Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |

|

KEHIDUPAN SPIRITUAL DI DALAM ISLAM


Sayid Husain Nasr
(filsuf terkenal Iran dan dosen di berbagai universitas Amerika)

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Fungsi agama adalah mengatur kehidupan manusia dan menegakkan harmonitas lahiriah yang atas dasar itu manusia secara batiniah dapat kembali ke sumber kebangkitannya melalui perjalanan internal. Inilah fungsi global agama, khususnya agama Islam. Islam, dalam kapasitasnya sebagai agama terakhir bagi manusia, adalah firman Ilahi untuk menegakan keteraturan masyarakat di dalam kerangka jiwa manusia, dan pada saat yang sama mendatangkan sebuah kehidupan batiniah dia. Hal ini berlangsung demi mempersiapkan seseorang untuk pulang kepada Tuhan dan masuk ke surga yang tiada lain adalah kebahagiaan abadi. Tuhan adalah Awal sekaligus Akhir, dan Lahir sekaligus Batin.
Fungsi lahiriah agama adalah menciptakan dunia yang berbeda dan tersendiri, sedangkan fungsi batiniahnya adalah mengembalikan manusia kepada sumber kebangkitannya yang pertama. Agama merupakan sarana yang karenanya perjalanan jadi bisa ditempuh, dan hal ini terpatri di dalam struktur penciptaan; yaitu, segala sesuatu dari Tuhan dan kepada-Nya berpulang. Agama tersusun dari dimensi lahiriah dan dimensi yang atas dasar itu lahir akan berakhir pada batin. Dimensi-dimensi penjelmaan Islam ini juga disebut dengan syariat, tarikat dan hakikat; atau dari sudut pandang yang lain, dimensi-dimensi ini mengacu kepada keislaman, keimanan dan keihsanan, atau dengan kata yang lain lagi adalah kepasrahan, kepercayaan dan keutamaan.
Meskipun seluruh jelmaan Al-Qur’an disebut dengan Islam, tapi dari perspektif yang diajukan dalam artikel ini dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mengikuti tradisi –atau sunnah umum- pada tingkat keislaman patut dikatakan sebagai orang muslim, adapun orang yang mempunyai keimanan, begitu pula mereka yang berada di tingkat keihsanan bisa menggapai makna batiniah agama. Wahyu islami adalah sarana bagi semua orang untuk mengikuti tradisi-tradisi ini. Namun, tidak semua orang mampu mengikuti jalur batiniahnya. Bagi siapa saja, cukup dia hidup berdasarkan undang-undang syariat dan kepasrahan terhadap kehendak Ilahi untuk dapat meninggal dunia secara baik dan masuk ke dalam surga. Akan tetapi, ada juga orang-orang yang di dunia ini mengejar Tuhan, kerinduan mereka terhadap Tuhan dan kecenderungan mereka untuk merenungkan hakikat-hakikat Ilahiah mendorong mereka kepada pencarian jalur batiniah. Wahyu juga membuka jalan untuk orang-orang seperti ini. Orang-orang yang sementara masih berjalan di atas muka bumi, tapi melalui keimanan dan keihsanan mereka kembali kepada Tuhan dalam keadaan rela dan diridhoi. Penjelmaan implisit kehendak Ilahi adalah syariat itu sendiri yang merupakan dimensi lahiriah dari kehendak tersebut, hal ini berkapasitas sebagai bimbingan untuk kehidupan lahiriah semua manusia, begitu pula jiwa dan raga mereka. Menurut Islam Ahlisunnah, kira-kira dimensi ini secara utuh berhubungan dengan tasawuf. Padahal menurut Islam Syi’ah, selain tasawuf, persoalan-persoalan lahiriah dan persoalan-persoalan batiniah bersatu padu di dalam kerangka bangunan universal ajaran-ajaran dan praktik-praktik agamis.
Menurut mazhab Ahlisunnah, ada kawasan penengah antara persoalan-persoalan lahiriah dan persoalan-persoalan batiniah, yaitu dunia praktik-praktik dan ajaran-ajaran agamis yang rumit dan mencerminkan ajaran-ajaran batiniah sufi di ruang lingkup semua masyarakat. Pada hakikatnya, di dunia Ahlisunnah, kebanyakan buku-buku doanya, seperti Dalâ’il Al-Khoirôt, mempunyai kedudukan seperti ini. Sedangkan di dunia Syi’ah, kira-kira semua doa-doanya, seperti Al-Shohîfah Al-Sajjâdiyah Imam Ali Zainul Abidin as., memiliki dua keriteria batiniah dan lahiriah secara sekaligus. Contohnya bisa disaksikan di dalam mayoritas hadis-hadis para imam suci yang termuat di dalam buku-buku irfan, bahkan sebagian karya irfan dan doa-doa para imam yang mempengaruhinya. Contoh yang cocok sekali untuk diutarakan di sini adalah doa-doa Khajeh Abdullah Anshari, seorang bertakwa yang munajat-munajatnya merupakan cita-cita hati yang paling dalam, tidak terbatas dan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, tapi pada saat yang sama doa-doa itu pula yang biasa diucapkan oleh kebanyakan anggota masyarakat yang bertakwa. Oleh karena itu, semua orang bisa menggunakannya, karena pola dan kriterianya adalah batiniah sekaligus lahiriah.
