak manusia mampu mewujudkan tujuan-tujuannya.
Dengan penjelasan ini dapatlah dikatakan bahwa, kandungan batin manusia atau pemikiran serta kehendaknyalah yang menggerakkan sejarah. Seluruh struktur masyarakat, termasuk semua hubungan, organisasi dan karakteristiknya, berdiri tegak di atas landasan kandungan batin manusia, dan setiap perubahan serta perkembangan masyarakat bergantung pada perubahan dan perkembangan infrastrukturnya ini. Dengan kata lain, struktur masyarakat berubah sejalan dengan berubahnya gagasan dan kehendak manusia. Jika landasan ini mantap, maka struktur masyarakat juga akan kuat. Kaitan antara kandungan batin manusia dengan suprastruktur masyarakat merupakan kaitan antara sebab dan akibat. Kaitan ini mengingatkan kita kepada hukum-hukum yang dijelaskan sebelumnya, yang terkandung dalam ayat: “Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka sendiri mengubah apa yang ada dalam diri mereka.”
Ayat ini mengatakan bahwa kondisi sosial suatu masyarakat merupakan suprastruktur mereka. Setiap perubahan mendasar niscaya akan tampak dalam diri masyarakat itu sendiri. Semua perubahan yang lain, seperti perubahan-perubahan dalam kualitas kehidupan serta kondisi historis atau sosial, bersumber dari perubahan mendasar ini. Suatu “perubahan dalam apa yang ada pada diri mereka” berarti perubahan dalam kandungan batin masyarakat sebagai suatu keseluruhan, yakni sebagai suatu komunitas atau bangsa. Masyarakat haruslah seperti sebuah tanaman. yang selalu mengeluarkan buah yang baru dan segar. Suatu perubahan dalam satu atau beberapa individu di masyarakat, tidak akan mampu meletakkan landasan bagi perkembangan masyarakat secara keseluruhan.
Suatu perubahan dalam situasi dan kondisi suatu komunitas atau bangsa, hanya bisa diwujudkan oleh perubahan batin di komunitas atau bangsa tersebut, yang harus seperti sebatang pohon yang mengeluarkan buah-buah yang baru setiap hari. Karena itu, hanya perubahan psikologis suatu bangsa secara keseluruhan ―yang ditampilkan oleh kondisi spiritual mayoritas bangsa tersebut― sajalah yang mampu menimbulkan perubahan mendasar dalam watak historis suatu bangsa. Perubahan dalam spirit seorang, dua orang, atau beberapa orang individu saja, tidak akan mampu menimbulkan perubahan tersebut.

Perlunya Keserasian antara Gerakan Suprastruktur dan Infrastruktur Masyarakat

Islam dan Al-Quran meyakini bahwa proses perubahan lahir dan batin harus berjalan seiring agar inanusia bisa merekonstrtaksi kemampuan-kemampuan batinnya, yakni ruh, pemikiran, kehendak, serta kecenderungan-kecenderungannya. Infrastruktur batin ini harus berada dalam keserasian penuh dengan suprastruktur lahir. Karena tak ada satu pun suprastruktur yang bisa dibayangkan tanpa adanya infrastrukur, sedangkan suprastrukur tanpa adanya landasan yang kuat tentu akan goyah dan gampang lenyap, maka Islam telah menyebut pembentukan kandungan batin sebagai “jihad besar” (penyucian spiritual), dan pembentukan suprastrukural sebagai “jihad kecil” (jihad perang). Dengan membandingkan antara keduanya, Islam mengatakan bahwa jihad kecil tidak akan memiliki arti penting apa pun, tidak pula akan mampu menimbulkan perubahan apa pun dalam lapangan sosial dan historis jika tidak disertai oleh jihad besar.
Oleh karena itu, kedua proses ini harus berjalan bahu-membahu. Apabila keduanya dipisahkan, mereka akan kehilangan nilainya yang sejati. Untuk menekankan pentingnya kandungan batin manusia dan menjelaskan bahwa kandungan batin ini adalah sesuatu yang bersifat mendasar, Islam telah menyebut pembentukannya sebagai “jihad besar”.
Apabila jihad besar dan jihad kecil dipisahkan maka tidak akan ada perubahan batin yang berguna yang akan terjadi. Menggambarkan keadaan seperti itu, Al-Quran mengatakan: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. 2: 204).
Manusia tidak bisa menerima kebenaran dan berbuat bajik selama tidak ada hasrat akan perubahan ke arah yang lebih baik yang berakar kuat dalam hatinya, dan selama dia tidak membangun kembali dirinya dari dalam. Masyarakat tidak bisa dibentuk dengan cara yang layak selama hati manusia tidak dipenuhi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencerminkan kebenaran. Jika nilai-nilai ini tidak ada, maka pembicaraan yang bagaimanapun tentang kebenaran akan hampa dan tak bermakna.
Dengan demikian, pertanyaan yang paling penting adalah yang menyangkut perubahan hati, yang memberikan makna kepada kata-kata, serta memberikan dimensi kepada semboyan-semboyan, serta menentukan tujuan dan tindakan yang harus diambil untuk meraihnya.
Sejauh ini kita telah mempelajari bahwa kandungan batin manusia adalah landasan bagi gerakan sejarah. Dialah yang memastikan aturan- aturan dan hukum-hukum.

Pentingnya Memilih Satu Cita-Cita dalam Kehidupan Manusia

Pertanyaannya sekarang adalah: apa kandungan batin manusia itu? Apakah sesuatu yang merupakan titik tolak dalam pembentukan kandungan batin ini? Bagaimana sesuatu itu ditemukan?
Dalam kenyataannya, cita-cita manusialah yang menjalankan peran ini. Cita-citalah yang membentuk kandungan batin manusia dan menggerakkan roda sejarah. Cita-citalah yang membimbing gerakan sejarah melalui konsepsi yang ada dalam pikiran manusia dan yang bercampur dengan kehendak dan pemikirannya. Tujuan-tujuan yang menggerakkan roda sejarah disusun oleh cita-cita.
Kita tahu bahwa kandungan batin manusia memberikan suatu bentuk yang konkret kepada tujuan-tujuannya, yang merupakan tempat bergantungnya gerakan sejarah. Ia memberikan bentuk yang praktis kepada gerakan sejarah melalui gagasan-gagasan yang eksis secara mental, dan bercampur dengan kehendak dan pemikiran. Semua yang menjadi poros berputarnya sejarah dan yang menyangkut seluruh masyarakat manusia bersumber dari gagasan-gagasan yang besar. Gagasan besarlah yang mewujudkan banyak tujuan kecil dan pertanyaan-pertanyaan spesifik.
