Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah Islam memperbolehkan kita untuk membangun kubah dan semacamnya di atas kuburan? [1]


Menurut Wahabisme, hukumnya tiga perbuatan mendirikan bangunan di atas kuburan, mengapur kuburan dan membangun kubah di atas kuburan adalah haram, sebaliknya wajib bagi setiap orang untuk menghancurkan bangunan kuburan dan sekitarnya serta kubah yang dipasang di atasnya. Berikut ini beberapa kutipan dari mufti-mufti mereka:
1. Shan’ani berkata: “Sesungguhnya bangunan kuburan sama halnya dengan arca dan berhala, apa yang diperbuat oleh masyarakat Jahiliyah terhadap apa yang mereka sebut dengan arca dan berhala sekarang dilakukan oleh quburiyun (penganut-penganut kuburan) terhadap apa yang mereka sebut sebagai wali, kuburan atau masyhad, dan jelas penyebutan itu tidak mengecualikannya dari nama arca dan berhala”. [2]
2. Ibnu Qayyim (murid Ibnu Taimiyah) menyebutkan: “Wajib hukumnya menghancurkan masyhad-masyhad yang di bangun di atas kuburan-kuburan yang sudah menjadi berhala dan thoghut yang disembah selain Allah swt., dan dilarang untuk membiarkannya begitu saja walaupun sehari apabila ada kemampuan untuk menghancurkannya, karena sesungguhnya hal itu sama dengan Latta dan Uzza atau bahkan merupakan kesyirikan yang lebih besar daripada menyembah Latta dan Uzza”. [3]
3. Kelompok Wahabi menjelaskan dalam kitab mereka kepada Syekhur Rakb al-Maghribi bahwa: “Sesungguhnya apa yang sedang terjadi berupa pengagungan terhadap kuburan-kuburan para nabi dan lain sebagainya dengan cara membangun kubah di atasnya atau dengan cara-cara yang lain adalah tergolong kejadian-kejadian yang pernah diberitakan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya: “Hari Kiamat tidak akan datang sampai orang yang hidup dari kalangan umatku bergabung bersama orang-orang musyrik dan sampai sekelompok dari umatku menyembah berhala-berhala”. [4]
4. Qadhi dari para qadhi mereka yaitu Abdullah bin Sulaiman bin Bulaihad menyebutkan di dalam korang Ummul Quro tahun 1345 hq.: “Kita tidak pernah mendengar hal itu di abad-abad terbaik, sesungguhnya bid’ah ini terjadi di sana bahkan setelah lima abad”. [5]
5. Dalam jawaban yang disandarkan pada ulama Madinah disebutkan bahwa: “Sehubungan dengan pembangunan di atas kuburan maka secara ijma’ hal itu hukumnya terlarang, karena terdapat hadis-hadis sahih yang melarang perbuatan tersebut, itulah sebabnya banyak sekali ulama’ yang mewajibkan penghancuran bangunan itu, mereka bersandar pada hadis Ali yang berkata kepada Abul Hiyaj: “Sudikah kuutus dirimu untuk misi yang aku diutus oleh Rasulullah sw. untuknya, yaitu hendaknya engkau tidak membiarkan berhala kecuali setelah engkau musnahkan, dan hendaknya engkau tidak membiarkan kuburan yang dibangun kecuali telah engkau ratakan””.