Dimensi batin jika dibandingkan dengan dimensi lahir adalah bersifat batiniah, sedangkan dimensi lahir merupakan asas dan titik tolak perjalanan batiniah; oleh karena itu, pengalaman ketuhanan dalam kapasitasnya sebagai bagian yang akan terjadi dalam waktu dekat, tergantung pada kesadaran akan ketuhanan yang menjulang. Tidak ada seorang pun yang bisa mendekat pada bagian itu tanpa memasrahkan dirinya kepada Tuhan Maha Haq, dan ini hanya mungkin terjadi di bawah naungan iman kepada-Nya, sehingga manusia mampu mencoba kejadian-kejadian yang akan terjadi dalam waktu dekat tersebut. Dengan kata yang lain, hanya di bawah naungan penerimaan syariat, manusia dapat menempuh jalan sampai kepada hakikat. Yaitu hakikat yang terpatri di dalam kalbu segala sesuatu di atas seluruh dimensi dan keterbatasan.
Untuk menspiritualkan kehidupan dan menyadari dimensi kebatinannya, manusia harus meminta bantuan pada praktik-praktik agamis yang esensinya adalah memainkan sebuah bentuk yang suci di atas ombak-ombak samudera keberagaman dalam rangka menyelamatkan manusia dan memulangkannya sampai ke tepi kesatuan. Praktik-praktik dan rukun-rukun Islam, seperti shalat-shalat harian, puasa, zakat, dan jihad adalah sarana untuk mensucikan kehidupan duniawi manusia, dan membuat dia mampu untuk hidup dalam kapasitasnya sebagai makhluk Tuhan. Namun, praktik-praktik ini tidak terkungkung pada bentuk luarnya saja, melainkan juga meliputi aneka dimensi dan tingkatan batiniah yang akan dicapai oleh manusia sesuai dengan kapasitas imannya masing-masing, dan dengan itu dia bisa meningkatkan kualitas keutamaan dan keihsanannya.
Shalat-shalat harian adalah praktik Islam yang paling fundamental. Shalat didirikan setelah wudhu’ dan adzan yang dua-duanya mengandung simbol-simbol agama yang dalam. Bentuk pelaksanaan shalat harian secara langsung dipelajari dari sunnah Nabi Muhammad saw., dan shalat harian ini termasuk amalan agamis yang paling penting, karena beliau bersabda, “Di hari kebangkitan, hal pertama yang ditanyakan dari manusia adalah shalatnya, jika shalat dia tanpa cacat maka berbahagialah, adapun jika tidak maka dia tidak mencapai kebahagiaan.” Shalat mengesahkan keberadaan sehari-hari manusia, mendefinisikan irama tertentu bagi kehidupannya, dan memberikan perlindungan kepadanya atas badai kehidupan, sehingga praktis dia terjaga dari dosa-dosa. Pelaksanaan shalat adalah bagian dari praktik wajib, pengaruhnya terhadap masyarakat Islam dan diri tiap-tiap orang muslim adalah di atas kemampuan bahasa untuk mengungkapkannya. Makna shalat tidak bisa dicecap hanya melalui kajian atas format lahiriah dan pengaruhnya terhadap masyarakat Islam, meskipun kajian itu dilakukan pada tingkat yang tertinggi. Manusia, melalui tingkat keihsanan dan juga berkat-berkat yang terdapat di dalam bentuk-bentuk spiritual shalat, bisa melintas dari bentuk lahiriahnya sampai kepada makna batiniahnya. Nabi Muhammad saw., di bawah naungan kalimat dan gerak-geriknya yang sekaligus cerminan kondisi dalam diri beliau, telah menggapai makna penghambaan dan kedekatan yang sesungguhnya, dan makna ini disebut dengan perjalanan internal Nabi saw. menuju ketuhanan, alias Mi’raj. Pada saat yang sama, Mi’raj adalah hakikat batiniah shalat dan hakikat spiritual Islam.
