Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Kenapa hadis-hadis menekankan pembacaan al-Qur’an berbahasa Arab dan menilai penglihatan padanya sebagai ibadah sementara al-Qur’an terjemahan Indonesia tidak mempunyai keistimewaan tersebut?


Jawaban:

Ada banyak hal yang melandasi keistimewaan itu, di antaranya adalah:

1. Pengadaan satu bahasa untuk semua pengikutnya, dan pada hakikatnya penyatuan bahasa antar pengikut merupakan langkah awal untuk menciptakan persatuan antar bangsa beragama, itulah salah satu yang melandasi penekanan terhadap pembacaan al-Qur’an berbahasa arab dan penghafalannya.

2. Ruh dan makna setiap pesan atau perkataan yang menggunakan bahasa tertentu dapat dimengerti lebih dalam melalui bahasa itu sendiri daripada setelah diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang lain, dan al-Qur’an yang mengandung makna sangat tinggi dan mulia tidak akan pernah bisa diterjemahkan secara teliti dan sempurna ke bahasa apa saja. Biasanya, terjemahan-terjemahan al-Qur’an tidak begitu fasih dan bahkan mengalami kesalahan pada kasus-kasus tertentu. Cukup kiranya untuk mengetahui hal itu seseorang sedikit mempelajari kajian-kajian yang berhubungan dengan linguistik, teknik penerjemahan dan teori-teorinya serta pada khususnya bedah terjemahan-terjemahan al-Qur’an, dengan demikian dia akan mengerti secara jelas perbedaan antara al-Qur’an dan terjemahan-terjemahannya seperti perbedaan antara kitab suci Tuhan dan karya-karya tulis manusia biasa.

3. Al-Qur’an selain mengandung makna juga mempunyai kelembutan tersendiri dalam hal keindahan dan menunjukkan nilai-nilai sastra yang sangat menakjubkan sehingga terhitung salah satu aspek kemukjizatan al-Qur’an, dan tentunya kelembutan, keindahan, ketelitian, kejelasan, kefasihan, dan nilai-nilai sastra itu tidak mungkin diungkapkan dalam terjemahan-terjemahan. [1] Maka dari itu tantangan al-Qur’an yang membuktikan ketidakberdayaan semua makhluk untuk membuat teks padanan al-Qur’an mencakup keistimewaan-keistimewaan diksi sekaligus makna-maknanya yang menjulang. [2]

4. Persuasi dan penekanan untuk menggunakan kata-kata yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. adalah salah satu metode penjagaan al-Qur’an dari distorsi dan perubahan, ketika sebuah topik sudah terbukti dan jelas bagi semua orang melalui satu bacaan maka distorsi dan aksi perubahan jadi kasat mata, karena itu di dalam sejarah Islam dinukil kejadian-kejadian yang menunjukkan bagaimana sensitifnya umat Islam terhadap perubahan atau pemutarbalikan al-Qur’an di antaranya sensitivitas yang mereka tunjukkan saat satu huruf (و) berusaha dihapus dari ayat al-Qur’an.

5. Bahkan terjemahan Qur’an ke dalam bahasa Arab juga telah menimbulkan perselisihan di kalangan umat Islam sampai batas pengkafiran satu sama yang lain. Itulah sebabnya pada periode kekuasaan Ustman bin Affan (tahun 25 Hijriah) sahabat-sahabat nabi saw. – termasuk di antaranya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. – sepakat akan urgensitas adanya Qur’an resmi (bukan Qur’an terjemahan).

6. Terakhir, perlu diingat bahwa perbuatan yang berpahala banyak adalah tilawatul Qur’an atau memandang ayat-ayat Qur’an tapi dengan teliti dan perenungan.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Untuk penjelasan lebih lanjut Anda bisa melihat majalah berjudul Majallehe Bayyinat wa Majallehe Mutarjim (edisi khusus tentang al-Qur’an).
2. Mahmud Ramyar, Tarikhe Qur’on, hal. 649.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+8 =