KRITIK ATAS PEMIKIRAN

Klaim ijma’ mereka jelas tertolak, karena perbuatan-perbuatan itu (mendirikan bangunan di atas kuburan, mengapur kuburan, dan membangun kubah di atas kuburan) adalah boleh secara ijma’, mengingat bahwa perbuatan-perbuatan itu senantiasa dilakukan secara bersinambungan oleh umat Islam dari berbagai mazhab dan pada setiap masa, mulai dari yang alim sampai yang jahil, yang utama sampai yang biasa, yang memimpin sampai yang dipimpin, dan baik pria maupun wanita sebelum munculnya Wahabisme. Dan sejarah umat Islam merupakan ijma’ praktis, karena sejarah secara pasti menyingkap bahwa perbuatan itu diserap dari pembuat dan penyampai syari’at.
Kenyataan ini didukung pula oleh pengakuan Shan’ani terhadap sejarah itu –di dalam risalahnya Tathhirul I’tiqod– ketika dia menanyakan kepada dirinya sendiri: Bahwa masalah ini sudah menyebar luas di seluruh negeri yang meliputi bagian barat dan timur bumi sehingga tidak ada satu negeripun di dunia Islam yang tidak ada kuburan dan masyhadnya, bahkan mayoritas masjid-masjid umat Islam tidak lepas dari kuburan atau masyhad. Oleh karena itu akal orang yang berakal tidak bisa menampung bagaimana masalah ini merupakan hal yang mungkar dan sangat buruk akan tetapi ulama-ulama Islam yang menapakkan kakinya di seluruh penjuru dunia hanya berdiam diri?
Kemudian Shan’ani menjawab: Jika kamu ingin menghakimi secara obyektif dan meninggalkan taklid pada orang-orang terdahulu serta sadar bahwa sesuatu yang haq adalah yang didukung oleh dalil dan bukan yang disepakati oleh semua alam atau generasi ke generasi, maka ketahuilah sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu muncul dari masyarakat awam yang keislaman mereka tidak lain adalah taklid buta terhadap nenek moyang mereka, mereka tidak pernah mendengar seorang pun yang menunjukkan kekejian perbuatan mereka, melainkan kamu lihat bagaimana orang yang menamakan dirinya sebagai alim, tokoh, hakim, mufti, guru, wali, arif, pemimpin, dan pemerintah mengagungkan apa yang mereka agungkan dan memuliakan apa yang mereka muliakan, tapi jelas bahwa diamnya orang alam dan alim atas terjadinya suatu kemungkaran tidak bisa menjadi bukti atas pembolehan kemungkaran tersebut.

SEJENAK BERSAMA SHAN’ANI

Pertama: Teks ini merupakan pengakuan Shan’ani terhadap sejarah tersebut di atas secara sempurna, dia mengakui bahwa hal itu terjadi di seluruh lapisan masyarakat muslim, mulai dari masyarakat biasa, ulama, tokoh, hakim, mufti, guru, wali, arif, pemimpin, dan pemerintah tanpa ada satu pun dari mereka yang mengingkarinya, dan tidak ada satu lapisan masyarakat pun –sebagaimana pengakuan Shan’ani– yang keluar dari sejarah perbuatan ini, dengan demikian maka apa ada sejarah suatu perbuatan yang lebih kuat dan lebih luas daripada sejarah ini?!!
Kedua: Dia mengatakan “Sesungguhnya sesuatu yang haq adalah yang didukung oleh dalil”, kami katakan kepadanya sesungguhnya kesepakatan umat Islam dari generasi ke generasi adalah dalil yang pasti, dan tidak ada dalil yang lebih kuat dari ini.
Adapun argumentasi dia dengan kesahihan hadis tentang larangan itu, kami katakan bahwa ada beberapa catatan di sana:
1. Kesahihan sebuah hadis di mata mereka dan kejelasan arti sebuah hadis serta tidak adanya hadis yang berlawanan dengan itu menurut mereka sama sekali bukan berarti kesahihan dan kejelasan hadis itu pula bagi yang lain, lalu bagaimana mereka mengklaim adanya ijma’ dengan bersandar pada klaim kesahihan hadis tersebut?!!
2. Paradoksi nampak jelas dalam pembicaraannya, terkadang dia mengatakan: “Mayoritas ulama memfatwakan wajibnya penghancuran bangunan kuburan” dan terkadang dia mengatakan: “Hadis yang menunjukkan pengharaman –mendirikan bangunan di atas kuburan dan ... – adalah disepakati (ijma’) kesahihannya”. Maka jika memang benar bahwa hadis itu disepakati kesahihannya lalu kenapa tidak seluruh ulama yang memfatwakan wajib menghancurkan –bangunan kuburan, kubah dan ... –, melainkan hanya mayoritas saja –menurut klaim mereka– yang berfatwa demikian?!!
3. Kritik terhadap sanad (silsilah perawi) hadis dan juga terhadap redaksinya. Hadis itu selengkapnya adalah:
“Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb meriwayatkan, Yahya berkata: “Dia mengabarkan kepada kami”, dan dua orang lagi berkata: “Menyampaikan hadis kepada kami” Waki’, dari Sufyan, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Abu Wa’il, dari Abul Hayyaj al-Asadi berkata: Ali as. Berkata kepadaku:
ألا أبعثک علی ما بعثني علیه رسول الله (ص) لا تدع تمثالا الا طمسته و لا قبرا الا سویته. [6]