Tujuan-tujuan utama dalam kehidupan adalah satu-satunya faktor yang menciptakan sejarah. Pada gilirannya, mereka memiliki fondasi yang mendalam di dalam kandungan batin manusia, yakni cita-cita utama kehidupannya. Cita-cita ini merupakan tiang utama semua tujuan yang menggerakkannya. Makin tinggi dan luhur cita-cita suatu masyarakat, makin layak dan luas tujuan-tujuannya. Sama halnya, jika cita-citanya terbatas dan rendah, maka tujuan-tujuan yang bersumber darinya pun akan rendah dan terbatas pula. Oleh karena itu, cita-cita yang besar dari suatu masyarakat adalah titik tolak dari pembentukan batin masyarakat manusia. Cita-cita utama masyarakat bergantung pada konsepsinya tentang kehidupan dan dunia. Sebuah cita-cita yang besar dibentuk dalam naungan konsepsi tersebut, dan masyarakat dapat bergerak untuk mewujudkan cita-cita tersebut dalam keserasian dengan semangat cita-cita tersebut serta konsepsi yang dipegangnya mengenai dunia dan kehidupan.
Sebuah cita-cita yang besar merupakan hasil dari cara berpikir dan mentalitas tertentu. Semua orang yang memilih cita-cita tertentu menentukan arah tindakan mereka dalam pancaran sinarnya. Arah tindakan ini bisa dipandang sebagai gerakan sejarah. Bisa disebutkan bahwa, semua gerakan sejarah mempunyai tujuan tertentu dan dibedakan satu dari yang lain oleh cita-cita yang mendasarinya, yang menentukan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran mereka. Tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran ini menjaga agar semua upaya dan gerakan yang dibuat terkonsentrasikan dan membawa kepada cita-cita tersebut. Al-Quran dan terminologi agama menyebut cita-cita seperti itu dengan ilah (sembahan), sebab hanya cita-cita tinggi sajalah yang bisa menyita perhatian kita sepenuhnya, dan menjadikan kita menyesuaikan diri dengan semua tuntutannya.
Al-Quran meyakini bahwa semua inhhanya kualitas dari ilah saja. Itulah sebabnya ia menggambarkan setiap cita-cita yang besar dan setiap kekuatan yang menggantikan kedudukan cita-cita yang besar, sebagai ilah. Ilah-ilah inilah yang menentukan jalannya sejarah. Hawa nafsu juga merupakan salah satu dari ilah-ilah tersebut. Al-Quran mengatakan: “Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS. 25: 43).
Dalam ayat ini, hawa nafsu yang berlebih-lebihan dari seorang manusia yang memperturutkannya, juga disebut sebagai ilah (tuhan)-nya.
Menurut peristilahan Al-Quran dan agama, cita-cita yang besar bisa dikatakan sebagai tuhan, yakni sesembahan yang sesungguhnya, yang mengeluarkan perintah-perintah kepada manusia, dan merupakan kekuatan penggeraknya. Jika pengaruh sesuatu selain Allah telah mencapai taraf ini maka ia secara sosial dan religius bisa disebut sesem bahan atau tuhan.

Berbagai Macam Cita-cita Manusia

1. Cita-cita besar yang konsepsinya diturunkan manusia dari realitas-realitas dunia yang eksis secara lahiriah, serta kondisi-kondisi kehidupan dan sikap mental masyarakat manusia, tidaklah mengangkat manusia melampaui hal-hal yang bersifat terbatas dalam kehidupan material.
Apabila cita-cita besar manusia diilhami oleh kondisi masyarakat yang ada dengan semua ciri dan batas-batasnya, maka kehidupan akan mulai bergerak dalam sebuah lingkaran. Dengan kata lain, ia berhenti bergerak ke depan dan menjadi macet. Akibatnya, manusia mulai memandang mutlak apa yang sebelumnya dipandangnya terbatas dan relatif. Dia tak lagi mempunyai hasrat untuk mencapai sesuatu apa pun yang melampaui apa yang telah ada. Dia tak lagi melakukan upaya untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi. Dalam situasi dan kondisi ini, gerakan sejarah menjadi melingkar. Ia tidak bergerak ke depan. Masa depan hanya menjadi perulangan dari masa lampau.
Para pemimpin dari ideologi-ideologi yang terbatas, tidak melakukan apa pun selain menghalangi setiap perubahan di masyarakat. Mereka memblokir kemajuan umat manusia dengan menyimpangkan perhatian mereka dari yang mutlak kepada yang relatif. Karena itu, ideologi-ideologi yang bersifat terbatas dipilih karena dua alasan:
Alasan pertama adalah rasa keterikatan dengan kondisi-kondisi yang ada, karena orang yang bersangkutan terbiasa dengannya, dan tidak menyukai gerakan apa pun karena sikap pasifnya. Dari segi psikologi, berkembangnya keadaan seperti itu di masyarakat akan mencegahnya dari bergerak ke depan dan meraih kemajuan. Konsekuensinya, masyarakat menciptakan tuhan dari suatu kebenaran yang bersifat relatif, yang sesungguhnya bisa digunakannya sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuannya. Ia mulai memandang kebenaran relatif sebagai kebenaran mutlak, dan memilihnya sebagai cita-cita tertinggi dan tujuan terakhirnya. Ini berarti mengikuti secara membuta jejak langkah orang lain ― suatu tindakan yang telah dicela oleh Al-Quran dalam banyak ayatnya yang menggambarkan masyarakat-masyarakat yang dihadapi oleh para Nabi.
Masyarakat-masyarakat ini meyakini bahwa para penguasa mereka merupakan ideal-ideal yang tertinggi. Mereka melampaui semua batas dalam mengagungkan penguasa mereka, dan mengabaikan relativitasnya, mencoba menjadikan mereka absolut. Para Nabi harus menghadapi kaum yang karena kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, serta tata cara mereka yang menyimpang, menolak seruan mereka dan mengatakan: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (QS. 43: 22).
Materialisme berkuasa atas pikiran mereka, dan karena itu mereka hanya mengejar hal-hal yang bisa ditangkap dengan pancaindera saja. Materialisme menguasai perasaan mereka sedemikian hingga alih-alih menjadi manusia-manusia yang berpikir, mereka justru menjadi makhluk-makhluk material yang berpikiran sangat terbatas. Seorang manusia yang pikirannya dipenuhi oleh kebutuhan sehari-harinya, akan selalu berada dalam pengaruh hal-hal yang bersifat material dan tak mampu melihat ke luar batas-batas kejadian sehari-hari dan masalah-masalah material. Dia tidak bisa bangkit melampaui hal-hal seperti ini. Lihatlah apa yang dikatakan oleh Al-Quran tentang orang-orang seperti ini:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. 2: 170).
