Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah perbedaan antara syafaat dengan perantara dunia lainnya seperti nepotisme?


Jawaban:

Sebagai langkah awal, harus diketahui bahwa syafaat adalah pertolongan auliya Allah pada orang yang meskipun telah berbuat dosa namun hubungannnya dengan Allah dan auliya Allah tidak terputus. Syafaat para pemberi syafaat hakiki adalah untuk mereka yang ruhnya memiliki kekuatan untuk menuju kemuliaan dan kesucian. Oleh karena itu nur para pemberi syafaat tidak akan bersinar pada orang yang sama sekali tidak memiliki karakteristik positif apa pun. Syafaat para pemberi syafat adalah tergantung izin Allah dan izin Allah bukanlah sesuatu yang sia-sia dan tidak berhikmah. Syafaat akan merengkuh mereka yang memang pantas untuk dimaafkan dan diampuni kesalahannya. Seandainya pun mereka melakukan kesalahan dalam hidupnya, tapi mereka belum sampai pada tahap penghianatan dan penentangan.[1]
Oleh karena itu syafaat yang ada di kalangan manusia seperti nepotisme memiliki perbedaan yang banyak dengan syafaat yang dimaksud oleh islam. Diantaranya:

1. Dalam perantara duniawi, pendosa sendiri yang memilih penyelamatnya(pemberi syafaat) agar penyelamat menghubungi si fulan, sang kepala bagian sehingga dengan pengaruh yang dimilikinya di dalam instansi sang kepala bagian akan memaksa agar hukuman si pendosa dikurangi dan pelaksanaan hukuman bisa dibatalkan. Dalam syafaat Islam, urusan adalah di tangan Tuhan dan Dia lah yang memilih para pemberi syafaat. Karena kemuliaan dan kedudukan pemberi syafaat, Allah memberikan hak syafaat kepada pemberi syafaat dan melalui merekalah rahmat dan ampunan Allah meliputi hamba-hamba-Nya.

2. Jika pada hari kiamat, sebagaimana di duna dan tanpa memperhatikan kondisi apa pun yang dimiliki pendosa, ia dapat memilih sendiri pemberi syafaat dan berbekal kedudukannya di sisi Allah, pemberi syafaat memintakan ampunan dari Allah untuknya, maka hal ini akan sama saja dengan ketidakadilan dan sistem nepotisme. Sedang kita semua mengetahui bahwa rububiyyah Allah maha suci dari hal semacam ini.[2]

3. Dalam syafaat, pemberi syafaat mampu memberikan asar berdasarkan maqam rububiyyah. Tetapi dalam sistem perantara bathil, yang memiliki kekuatan adalah ucapan pembela sedang pembela memberikan asar dengan perkataan yang tidak benar. Dengan kata lain, pembela urfi dan duniawi memaksa pemimpin atau hakim untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan iradah mereka. Tapi dalam syafaat ilahi, tidak sedikit pun ilmu dan iradah Allah berubah dan yang berubah adalah ma’lum (sesuatu yang jelas) dan murad (tujuan). Sebagai contoh, Allah mengetahui keadaan-keadaan apa yang saja yang akan dihadapi si fulan. Pada hari A misalnya, dikarenakan adanya kondisi dan sebab-sebab tertentu si fulan berada dalam suatu keadaan yang mana Allah menetapkan iradah tertentu tentang si fulan dalam keadaan itu.[3]

4. Inti asli syafaat dunia adalah diskriminasi dalam hukum. Karena pembela mempengaruhi penetapan hukum dan menundukkan pelaksana hukum atau kekuatan hukum dan hanya akan muncul ketika berhadapan dengan orang-orang yang lemah. Sedang dalam syafat akhirat, tidak akan ada yang mampu memaksakan keinginannya kepada Allah serta tidak akan ada yang mampu mencegah pelaksanaan hukum. Pada hakikatnya, syafaat adalah rahmat yang luas dan pemberian tanpa akhir dari Allah yang maha penyayang yang melaluinya Allah menyucikan orang-orang yang memang layak untuk disucikan. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak mendapat syafaat adalah orang-orang yang memang tidak memiliki kelayakan untuk mendapat pemberian dan rahmat Allah yang luas itu. Karena dalam aturan Allah tidak ada istilah diskriminasi.[4]