Daripada segala sesuatu yang lain, kehidupan spiritual di dalam Islam lebih berasaskan pada kekuatan shalat, doa dan berkah-berkah yang dihasilkan oleh berbagai pendiri shalat yang menunaikannya dengan bahasa suci arab. Shalat, dalam kapasitasnya merupakan kulit spiritual yang menjaga manusia dari dunia lahiriah dan membimbingnya kepada kesatuan serta batin, kemudian menyatukannya dengan pusat hati dan irama yang ditentukan oleh kehidupan. Proses pembatinan ini juga berlaku pada praktik-praktik dan rukun-rukun Islam yang lain.
Puasa hukumnya wajib bagi semua orang muslim yang mampu menunaikannya pada bulan suci Ramadan. Menurut berbagai hadis, pintu-pintu surga terbuka lebar bagi orang-orang muslim pada bulan Ramadan yang penuh berkah. Namun, memperhatikan undang-undangnya adalah persoalan tersendiri, dan realisasi maknanya secara sempurna adalah persoalan yang lain. Puasa bukan berarti hanya menghindari makan dan minum sepanjang hari, melainkan hal yang lebih penting dari itu adalah menciptakan tujuan yang mandiri dari keberadaan manusia di dunia lahiriah dan ketergantungan dia kepada hakikat spiritual yang terdapat di dalam dirinya. Oleh karena itu, puasa pada saat yang sama berarti juga penyucian dan pembatinan shalat. Pada hakikatnya, puasa adalah satu bentuk shalat itu sendiri.
Hakikat makna ini juga berlaku pada praktik-praktik Islam yang lain. Haji, menurut makna lahiriahnya adalah perjalan ke rumah Tuhan di Mekah, akan tetapi makna batiniahnya adalah tawaf sekeliling Ka’bah Hati yang juga merupakan rumah Tuhan. Di samping itu, haji lahiriah adalah sarana dan landasan untuk perjalanan internal manusia menuju sumber kebangkitannya yang ada sekaligus tidak ada di mana-mana.
Zakat atau pajak islami juga demikian. Zakat bukan saja membersihkan harta manusia melalui bantuan kepada orang-orang yang tak punya, melainkan juga berkapasitas sebagai pemberian dan realisasi sebuah hakikat yang termasuk sifat-sifat Tuhan. Hal ini tidak dilakukan atas dasar cinta sesama manusia yang sensasional, melainkan manusia ketika berzakat, dia memandang tetangga seperti dirinya sendiri. Oleh karena itu, di samping maknanya yang memelihara keseimbangan masyarakat, zakat adalah jalan yang dengan bantuannya manusia dapat mensucikan diri dan membatinkan persoalan ini sekaligus menciptakan kesadaran akan esensi batiniah dia dalam rangka melepas ketergantungan-ketergantungan materialisnya.
Jihad juga bukan cuma berarti pertahanan atau perluasan teritorial Islam yang terjadi pada periode-periode tertentu dari sejarah Islam; Jihad adalah perang internal yang abadi melawan semua hal yang menjauhkan manusia dari hakikat dan menyingkirkan ketenangan dalam dirinya. Rasulullah saw. menyebut jihad akbar ini dengan makna perang batiniah. Memang harus terjadi jihad akbar supaya jalan menuju batin terbuka. Manusia tanpa jihad akbar akan tetap jauh dari batin dan tidak bisa meraih mutiara-mutiara berharga yang ada di dalam khazanah hatinya. Ketika jihad juga seperti shalat, puasa, haji, dan zakat, yaitu sama-sama termasuk rukun Islam dan pondasi masyarakat Islam, maka dia bisa dihitung sebagai sarana untuk meraih khazanah batin dan alat yang diperlukan untuk melacak kehidupan batiniah di dalam bentuknya yang islami.
Pengetahuan tentang kehidupan spiritual di dalam Islam tidak akan sempurna tanpa menyinggung pengaruh keindahan Ilahi di dalam seni dan alam. Meskipun seni islami berhubungan dengan dunia bentuk dan murni sebagaimana layaknya seni yang suci, akan tetapi dia merupakan gerbang menuju kehidupan spiritual. Pada dasarnya, Islam berdiri tegak di atas kecerdasan dan kecerdikan, dan dia memandang keindahan sebagai bagian penyempurna yang urgen bagi jelmaan-jelmaan hakikat.