“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang di- turunkan Allah dan mengikuti Rasul,’ mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk?” (QS. 5: 104).
“Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.’” (QS. 10: 78).
“Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu sertakan kepada kami.” (QS. 11: 62).
“Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu, dan menangguhkan (siksaan) mu sampai masa yang ditentukan?’ Mereka berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami. Karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.’” (QS. 14: 10).
“Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikut) jejak mereka.’” (QS. 43: 22).
Dalam semua ayat ini, Al-Quran menyatakan pilihan suatu cita-cita yang rendah sebagai sebab pertama penolakan terhadap seruan Nabi-nabi oleh masyarakat-masyarakat yang menyimpang. Ia menjelaskan bahwa, terutama sekali disebabkan oleh pandangan materialistik mereka serta adanya kevakuman intelektual, masyarakat-masyarakat ini tak mampu memilih cita-cita yang lebih baik, dan merasa cukup puas dengan cita-cita yang rendah.
Penyebab kedua dipilihnya cita-cita yang rendah sepanjang sejarah adalah, dominasi para tiran yang jahat atas masyarakat. Ketika para tiran tersebut memperoleh kekuasaan di masyarakat, mereka menjadi alergi terhadap setiap gagasan yang memandang ke depan, dan tidak suka jika seseorang dipandang lebih tinggi dari mereka. Mereka selalu memandang hal-hal seperti itu sebagai ancaman terhadap status dan eksistensi mereka.
Itulah sebabnya, sepanjang sejarah, demi kepentingan mereka, para tiran harus menutup mata rakyat terhadap realitas-realitas yang ada. Mereka menginginkan rakyat memandang kondisi yang rendah dari kehidupan mereka sebagai suatu cita-cita yang mutlak perlu, dan melekatkan nilai kesucian dan kemutlakan pada kondisi yang ada. Para tiran itu mencoba memenjarakan rakyat di dalam kerangka gagasan-gagasan mereka sendiri. Mereka ingin agar rakyat membentuk diri mereka sesuai dengan kondisi mereka yang ada, agar tidak mengambil gagasan apa pun selain itu, dan tidak berpikir untuk mengubah kondisi mereka dengan cara memilih cita-cita yang lebih baik atau ambisi yang lebih tinggi. Itulah penyebab dari dipilihnya cita-cita yang rendah. Penyebab ini diperkenalkan dari luar, dan tidak bersifat internal. Al-Quran telah merujuk kepada metode untuk menyabotase misi para Ilahi ketika ia mengatakan: “Dan berkata Fir’aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.’” (QS. 28: 38).
“Fir’aun berkata: ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.’” (QS. 40: 29).
Di sini Fir’aun mengakui bahwa dia tidak menyuguhkan apa-apa kepada kaumnya kecuali pandangan-pandangan pribadinya sendiri, dan dia ingin menempatkan mereka dalam kerangka pendapat pribadinya sendiri. Dengan demikian dia mengakui bahwa dia ingin menjadikan status quo dan pandangan-pandangan pribadinya bersifat absolut dan mutlak. Kewenangan Fir’aun-lah yang membuat suatu cita-cita yang dipaksakan kepada masyarakat tampak bagi mereka absolut dan mutlak perlu, dan yang memaksa masyarakat untuk menerimanya seperti apa adanya. Fir’aun memandang setiap perubahan dalam kebijaksanaan ini sebagai ancaman bagi eksistensinya. Dengarkanlah apa yang dikatakan Al-Quran dalam hal ini: “Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya, Harun, dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami dan bukti yang nyata kepada Fir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini lalu bersikap takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong. Dan mereka berkata: ‘Apakah (patut) kita beriman kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani lsrail) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?’” (QS. 23: 45-47).
Fir’aun bermaksud mengatakan: “Kita tidak siap untuk meyakini cita-cita yang dikemukakan oleh Musa, karena cita-cita itu akan menggoyahkan pemujaan yang ditunjukkan oleh kaum Musa dan Harun kepada kita. Karena itu, adalah perlu untuk mempertahankan secara ketat gaya hidup masyarakat yang ada, yang tidak boleh berubah sama sekali. Masyarakat manusia harus dibelenggu dalam pengaruh kerakusan, dan dikontrol secara otoriter.”
Ini merupakan penyebab kedua dipilihnya gagasan-gagasan yang rendah sebagaimana disebutkan oleh Al-Quran. Dalam kaitan inilah Al-Quran menggunakan istilah thaghut (setan, tuhan palsu, tiran).
Al-Quran mengatakan: “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39: 17-18).
Di sini Allah menyebutkan ciri yang paling penting dari orang-orang yang menghindari thaghut. Dia mengatakan: “Berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”
Ini berarti bahwa orang-orang yang menghindari thaghut adalah orang-orang yang berpikiran bebas dan terbuka. Mereka tidak tercetak dalam satu cetakan yang darinya mereka tidak bisa melepaskan diri. Satu-satunya tujuan mereka adalah mengikuti kebenaran. Mereka mendengarkan apa-apa yang dikatakan kepada mereka, dan mengikuti yang paling baik di antaranya. Mereka melakukan upaya apa saja untuk menemukan dan mengikuti kebenaran. Seandainya mereka menyembah thaghut, niscaya mereka hanya akan melakukan apa yang diinginkan oleh si thaghut untuk mereka lakukan. Mereka tentu tidak akan dapat mendengarkan apa-apa yang dikatakan orang kepada mereka, dan tidak dapat memilih mana yang paling baik. Mereka hanya akan mengikuti apa yang dikatakan oleh si thaghut kepada mereka.
Sejauh ini kami telah menjelaskan penyebab kedua diikutinya cita-cita yang rendah.
Sejarah berjalan melewati struktur batin manusia yang menentukan tujuan-tujuannya. Landasan tujuan manusia adalah cita-citanya, dan cita-citanya itu bersumber dari tujuan-tujuannya yang paling penting. Setiap masyarakat memiliki cita-citanya sendiri yang menentukan arah tindakannya, dan memberikan tonggak-tonggak pada jalan kehidupan yang dilaluinya. Ada tiga macam cita-cita. Kami telah menjelaskan macam cita-cita yang pertama, yang bersumber dari kondisi dan lingkungan yang ada pada masyarakat. Cita-cita seperti itu selamanya bersifat monoton dan membosankan. Di bawah dampaknya, sejarah selalu bergerak dalam arah yang melingkar, dalam pengertian bahwa ia mengambil kondisi yang ada, dan menurunkan nilai yang mutlak bagi masa depannya. Al-Quran berpandangan bahwa ada dua penyebab yang menghasilkan cita-cita ini. Penyebab yang pertama, yang bersifat psikologis, adalah keterikatan masyarakat kepada adat istiadat dan kebiasan lama, serta kemalasan dan kesenangan mereka kepada hal-hal yang bersifat inderawi. Penyebab yang kedua bersifat lahiriah. Ia adalah dominasi para despot dan tiran atas masyarakat.