5. Syarat yang harus dimiliki orang yang mendapat syafaat:
a. Allah ridha kepadanya dan ia sendiri takut kepada Allah
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ [5]

b. Menyesal. Sebagai contoh, salah satu aspek mengimani Allah adalah mengakui keesaan-Nya, mengakui kenabian dan wilayah dan memiliki prilaku yang layak.
لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا [6]

c. Walaupun ia berbuat dosa tapi tidak melakukan kezaliman pada orang lain.
مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ [7]

d. Tidak menganggap ringan masalah shalat. Karena Imam Shadiq as bersabda: [8]ان شفاعتنا لا تنال مستخفا بالصلوه . Syafaat tidak memberikan semangat untuk berbuat dosa dan bukanlah lampu hijau untuk para pendosa. Juga bukanlah penyebab kemunduran dan nepotisme tetapi merupakan masalah penting dalam tarbiah yang memiliki efek yang membangun.

Beberapa efek syafaat yang membangun:

a. Menciptakan harapan
Sudah banyak disaksikan bahwa hawa nafsu yang menguasai manusia merupakan faktor penting yang membuat manusia melakukan dosa dan selanjutnya rasa penyesalan akan menguasai orang yang telah berbuat dosa. Rasa putus asa ini akan membuatnya lebih kotor dan semakin jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, harapan tentang syafaat auliya Allah sebagai salah satu faktor pencegah memberikan mereka kabar gembira bahwa jika mereka memperbaiki dirinya mungkin saja masa lalu mereka dapat ditebus melalui syafaat orang-orang yang baik dan suci.

b. Menciptakan hubungan dengan auliya Allah.
Barang siapa yang menginginkan syafaat tentu saja ia akan berusaha menciptakan hubungan ini dan melakukan pekerjaan yang menyebabkan keridhaan mereka serta tidak merobek hubungan cinta dan kasih sayang yang ada.

c. Berusaha untuk memperoleh syarat-syarat syafaat.
Tentu saja orang-orang yang mengharapkan syafaat akan mengubah pandangannya tentang amal yang telah dia lakukan di masa lalu dan menentukan rencana yang lebih baik untuk masa depan. Karena syafaat tidak akan terwujud tanpa disertai kondisi yang sesuai. Syafaat adalah satu bentuk pemberian rahmat yang pada satu sisi disebabkan adanya kondisi yang sesuai yang dimiliki oleh orang yang diberi syafaat dan pada sisi lain dikarenakan kehormatan dan kemulian serta amal shaleh sang pemberi syafaat.[9]
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Mansyur-e Jawid, jilid 8, hal. 259.
2. Idem, jilid 8, hal. 115-116.
3. Tafsir Mizan, jilid 1, keterangan ayat 48 surah Baqarah.
4. Mansyur-e Jawid, jilid 8, hal. 117.
5. Anbiya : 28
6. Maryam : 87
7. Ghafir: 18.
8. Biharul Anwar, jilid 11, halaman 105 dan jilid 47, hal. 8, bab 1.
9. Untuk informasi lebih lengkap, silahkan rujuk: Payam-e Imam, Nasir Makarim Syirazi dkk, Qom, Madrasah Imam Amirul Mukminin, 1370, cetakan I, jilid 6, 505-544; Mansyur-e Jawid, Ja’far Subhani, Qom, Darul Qur’anul Karim, 1369, cetakan I, jilid 8; Ayin-e Wahabiyat, Ja’far Subhani, Qom, Daftar Instisyarat Islami, 1373, cetakan VI, hal. 258-261.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+2 =