Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Kenapa ayat فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ selalu diulang-ulang di dalam surat ar-Rahman?


JAWABAN:

Allah swt. menerangkan aneka nikmat-Nya di dalam surat ar-Rahman; baik nikmat materi maupun nikmat non materi, lalu Dia menyeru makhluk jin dan manusia: Manakah nikmat Tuhan yang kalian dustakan?! Ini adalah pertanyaan yang bersifat memastikan dan menuntut sebuah pengakuan. [1] Itulah sebabnya sebagian riwayat menganjurkan kita setelah membaca ayat ini untuk menyatakan: Tuhan! Tidak ada satupun dari nikmat-Mu yang aku dustakan

لَا بِشَيئٍ مِن آلَائِکَ رَبِّ اُکَذِّبُ.

Pemikiran yang dalam dan perenungan atas nikmat-nikmat Ilahi dengan segenap rahasia dan ketelitian yang terpatri di tiap-tiap nikmat itu akan membangkitkan rasa syukur manusia dan mengajaknya untuk lebih mengenali sumber nikmat-nikmat tersebut. Karena itu Allah swt. menuntut pengakuan dari hamba-hamba-Nya.
Pengulangan ayat ini bukan saja tidak bertentangan dengan kefasihan dan keelokan al-Qur'an, bahkan sebaliknya, pengulangan itu masuk kategori teknik puncak kefasihan. Persis seperti seorang bapak menyeru anaknya yang pelupa: Apakah kamu lupa kalau dulu kamu adalah bocah kecil yang tak berdaya dan betapa banyak pengorbanan yang kulakukan untuk mendidikmu?! Apakah kamu lupa ketika kamu sampai pada usia dewasa dan membutuhkan isteri lalu aku pilihkan isteri yang suci untukmu?! Apakah kamu lupa ketika kamu memerlukan rumah dan fasilitas hidup lalu aku sediakan semua itu untukmu?! Lantas kenapa kamu membangkang dan kurang ajar kepadaku?!
Di dalam surat ar-Rahman, Allah swt. mengingatkan aneka nikmat-Nya kepada manusia dan setiap kali sampai pada sekelompok nikmat Dia mempertnggungjawabkan sikap manusia tersebut: Manakah nikmat Tuhan yang kalian dustakan?! Lalu kenapa kalian membangkang dan kurang ajar kepada-Ku?! Padahal kepatuhan terhadap-Ku adalah kunci kesempurnaan dan kemajuan kalian sendiri dan sama sekali tidak ada keuntungan bagi-Ku. [2]
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Perinciannya Anda bisa baca dalam buku Talkhish al-Tamhid karya Muhammad Hadi Makrifat, jilid 2, halaman 240, Muassasah Nasyre Islomi.
2. Untuk lebih rinci silahkan Anda baca buku Tafsir al-Amtsal karya Nasir Makarim Syirazi.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
3+4 =