Pemilihan cita-cita yang rendah seringkali mengambil corak agama. Untuk menjadikan cita-cita seperti itu menarik secara permanen, beberapa nilai keagamaan dilekatkan kepadanya, dan dengan demikian upaya-upaya dilakukan untuk memberikan kepadanya semacam kesucian dan kehormatan yang dibuat-buat.
Seperti telah kita amati dalam ayat-ayat Al-Quran di atas, masyarakat-masyarakat yang menolak seruan para Nabi, dalam kebanyakan kasus, secara membuta mengikuti agama dan cita-cita nenek moyang mereka. Dalam kenyataannya, tidak ada cita-cita tingkat rendah yang tidak dibungkus dengan baju keagamaan, baik secara terang-terangan ataupun tersirat, sebab dalam kata-kata Al-Quran dan menurut peristilahan Islam, cita-cita selalu menggantikan kedudukan suatu sesembahan, dan bangsa-bangsa memuja cita-cita mereka hingga pada derajat penyembahan, meskipun dengan cara yang terselubung.
Secara keseluruhan, agama tak lain adalah kaitan antara penyembah dan yang disembah. Selagi masyarakat berpegang pada cita-cita mereka, maka cita-cita tersebut memperoleh warna keagamaan, baik secara terang-terangan ataupun terselubung. Bahkan, meskipun cita-cita tersebut memiliki beberapa sifat non-religius atau menyembunyikan diri di balik jubah non-religius, tetapi secara praktis mereka menyiratkan konsep agama dan penyembahan, dan melihatkan keterikatan antara si penyembah dengan yang disembah. Dalam kenyataannya, semua agama buatan manusia tak lain adalah cita-cita yang rendah, yang secara artifisial telah diubah menjadi kebenaran-kebenaran yang mutlak. Atau jika tidak, maka doktrin-doktrin palsu ini, adalah produk khayalan ataupun konsepsi-konsepsi tak berdasar yang secara samar-samar berkaitan dengan perkembangan umat manusia. Bisa jadi hal itu adalah kebenaran-kebenaran relatif yang dianggap sebagai kebenaran- kebenaran mutlak. Dengan demikian, batasan-batasan dari cita-cita yang rendah merasuk ke dalam agama-agama palsu.
Dengan kata lain, agama-agama palsu yang dipilih oleh manusia untuk dirinya dengan mengadopsi cita-cita tersebut, adalah akibat dari tindakan memandang cita-cita tersebut sebagai asli, dan mengangkat derajatnya menjadi kebenaran berdasarkan khayalan mereka. Agama-agama ini, dalam kenyataannya, mengemukakan tantangan kepada agama Tauhid yang suci, yang dengan berbagai dimensinya merupakan cita-cita tertinggi bagi seluruh umat manusia. Kita akan menjelaskan masalah ini lebih jauh.
Agama-agama palsu dan dewa-dewa khayalan ini, yang telah diciptakan oleh manusia bagi dirinya di setiap masa, hanyalah nama-nama belaka yang tak memiliki hakikat. Al-Quran mengatakan: “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)-nya.” (QS. 53: 23).
Tuhan-tuhan yang dikhayalkan oleh manusia, ajaran yang diciptakannya, serta cita-cita yang merupakan khayalan manusia, tidak dapat membentuk landasan bagi agama yang kokoh. Mereka tidak dapat menjadi sarana bagi kemajuan umat manusia, sebab manusia tidak akan pernah bisa menciptakan Tuhannya sendiri.
Kami telah mengatakan bahwa masyarakat-masyarakat dan bangsa- bangsa yang memuja cita-cita yang rendah berarti menempuh jalan kehidupan yang melingkar. Dengan kata lain, gerakan sejarah bagi mereka bersifat monoton dan melingkar. Suatu bangsa yang dengan cara yang dibuat-buat menarik masa lampau mereka ke kondisi masa kini, dan kondisi masa kininya ke masa depannya, dalam kenyataannya tidak akan memiliki masa depan, sebab masa depannya akan sama saja seperti masa lampaunya.
Itulah sebabnya, ketika kita mempelajari dan menganalisis kondisi bangsa-bangsa yang mengadopsi cita-cita yang rendah, kita temukan bahwa mereka dengan segera menjadi bosan dengan cita-cita mereka, dan tidak lagi tertarik dengannya. Masyarakat, sedikit demi sedikit, berhenti menaruh minat terhadap cita-cita seperti itu ketika mereka menyadari bahwa cita-cita tersebut tidak mempunyai nilai praktis, sebab tidak dapat mendatangkan kebaikan, dan seperti yang akan ditunjukkan oleh pengalaman praktis, mereka telah tak mampu mendorong maju kafilah umat manusia ke depan dan gagal membantu masyarakat memperoleh kemajuan jangka panjang apa pun. Dengan lenyapnya cita-cita tersebut, persatuan legal di kalangan kelompok-kelompok luas masyarakat manusia yang didasarkan pada cita-cita yang sama ini, lalu mengalami erosi dan segera lenyap.
Manakala suatu bangsa kehilangan kaitannya dengan cita-citanya, maka ia akan segera mengalami perpecahan, kebingungan, dan keruntuhan, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Quran: “Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedangkan hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” (QS. 59: 14.).
Permusuhan di kalangan mereka adalah hebat sebab mereka tidak memiliki landasan yang sama untuk persatuan. Tampaknya saja mereka dekat satu sama lain, tetapi sesungguhnya mereka tidak memiliki cita-cita yang sama. Masing-masing dari mereka menempuh jalan yang berbeda. Hati mereka tak bersatu dan kecenderungan mereka berbeda-beda. Semangat mereka tak serasi, dan pikiran mereka macet. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, persatuan nasional tidak akan lagi ada. Yang tinggal hanyalah sesuatu yang tampaknya saja seperti suatu bangsa, yang di bawah lindungannya masing-masing individu dengan segera menyibukkan dirinya sendiri dengan persoalan-persoalan pribadinya sendiri atau masalah-masalah lainnya yang remeh, sebab tidak ada cita-cita besar yang dapat memobilisasikan semua kekuatan, dan menarik semua bakat dan kemampuan yang untuknya pengorbanan bisa diberikan.