Adapun kritik sanad hadis ini adalah di sana terdapat orang yang dinyatakan lemah oleh ulama yang spesialis membidangi ilmu rijal.
Waki’ adalah Ibnu Jarrah ar-Rawasi. Berikut ini beberapa pernyataan ulama’ tentang dia:
1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku mendengar ayahku (Ahmad bin Hanbal) mengatakan: “Ibnu Mahdi lebih banyak mentashif hadis daripada Waki’, dan Waki’ lebih banyak kesalahan daripada Ibnu Mahdi”.
2. Abdullah bin Ahmad berkata di tempat yang berbeda: “Aku mendengar ayahku mengatakan: “Waki’ melakukan kesalahan dalam lima ratus hadis”. [7]
3. Ibnu Madini berkata: “Waki’ senantiasa keliru, maka dari itu aneh sekali jika dia meriwayatkan hadis, dia selalu mengatakan: Sya’bi meriwayatkan hadis dari Aisyah”. [8]
4. Muhammad bin Nashr al-Mirwazi berkata: “Waki’ seringkali meriwayatkan hadis berdasarkan ingatannya sehingga dia mengubah-ubah [9] kata-kata hadis itu seakan-akan dia meriwayatkan dengan makna hadis dan dia bukan tergolong ahli lisan (bahasa). [10]
Berkenaan dengan Sufyan, ulama berkomentar sebagai berikut:
1. Dzahabi berkata: “Sufyan mentadlis (memalsukan) hadis dari orang-orang yang lemah dalam bidang ini”. [11]
2. Ibnu Mubarak berkata: “Sufyan meriwayatkan sebuah hadis, lalu aku mendatanginya di saat dia sedang memalsukan hadis, maka ketika dia melihatku dia malu atas perbuatannya, dan dia berkata: kami meriwayatkannya darimu”. [12]
3. Abu Bakar berkata: “Aku mendengar Yahya mengatakan bahwa Sufyan Tsauri berusaha memalsukan hadis terhadapku dan menipu orang yang lemah tapi dia tidak bisa”. [13]
4. Yahya bin Mu’in berkata: “Tidak ada yang lebih tahu hadis Abu Ishaq daripada Sufyan Tsauri, dan dia (Sufyan) senantiasa memalsukan hadis”. [14]
Berkenaan dengan Habib bin Tsabit, ulama berkomentar sebagai berikut:
1. Ibnu Habban berkata: “Dia adalah pemalsu hadis”. [15]
2. Aqili berkata: “Dia punya hadis-hadis dari Atha’ yang sebetulnya tidak dia telusuri darinya”. [16]
3. Aqili juga berkata: “Dia dinyatakan lemah oleh Ibnu Aun”. [17]
4. Qatthan berkata: “Dia juga punya hadis selain dari Atha’, dia tidak menelusuri darinya dan tidaklah menjaga”.
5. Ibnu Khuzaimah berkata: “Dia adalah pemalsu hadis”.
Sehubungan dengan Abu Wa’il, dia termasuk orang-orang yang membenci Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.. Oleh karena itu bagaimana mungkin orang yang seperti itu bisa dipercaya di saat Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali orang mukmin dan tidak membencimu kecuali orang munafik”. [18]
Adapun kritik terhadap redaksi hadis ini adalah sebagai berikut:
Pertama: Redaksi hadis ini ganjil dan hanya ditemukan dari Abu Hayyaj. Suyuthi berkata dalam Syarhun Nasa’i: “Di dalam buku-buku hadis, tidak ada hadis dari Abu Hayyaj kecuali satu hadis ini”.