Keindahan adalah dimensi batiniah kebaikan yang akan berujung kepada hakikaat yang merupakan sumber keindahan dan kebaikan. Sungguh bukanlah kebetulan bahwa kata-kata baik moral, keutamaan, dan keindahan diungkapkan dengan kata husn atau hasan. Seni islami –terlepas dari sisi kebetulan dan kehidupan spiritual Islam- adalah urgen dalam menjelaskan spiritualitas islami dan gerbang menuju dunia batin. Dari ayat-ayat ritmikal yang dia sendiri merupakan manivestasi terpenting sekaligus terindah dari seni yang suci, sampai dengan lukisan tangan dan arsitektur bangunan yang menjadi jelmaan seni suci Islam, keindahan senantiasa memainkan peran penting di dalam membatiniahkan kehidupan manusia. Pernyataan ini juga bisa digunakan dalam musik tradisional, penyimakan dan puisi yang diderivasi dari irfan; maka dari itu, bisa juga disebut sebagai hal-hal yang mendekatkan manusia kepada Tuhan.
Alam dan fenomena-fenomena besarnya, seperti terbitnya matahari dan bulan, perputaran musim-musim, gunung-gunung dan badai adalah mencerminkan kedalaman dimensi-dimensi Islam bagi siapa saja yang merenungkan hakikat-hakikat spiritual. Contoh-contoh itu adalah tanda-tanda Tuhan; dan meskipun semuanya terbentuk dalam dunia lahiriah, akan tetapi mereka berkapasitas sebagai cermin hakikat tertentu yang pada saat yang sama bersifat batiniah dan menjulang. Alam tidak terpisah dari husn, melainkan dia adalah bagian dari manivestasi qur’ani. Sebetulnya, di dalam sumber-sumber islami, alam disebut dengan “penjelmaan eksternal”. Alam yang segar adalah tanda keberadaan Tuhan. Semua naturalis, rasionalis, skeptisis, dan orang-orang yang pura-pura bodoh sekaligus bermulut besar –yang mana dunia modern merasa tersiksa dengan keberadaan mereka yang seperti penyakit- menyerap pengaruh dari alam.
Hanya di dalam kejelekan yang dibuat-buat oleh ruang-ruang kota modern penyakit-penyakit nalar dan jiwa seperti ini betul-betul tampak secara tidak nyata, sedangkan semua orang mengiranya nyata. Filsuf-filsuf skeptis modern adalah hasil dari kehidupan di pusat kota-kota, bukan orang-orang yang lahir dan hidup di alam dengan kesadaran akan “penjelmaan eksternal” Tuhan. Di dalam spiritualitas Islam, alam ibarat sarana penting, dan di beberapa tempat berperan sebagai sarana yang urgen dalam berpikir dan terhitung membantu sekali untuk sampai kepada batin.
Tujuan dari kehidupan spiritual di dalam Islam adalah sampai kepada Tuhan Yang Mahatinggi dan memperoleh pandangan Tuhan sebagai hakikat di balik semua kehendak. Kehidupan spiritual di dalam Islam berarti menyaksikan Tuhan di mana saja. Dimensi batiniah adalah kunci pengetahuan tentang metafisika dan pandangan dunia tradisional, begitu pula pengetahuan tentang makna sejati agama –Islam- dan seluruh agama lainnya; karena, di dalam kalbu setiap agama yang autentik terdapat hakikat yang ada pada segala sesuatu dan semua manusia. Tentunya, mungkin saja secara lahiriah dan bentuk mereka saling berbeda. Menurut agama Kristen, pribadi Almasihlah yang menyingkirkan lahir dan kemunafikan, sedangkan menurut agama Islam, hal ini dilakukan oleh Allah swt. dengan mengajarkan kalimat Lâ ilâha illallôh. Pelaksanaan kalimat ini berarti keselamatan dari pengaruh-pengaruh lemah lahir dan kepulangan pada sumber kebangkitan melalui jalur dimensi batin.
Tidak bisa semua orang menempuh kehidupan spiritual. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, kehidupan atas dasar undang-undang syariat sudah cukup bagi orang-orang muslim untuk masuk surga setelah meninggal dunia dan kemudian melanjutkan perjalanan batiniah setelah menempuh perjalanan muka bumi. Adapun bagi mereka yang sedang berjalan di bumi, akan tetapi mereka mencari sumber Ilahi, begitu pula mereka yang sudah meninggal dunia dan kembali lagi ke dunia ini, sekarang pun dan di sini juga jalan kehidupan spiritual telah terbuka bagi mereka.
Tidak ada satu pun agama yang sempurna tanpa menyodorkan jalan pengecualian bagi para pengikutnya. Islam, dalam kapasitasnya sebagai agama terakhir sekaligus paling sempurna yang diturunkan Tuhan untuk manusia, telah memudahkan jalan kehidupan spiritual bagi para pemeluknya, yaitu kehidupan yang meskipun hanya sedikit orang yang menggapainya, akan tetapi cahaya dan aroma harumnya menyebar ke seluruh jelmaan hakikat tradisi Islam.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+8 =