Manakala masyarakat telah jatuh seperti itu, maka persatuan nasional juga akan runtuh. Setiap orang akan disibukkan oleh urusan-urusan pribadinya yang terbatas dan mulai hanya berpikir tentang masalah-masalahnya sendiri, seperti bagaimana menghabiskan waktunya, bagaimana makan dan minum, dan bagaimana menyediakan sarana-sarana kenyamanan bagi dirinya dan keluarganya. Dia menjadikan dirinya terikat untuk memapankan diri dalam artian yang murahan, yakni kemapanan jangka pendek yang membuat manusia selamanya sibuk dengan kebutuhan-kebutuhan materialnya, dan menjadikan dirinya sebagai tawanan kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat rendahnya hingga tingkatan di mana dia tak lagi berpikir tentang apa pun selain itu semua, dan upaya-upayanya mulai hanya berkisar di seputarnya saja, sebab dia tidak menemukan sesuatu yang lain dalam kehidupannya. Manakala suatu bangsa telah kehilangan cita-citanya, dapat dikatakan bahwa secara praktis cita-citanya telah runtuh. Seperti telah kami katakan, bangsa seperti itu, karena tidak memiliki cita-cita yang luhur, nantinya hanya akan menjadi sekadar bayang-bayang saja tanpa memiliki eksistensi sejati.

Bagaimana Sejarah Bertindak terhadap Bangsa yang Tak Memiliki Cita-cita?

Sejarah menunjukkan bahwa, dalam situasi dan kondisi seperti itu, salah satu perkembangan sejarah berikut ini akan terjadi:
1. Suatu bangsa yang tidak mempunyai cita-cita akan runtuh oleh serangan militer dari luar, akibat dari kekeroposannya di dalam, dan tidak memiliki eksistensi yang koheren, karena bangsa seperti itu hanya terdiri dari individu-individu yang dikumpulkan bersama-sama tetapi tidak memiliki persatuan. Masing-masing anggota dari bangsa seperti itu hanya peduli dengan makanan, pakaian, dan tempat tinggalnya sendiri, dan tidak berpikir dalam skala bangsa. Dalam situasi dan kondisi ini, bangsa seperti itu akan runtuh karena serbuan militer dari luar. Inilah problema yang dihadapi oleh umat Islam kita di masa sekarang ini. Di masa lampau, ketika kaum Muslimin kehilangan cita-cita luhur mereka dan keridhaan serta bantuan Allah, mereka lalu menjadi korban serbuan orang-orang kafir Mongol. Peradaban Islam di masa itu dimusnahkan, dan dunia Islam yang ditundukkan oleh serbuan asing, juga hancur secara internal.
2. Situasi kedua yang mungkin akan dihadapi oleh bangsa seperti itu adalah, ia akan menyerap cita-cita asing. Suatu bangsa yang kehilangan cita-cita alamiahnya yang tumbuh dari dalam lingkungannya sendiri, akan mencoba memenuhi kekosongan itu dengan cita-cita yang diambil dari luar, yang selanjutnya dijadikan pedoman bagi nasibnya. Ini adalah perkembangan historis kedua yang mungkin terjadi.
3. Perkembangan historis ketiga adalah: kembalinya bangsa tersebut kepada cita-cita aslinya, mengimplementasikan secara gradual cita-cita tersebut dalam kehidupannya dan dalam perjalanannya, dalam rute kemajuan yang baru.
Umat Islam dewasa ini sedang berdiri di persimpangan jalan kemungkinan kedua dan ketiga. Dengan tibanya masa penjajahan, umat Islam menemukan dua jalan terbuka di hadapannya. Yang satu mengajak mereka kepada peleburan dalam ideologi asing. Ini adalah jalan yang telah dipilih oleh beberapa orang pemimpin Muslim di beberapa negeri Islam.
Reza Khan di Iran dan Kemal Attaturk di Turki, ingin menerapkan ideologi negara-negara maju Eropa kepada umat Islam. Mereka meminta kaum Muslimin membuang ideologi mereka sendiri dan menerima ideologi Barat sebagai gantinya,[1] Sebaliknya, para perintis kebangkitan Islam pada awal masa penjajahan dan menjelang masa itu, mencoba memberlakukan kemungkinan ketiga dengan cara menanamkan kehidupan baru ke dalam diri umat Islam melalui penyebaran cita-cita yang luhur. Mereka menginginkan agar kaum Muslimin kembali ke jalan hidup Islam, dan untuk tujuan itu mereka menyuguhkan Islam dalam bahasa modern sesuai dengan kebutuhan kaum Muslimin masa kini.[2] Suatu bangsa yang telah merampas ideologinya dan telah diubah menjadi bayangan belaka, tidak mempunyai alternatif selain menerima salah satu dari ketiga kemungkinan yang disebutkan di atas, dan bertindak sesuai dengannya depan mereka.
Cita-cita ini bukanlah pengulangan, sebab ia tidak mewakili kebutuhan sehari-hari. Ia memandang ke depan. Salah satu ciri cita-cita ini adalah bahwa ia memperlihatkan hasrat akan sesuatu yang baru. Cita-cita ini memperlihatkan satu langkah maju ke depan, tetapi sejauh ini kita telah berbicara tentang bangsa yang memilih untuk dirinya cita-cita yang rendah atau tuhan-tuhan palsu, dan karena alasan itu mereka kehilangan sifat maju ke depan dan terpaksa bergerak melingkar. Pengulangan cita-cita yang sama berakibat terobek-robeknya masyarakat, dan akhirnya akan membuat mereka musnah. Suatu bangsa yang terputus dari cita-citanya yang asli akan berubah menjadi sekadar bayang-bayang, dan dihadapkan pada salah satu dari ketiga kemungkinan perkembangan sejarah yang disebut di atas. Selanjutnya kita akan mundur selangkah untuk membahas jenis cita-cita yang kedua. Cita-cita ini juga tak lain adalah tuhan-tuhan palsu. Seperti telah kami katakan sebelumnya, ketiga macam cita-cita yang ada, menggambarkan tiga pandangan, dan karenanya terdapat tiga macam pandangan.

2. Sekarang marilah kita bahas macam cita-cita yang kedua. Cita-cita macam kedua ini menampilkan aspirasi suatu bangsa untuk masa hanya satu langkah. Dengan kata lain, ia tidak cukup tinggi. Ia berguna, terapi jangkauannya terbatas. Bangsa-bangsa tidak dapat berjalan menempuh jarak yang jauh dengan bantuannya, tetapi secara terbatas mereka dapat memperoleh manfaat dari sifatnya yang berpandangan ke depan. Cita-cita yang dikatakan sebagai cita-cita yang tinggi ini mempunyai aspek yang kuat, tetapi tidak sepenuhnya serasi dengan potensi-potensi manusia yang besar; dan dari sudut pandang ini ia dapat dikatakan remeh. Sekalipun demikian, ia memiliki aspek yang kuat, sebab manusia tidak dapat melihat keseluruhan jalan yang harus ditempuhnya, tidak pula dia dapat memahami yang mutlak, karena kemampuan-kemampuan mentalnya yang terbatas. Dengan cara pikirnya yang terbatas, apa yang bisa dikerjakannya adalah melihat sekilas terhadap Yang Mutlak , yang dengannya dia bisa menerangi jalannya, dan dengan demikian mendapat keberuntungan karena berupaya mencari Yang Mutlak.