Kedua: Redaksi hadis ini tidak membuktikan klaim Wahabi tersebut, melainkan sebuah perintah untuk meratakan kuburan dan melarang untuk menonjolkan kuburan sehingga membentuk seperti punuk, syarof adalah menonjol tapi tasnim adalah satu bentuk penonjolan atau pengangkatan sesuatu sehingga membentuk seperti punuk.
Syurf adalah tonjolan atau ketinggian, adapun syurfnya untuk berarti punuknya –sebagaimana disebutkan dalam kamus bahasa [19] –, oleh karena itu syaraf secara mutlak berarti yang tinggi dan menonjol, baik tonjolan dan ketinggian itu dengan cara membentuk punuk unta maupun dengan cara yang lain.
Akan tetapi berdasarkan potongan hadis yang berbunyi “illa sawwaytahu” menandakan bahwa yang dimaksud dengan syurf disini adalah tonjolan yang berbentuk punuk dan yang dimaksud dengan taswiyah adalah tasthih atau perataan.
Dengan keterangan yang berbeda, hadis ini mempunyai tiga kemungkinan arti:
1. Maksudnya adalah menghancurkan bangunan yang didirikan di atas kuburan.
2. Maksudnya adalah penyamarataan kuburan dengan tanah.
3. Maksudnya adalah perataan kuburan dalam arti menyeimbangkan kuburan itu agar jangan miring atau masuk ke dalam, tapi juga jangan sampai bentuk kuburan itu seperti punggung ikan atau punuk unta.
Kemungkinan yang pertama tertolak oleh sejarah tingkah laku sahabat dan umat Islam setelah mereka yang secara jelas menentangnya. Selengkapnya akan kita bahas nanti. Adapun kemungkinan yang kedua juga tertolak oleh sunnah yang pasti dalam hal meninggikan kuburan sejengkal dari dataran tanah biasa. Dengan demikian maka hanya kemungkinan ketiga yang benar, yaitu mendatarkan kuburan dan membetulkan posisi yang miring atau masuk ke dalam serta jangan sampai berbentuk seperti punuk unta atau punggung ikan. Inilah arti yang diterima oleh sekelompok ulama Ahli Sunnah seperti Nawawi dan Qasthalani.
Nawawi berkata: “Sunnah yang sebenarnya adalah hendaknya kuburan tidak terlalu ditinggikan dari dataran tanah dan juga tidak dibentuk seperti punuk unta melainkan ditinggikan sekitar satu jengkal dan diratakan”. [20]
Qasthalani berkata: “Sunnah dalam persoalan tentang kuburan adalah perataannya, dan tidak seyogyanya meninggalkan sunnah hanya karena dia sudah menjadi syi’ar bagi orang-orang rafidhi (syi’ah), begitu pula tidak ada paradoksi antara sunnah perataan ini dengan hadis Abu Hayyaj”, dia melanjutkan: “Hal itu karena maksud hadis itu bukanlah penyamarataan kuburan dengan tanah melainkan maksudnya adalah perataannya, dan ini makna yang mempertemukan hadis-hadis yang bersangkutan”. [21]
Ketiga: Isi riwayat Ibnu Hayyaj ini tertolak oleh sejarah perilaku sahabat dan umat Islam pada umumnya:

A. KUBURAN PARA NABI

Kuburan para nabi di sekitar Baitul Maqdis seperti kuburan Nabi Dawud as. di Quds dan kuburan Nabi Ibrahim as. beserta putra-putranya, Ishaq as., Ya’qub as., dan Yusuf as. yang dipindahkan oleh Nabi Musa as. dari Mesir ke Baitul Maqdis tepatnya di negeri Khalil, semuanya dibangun, pra Islam di atas kuburan-kuburan itu sudah disusun batu-batu besar, dan bangunan itu tetap lestari sekalipun telah ditaklukkan oleh Islam. [22]
Ibnu Taimiyah sendiri menyatakan bahwa bangunan yang didirikan di atas kuburan Nabi Ibrahim al-Khalil as. sudah ada sejak masa penaklukan dan zamannya sahabat, hanya saja pintu bangunan itu tertutup sampai tahun empat ratus.
Tidak diragukan pula bahwa ketika Umar menaklukkan Baitul Maqdis, dia menyaksikan bangunan itu dan dia tidak memerintahkan muslimin untuk menghancurkannya.

Klaim Ibnu Bulaihad

Menurut klaim dia, pembangunan di atas kuburan dimulai setelah lima abad. Tapi sejarah menentang keras klaim ini, karena di atas kuburan-kuburan itu terdapat bangunan-bangunan dan tempat-tempat ziarah yang sudah berdiri sebelum abad kelima bahkan sebagian dari bangunan serta tempat ziarah itu sudah berdiri pada abad pertama dan kedua. Berikut ini contoh-contohnya:
1. Bangunan batu mulia.
2. Bangunan masjid di atas kuburan Hamzah.
3. Kuburan Ibrahim putra Rasulullah saw. terletak di rumah Muhammad bin Zaid bin Ali as.
4. Kuburan Sa’ad bin Mu’adz terletak di rumah Ibnu Aflah, dan di atasnya terdapat kubah mulai dari zamannya Umar bin Abdul Aziz yang hidup pada abad kedua. [23]
5. Bangunan di atas kuburan Zubair sudah didirikan sejak tahun 386 H.
6. Bangunan di atas kuburan nudzur –yakni kuburan Ubaidullah bin Muhammad bin Umar bin Ali as.– sudah berdiri pada abad keempat.
7. Kuburan Allam Khalil Bahili (275 H.).
Dzahabi menyebutkan: dia mati pada tahun 275 H., ketika itu pasar-pasar diliburkan dan masyarakat baik lelaki maupun perempuan serempak keluar untuk menyalatinya, kemudian jenazah dia diangkut dalam peti sampai ke Basrah dan di atas kuburannya di bangun kubah. [24]
8. Bangunan di atas kuburan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.. Dzahabi menyebutkan: Sultan Adhudud Daulah yang bermadzhab Syi’ah membangun masyhad di atas kuburan Imam Ali as.. Dia juga berkata: Sultan Adhudud Daulah mati pada tahun 272 H. di Baghdad dan jenazahnya di angkut dalam peti yang kemudian dibawa ke Najaf dan dikuburkan di masyhad Najaf tersebut. [25]