Adalah kenyataan yang tak terbantah, bahwa capaian manusia dalam hal ini sangat terbatas. Bagian yang berbahaya darinya adalah, bahwa apa yang diperoleh manusia dari Yang Mutlak tidaklah mutlak, tetapi hanya seberkas sinar dari Yang Mutlak. Tetapi seringkali manusia menganggap berkas sinar ini sebagai cahaya dari langit dan bumi dan menyamakannya dengan Yang Mutlak. Di sinilah letak bahayanya. Manakala manusia ingin memperoleh cita-citanya yang tinggi, dia menciptakannya dari konsep mentalnya yang terbatas tentang masa depan. Konsep yang relatif inilah yang diubah manusia menjadi konsep yang mutlak melalui khayalannya. Jenis konsep yang unggul ini dapat melayani manusia untuk sementara waktu, dapat memberikan kepadanya landasan bagi perkembangan sejauh ia dapat mewujudkan masa depan dan bisa mengaktifkannya hingga pada taraf kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh masa depan itu. Tetapi dengan segera satu batas dicapai dan kemajuan lebih jauh terhenti, sebab suatu cita-cita yang telah diubah menjadi agama dan tuhan akan menjelma menjadi kondisi, dan dengan demikian menghalangi upaya manusia untuk mencapai kesempurnaan dirinya. Sebab, adalah suatu kekeliruan besar menggeneralisasikan suatu cita-cita yang bersifat terbatas dan mengangkatnya kepada kedudukan sebagai Yang Mutlak. Penggeneralisasian ini terkadang bersifat vertikal dan terkadang temporal, tetapi dalam kedua kasus ini, generalisasi cita-cita adalah mutlak keliru.
Generalisasi secara vertikal adalah keliru manakala konsep cita-citanya merampas manusia dari kampuan untuk melihat langkah selanjutnya, dan dia akan memandang cita-citanya sebagai segala-galanya untuk mana dia berjuang, meskipun cita-cita ini ―dengan keadaannya yang kokoh― hanya merupakan bagian dari nilai-nilai yang sangat dicintainya. Generalisasi seperti itu adalah keliru, sebab kita tidak boleh memusatkan semua upaya kita pada sesuatu yang hanya merupakan bagian dari apa yang harus kita perjuangkan.
Sebagai contoh, marilah kita pertimbangkan kasus manusia modern Eropa yang pada masa awal renaissance memilih kebebasan sebagai cita- citanya yang tertinggi. Pada waktu itu manusia di Barat berada dalam kondisi yang sangat terhina. Gereja telah mengikatkan rantai yang membelenggu tangan dan kakinya di semua bidang kehidupan, dan dia berada dalam kondisi yang paling tertekan dalam masalah-masalah agama dan ilmu pengetahuan. Bahkan, untuk pasukan bahan makanannya dia bergantung pada tuan-tuan tanah feodal.
Pada masa itu manusia Eropa dari masa pra-renaissance memutuskan untuk membebaskan dirinya dari belenggu gereja dan feodalisme. Dia memutuskan bahwa manusia harus dibebaskan untuk mengerjakan apa saja yang diinginkannya, menggunakan akal pikirannya sendiri untuk berpikir, bukan akal pikiran orang lain, dan menilai hal-hal secara pribadi tanpa bergantung pada orang lain. Ini adalah gagasan yang sehat, tetapi adalah keliru jika orang membawanya terlalu jauh dan menggeneralisasikannya.
Kebebasan, yakni pelepasan belenggu dari tangan dan kaki manusia, tak diragukan, merupakan salah satu kerangka nilai, tetapi hanya itu saja tidaklah cukup untuk membangun manusia. Anda tidak bisa memutuskan semua ikatan dan membebaskan manusia untuk melakukan apa saja yang disukainya. Pada saat yang sama, Anda tidak bisa menemukan seorang bangsawan feodal, raja, pendeta, atau diktator yang cukup kuat untuk memaksa Anda mengadopsi suatu ideologi atau membuangnya.
Tidaklah cukup untuk sekadar memutuskan belenggu. Kebebasan dari belenggu hanya memberikan kerangka bagi kemajuan dan perkembangan manusia, tetapi perkembangan yang selayaknya dari individu-individu memerlukan suatu landasan batin yang dalam pancaran sinarnya, kemajuan bisa dibuat. Semata-mata kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkan seseorang dan pergi ke mana saja dia mau, tidaklah cukup. Manusia harus mengetahui bagaimana dan mengapa dia harus mengambil langkah tertentu. Orang-orang Eropa telah luput memahami hal ini.
Manusia Eropa telah menjadikan kebebasan sebagai tujuannya. Tak diragukan, kebebasan adalah baik, tetapi ia tak cukup baik untuk menjadi cita-cita. Kebebasan hanyalah suatu kerangka. la memerlukan isi. Kita harus tahu mengapa kita ingin bebas. Jika kita tidak mengetahui apa tujuan kebebasan, maka konsekuensi-konsekuensinya bisa berbahaya dan tak menguntungkan. Dewasa ini, peradaban Barat telah memperoleh sarana untuk menghancurkan umat manusia secara total. Barat sedang merintih di bawah dampak sarana-sarana tersebut, sebab kebebasan Barat tak memiliki isi. Ini adalah contoh generalisasi vertikal dan perluasan cita-cita. Manakala cita-cita diperluas secara vertikal, ia akan menciptakan semua kesulitan ini.
Hal yang sama berlaku pada generalisasi dan perluasan secara temporal. Sepanjang sejarah kita menemukan contoh tindakan-tindakan yang patut dicatat, yang sebagian darinya berhasil, tetapi kita tidak boleh memberikan kepada tindakan-tindakan tersebut makna penting yang terlalu besar selain apa yang semula menjadi sasaran mereka. Tindakan-tindakan tersebut dapat berfungsi sebagai batu loncatan menuju kepada Yang Mutlak, tetapi mereka tidak bisa dipandang sebagai cita-cita.
Sejarah mengatakan, bahwa beberapa keluarga membentuk suku; beberapa suku membentuk klan; dan beberapa klan membentuk komunitas atau bangsa. Sepanjang bentukan-bentukan ini ditemukan berguna bagi kemajuan masyarakat dan persatuan bangsa-bangsa, tidak ada salahnya mengakuinya. Tetapi mereka tidak boleh diubah menjadi cita-cita yang mutlak untuk mana manusia mesti berjuang dan bahkan melakukan peperangan. Yang Mutlak, yang untuknya peperangan mesti dilakukan hanyalah Mutlak yang sejati, yakni Allah. Dengan demikian, pengaturan tersebut di atas tak lebih hanyalah sebuah metode dan kerangka, bukan cita-cita yang mutlak.
Ini adalah contoh generalisasi dan perluasan temporal yang tidak tepat. Jika kita membentang terlalu jauh sesuatu yang memiliki kepentingan yang terbatas dan hanya merupakan langkah pertama saja, dan menjadikannya sebagai cita-cita dan mencoba mempertahankannya secara demikian sepanjang masa, berarti kita telah melakukan sesuatu yang amat keliru. Orang yang mengubah suatu pandangan yang terbatas menjadi pandangan yang mutlak untuk sepanjang zaman, adalah seperti seorang yang melihat kepada cakrawala yang tak terbatas dengan matanya, dan meskipun daya penglihatannya tidak mengizinkannya untuk melihat melampaui jarak yang terbatas, namun dia mengira bahwa dunia berujung pada titik terjauh yang dilihatnya, dan meyakini bahwa di titik itulah langit dan bumi benar-benar bertemu. Seseorang mungkin melihat fatamorgana di padang pasir dan mempercayai bahwa air bisa diperoleh pada jarak yang dekat, tetapi sesungguhnya pikiran yang keliru ini disebabkan karena ketidakmampuan matanya untuk membedakan dengan jelas bentangan-bentangan daratan tanah kering yang luas dari jarak yang jauh.
Sama halnya, disebabkan karena ketidakmampuan pikiran manusia dan keterbatasan daya pikirnya, seorang manusia yang dari jarak jauh sejarah manusia ingin menentukan arahnya, melihat cakrawala sejarah persis seperti dia melihat cakrawala geografis. Dia harus memperlakukannya seperti sebuah cakrawala, bukan sesuatu yang mutlak. Kita melihat cakrawala geografis pada jarak 20 atau 200 meter, tetapi kita tidak pernah mengatakan bahwa bumi berujung di sana. Kita hanya mengatakan bahwa di situlah cakrawala. Dalam hal cakrawala sejarah, manusia juga harus berpikir dalam batas-batas cakrawala dan tidak boleh menciptakan cita-cita yang tertinggi darinya. Jika tidak, maka dia akan menjadi seperti orang yang mengejar fatamorgana, bukannya air. Betapa indahnya Allah melukiskan perumpamaan ini!
“Dan orang-orang yang kafir itu, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. 24: 39).
Di tempat lain, Al-Quran membandingkan cita-cita buatan kaum musyrikin dengan sarang laba-laba. Ia mengatakan: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau saja mereka tahu.” (QS. 29: 41).
Jika kita membandingkan kedua jenis cita-cita ini, yang salah satunya diilhami oleh kondisi konkret yang ada, dan yang lain oleh aspirasi manusia yang terbatas mengenai masa depan, maka kita akan menemukan bahwa suatu cita-cita yang diilhami oleh kondisi kini yang ada pada umumnya hanyalah merupakan tahapan atau kelanjutan dari suatu cita-cita lain yang diilhami oleh aspirasi manusia tentang masa depan. Apabila seorang yang ambisius memilih dan mencapai suatu cita-cita yang rendah yang bisa dicapai dalam waktu singkat, maka cita-cita ini memperoleh bentuk sebuah cita-cita terbatas yang bergerak melingkar. Itulah sebabnya mengapa kita mengatakan sebelumnya, bahwa jika kita mengambil beberapa langkah ke belakang dari satu jenis sesembahan, maka jenis sesembahan lain akan tampak kepada kita. Posisinya dalam kaitan ini bisa diringkas sebagai berikut:
Pada awalnya, suatu komunitas memilih aspirasinya tentang masa depan sebagai cita-citanya. Dengan segera cita-cita ini mulai bergerak dalam sebuah lingkaran, dan sedikit demi sedikit ia mereduksi seluruh bangsa menjadi hanya sekadar bayang-bayang. Selama proses ini, bangsa yang bersangkutan melalui empat tahap yang dirinci sebagai berikut:
1. Tahap cita-cita aktif. Cita-cita berawal sebagai suatu aspirasi tentang masa depan. Al-Quran menggambarkan aktivitas cita-cita ini dan pelayanan yang mungkin diberikannya sebagai “cepat”. Manfaat yang timbul darinya adalah cepat, tetapi tidak bertahan lama. Cita-cita seperti itu berumur pendek, dan manfaat-manfaatnya hanya remeh saja. Dengan segera ia berubah menjadi suatu kekuatan yang menghancurkan semua yang telah dicapai. Itulah sebabnya mengapa cita-cita jenis ini digambarkan oleh Al-Quran sebagai cepat dan segera. Lihatlah apa yang dikatakan oleh Al-Quran:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu.” (QS. 17: 18-20).
Allah Yang Maha Suci adalah kebaikan yang mutlak, rahmat mutlak, dan eksistensi mutlak. Dia mencurahkan anugerah-Nya kepada manusia sesuai dengan kapasitas cita-cita yang dipilihnya. Allah juga menganugerahi orang yang memilih cita-cita yang rendah. Tetapi dalam hal ini anugerah-Nya berumur pendek, sebab di akhirat manusia seperti itu tidak akan beroleh apa-apa.
Pada awalnya, suatu cita-cita yang diilhami oleh kondisi yang ada, tampak kuat, unggul, dan kreatif. Selagi seluruh bangsa atau komunitas berperan serta dalam memilih dan melaksanakannya, maka ia menjadi kekuatan pengarah dan menghasilkan beberapa hasil positif. Tetapi dalam pandangan Al-Quran ―yang selalu mengemukakan perencanaan jangka panjang― hasil-hasil yang segera ini akan disusul oleh neraka dan hukuman. Di dunia ini, dan dunia yang akan datang, kecelakaan adalah nasib bagi mereka yang memilih cita-cita yang rendah. Tahap pertama ini bisa disebut tahap renovasi.
2. Tahap kedua datang manakala cita-cita ini menjadi beku dan kekutannya habis. Pada tahap ini, cita-cita tersebut berdiri tegak seperti patung. Para pemimpin yang membimbing bangsa berdasarkan cita- cita ini, tak lagi menjadi pemimpin dan menjadi obyek penghormatan. Kaum awam, alih-alih menjadi rekan mereka dalam pembangunan, mereka malah menjadi pelayan-pelayan mereka yang patuh. Ini adalah tahap yang telah digambarkan oleh Al-Quran sebagai kepatuhan terhadap para pemimpin dan tetua: “Dan mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).’” (QS. 33: 67).
3. Tahap ketiga datang, yang merupakan kelanjutan dari dua tahap sebelumnya. Pada tahap ini kekuatan menjadi terpusat di tangan satu kelompok atau kelas tertentu atas dasar kekeluargaan dan kedudukan kelas, dan dialihkan secara turun-temurun. Dalam situasi dan kondisi ini, muncul satu kelas yang tidak mempunyai tujuan dan nilai dalam kehidupan. Kelas ini selalu sibuk dengan kepentingan-kepentingan yang remeh. Al-Quran mengatakan: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. 43: 23).
Orang-orang seperri itu merupakan kelanjutan dari nenek moyang mereka yang membuat sejarah. Demikian pula orang-orang lain, akan menjadi kelanjutan historis mereka. Kedekatan historis mereka itu melampaui batas sebuah cita-cita, dan alih-alih menjadi kekuatan yang konstrtaktif, ia justru memuncak dalam terwujudnya suatu kelas berkehidupan mewah yang turun-temurun.
Ini adalah tahap ketiga dari pemilihan cita-cita yang rendah. Selagi kaitan cita-cita ini pada akhirnya terputus dari bangsa yang bersangkutan, maka mereka pun memasuki tahap keempat.
4. Tahap keempat ini adalah tahap yang paling berbahaya, sebab pada tahap ini para tiran dan unsur-unsur yang keji berhasil memegang kendali atas urusan-urusan bangsa. Mereka tidak menetapi sesuatu perjanjian ataupun usaha yang mereka buat. Dalam hal ini Al-Quran mengatakan: “Dan demikianlah, Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (QS. 6: 23).
Dalam situasi dan kondisi seperti itu, sekelompok penjahat memegang kekuasaan, seperti Hitler dengan Nazinya, yang menundukkan satu bagian yang penting dari wilayah Eropa dan mencoba menghancurkan semua hasil kebudayaan, industri, dan ilmu pengetahuan Eropa, dengan tujuan memusnahkan cita-cita yang telah dibangkitkan oleh manusia Eropa modern dengan tangannya sendiri hingga pada taraf di mana ia mulai bergerak dalam lingkaran, dan sebagai konsekuensinya, sebagian besar darinya menjadi rusak dan membusuk. Bagaimanapun, sebagian dari capaian-capaiannya tetap ada dalam masyarakat Eropa, ketika Hitler muncul dan mencoba memusnahkannya sama sekali. Sekarang, tiba waktunya untuk menyebutkan jenis cita-cita yang ketiga.

3. Satu-satunya cita-cita dari jenis ketiga adalah Allah. Dalam hal cita-cita ini, kontradiksi yang kita sebutkan sebelumnya, dengan mudah diselesaikan. Inti dari kontradiksi tersebut adalah: sesuatu yang ada dalam pikiran manusia adalah terbatas, sedangkan suatu cita-cita tidak boleh bersifat terbatas; lalu, bagaimana kita bisa sampai pada sesuatu yang tak terbatas melalui sesuatu yang terbatas? Dalam hal cita-cita ini, yakni Allah, kontradiksi ini tidaklah ada, sebab cita-cita ini bukanlah produk pemikiran manusia. Allah bukanlah sebuah gagasan mental yang diambil oleh pemikiran manusia dari sejumlah gagasan. Dia mempunyai eksistensi yang konkret. Dia adalah Wujud Mutlak yang benar-benar ada. Dia Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Adil.
Wujud yang benar-benar ada ini cocok menjadi sebuah cita-cita karena Dia bersifat mutlak. Namun ada satu hal yang harus dicatat. Apabila manusia ingin memperoleh sesuatu cahaya dari Sumber Cahaya yang tak terbatas ini, jelas bahwa dia hanya bisa memperolehnya dalam jumlah yang terbatas dan terukur. Apa pun yang diperolehnya, memiliki batas-batas yang pasti, sedangkan cita-cita mutlak tidak memiliki batas-batas seperti itu. Dia tidak bisa ditangkap dengan pancaindera, ataupun dibayangkan. Namun cahaya yang diperoleh manusia dari-Nya, secara pasti adalah terbatas pada batas-batas yang pasti, meskipun cita-cita sejati tidak terbatas pada batas apa pun.
Itulah sebabnya mengapa Islam bersikeras agar manusia selalu membedakan Allah ―yakni cita-cita yang sejati― dari semua yang ada dalam pemikirannya. Orang harus membuat perbedaan bahkan antara Allah dengan Nama-nama-Nya yang suci. Islam menekankan bahwa Nama-nama Allah tidak boleh disembah. Hanya Dzat yang memiliki nama itulah yang mesti disembah, sebab nama hanya memiliki eksistensi mental saja. Hubungannya dengan Allah hanya bersifat mental. Oleh karena itu, Dzat yang memiliki nama itulah yang harus disembah, bukan nama-Nya, sebab sementara si pemilik nama bersifat mutlak, nama itu sendiri bersifat terbatas seperti halnya semua gagasan mental. Allah adalah Dzat yang Berdiri Sendiri dan tidak bergantung pada sesuatu apa pun. Dia Maha Suci dari memiliki sifat tertentu apa pun yang bisa dikenakan kepada makhluk.
Adapun perincian cita-cita yang ketiga ini akan kami tuangkan pada artikel tersendiri.
Sejarah Dalam Perspektif Al-Qur'an; Penerjemah : M.S Nasrulloh; Penerbit Pustaka Hidayah, Jakarta; Shafar 1414 Agustus 1993H.; Hal. 123 – 143.


1. Disebabkan oleh keterbatasan yang ada pada waktu kuliah-kuliah ini diberikan, maka al- marhum Ayatullah Ash-Shadr hanya menyebutkan nama Reza Khan dan Kemal Attaturk saja sebagai contoh para pemimpin yang meminjam ideologi asing. Di samping keduanya, ada beberapa negeri lain di kawasan Timur Tengah yang bahkan sekarang ini mencoba mengelola urusan-urusan mereka dengan ideologi impor dan memperkenalkan kebudayaan asing.
2. Gagasan dunia ketiga yang telah mencapai kematangan dengan munculnya Revolusi Islam, adalah pilihan kemungkinan ketiga, yang sekarang ini telah menjadi gerakan kaum mustadh’afin di bawah kepemimpinan Imam Khumaini. Sayangnya, Ayatullah Ash-Shadr tidak berada dalam posisi yang memungkinkan untuk mengatakan hal itu dangan terang-terangan.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
10+2 =