Renovasi Bangunan Kuburan di Masa Sahabat dan Tabi’in

1. Kuburan Rasulullah saw.. Beliau dikubur dalam sebuah ruangan yang terbangun, maka kalau memang benar bangunan di atas kuburan hukumnya adalah haram niscaya para sahabat pada waktu itu menghancurkan bangunan itu sebelum beliau dimakamkan di lokasi tersebut, karena apabila bangunan di atas kuburan sama dengan kuburan maka tidak ada bedanya antara bangunan yang sudah berdiri sebelum pemakaman dengan bangunan yang didirikan setelah pemakaman. Dan kenyataannya, bangunan serta kubah di atas kuburan Rasulullah saw. senantiasa terjaga sampai sekarang.
2. Rumah Rasulullah saw. tidak berpagar, dan orang pertama yang membangun tembok pagar untuk rumah itu adalah Umar bin Khattab. [26]
3. Aisyah juga membangun pagar penghalang antara tempat tinggalnya dengan kuburan-kuburan di situ, sejak dulu dia menempati tempat itu dan shalat di sana mulai dari sebelum pagar itu dibangun sampai setelahnya.
Masyarakat pada waktu itu memunguti tanah kuburan Rasullah saw., maka Aisyah memerintahkan agar dibangun tembok penghalang, ternyata mereka masih mengambil kesempatan dari lubang yang terdapat di tembok itu untuk mengambil tanah kuburan Rasulullah saw., maka Aisyah memerintahkan untuk menutup lubang tersebut. [27]
4. Setelah itu, Abdullah bin Zubair yang membangun kuburan Rasulullah saw. dan pagarnya runtuh.
5. Pembangunan yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz. Di dalam riwayat disebutkan bahwa dia hancurkan terlebih dahulu rumah bangunan (di atas kuburan) pertama, lalu dia membangunnya kembali dan mendirikan pagar yang mengelilingi, dia pula yang mengelilingi kamar kuburan dengan batu pualam (atau semacamnya). Ketika itulah tiga kuburan yang lain nampak. [28]
6. Pengelilingan atau pemagaran itu terulang kembali pada zaman Mutawakkil, khalifah Abbasi.
7. Terjadi lagi renovasi pada zaman Muqtafi, dan dibuat pagar semacam jaringan berlubang yang terbuat dari kayu cendana, begitu pula pagar jaringan yang terbuat dari kayu hitam ebony di atas pagar yang dibangun oleh Umar bin Abdul Aziz.
8. Pagar kuburan tersebut roboh pada masa kepemimpinan Mustadhi’, maka bangunan itu direnovasi lagi, dan ketika bangunan itu bangunan haram yang mulia terbakar pada tahun 654 hq. maka mereka merenovasinya pada masa pemerintahan Musta’sih Abbasi, renovasi itu disempurnakan dengan alat-alat dari Mesir pada masa kekuasaan Raja Mansur Aybak Shalehi dan juga dengan kayu dari penguasa Yaman yaitu Raja Mudzaffar.
9. Kemudian renovasi itu disempurnakan lagi pada periode Raja Mansur Qalawun as-Salehi yang berkuasa di Mesir, ketika itulah kubah pertama dibangun di atas kuburan Rasulullah saw., yaitu kubah berwarna biru yang dibangun oleh Ahmad bin Abdul Qawi [29] pada tahun 678 hq.

B. KUBURAN SAHABAT DAN LAIN-LAIN

1. Suatu saat, ketika Aqil menggali lubang sumur di rumahnya dia menemukan batu yang tertulis di atasnya ini adalah kuburan Ummu Habibah [30], maka galian itu ditutup kembali dan dibangunkan rumah di atasnya.
2. Khalifah Rasyid membangun kubah di atas kuburan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. pada abad kedua. [31]
3. Khatib Baghdadi mengatakan: “Kadzim (Musa) as. dikubur di pemakaman Syunaiz, di sana kuburan dia terkenal dan dikunjungi orang, di atasnya dibangun masyhad yang dilengkapi dengan berbagai peralatan, pelita, dan permadani. [32] Dan Khatib dilahirkan pada tahun 392 sehingga tergolong ulama abad keempat.
4. Ali Ridha as. dikubur dalam bangunan berkubah di Thus tempat Harun juga dikuburkan di sana, kubah itu bangun oleh Makmun pada tahun 200 H.
5. Kuburan Abu Tamam at-Tha’i. Nahsyal bin Hamid at-Thusi mendirikan bangunan di atas kuburan Abu Tamam Habib bin Aus at-Tha’i, pujangga terkenal, di Mushil pada tahun 230 H.
6. Kuburan Buwran binti Hasan bin Sahl yang di atas kuburannya dibangun kubah pada tahun 271 H.
7. Dzahabi menyebutkan bahwa pada tahun 236 Mutawakkil memerintahkan aparatnya untuk menghancurkan kuburan Husein as. [33] dan sekelilingnya. Muslimin berduka atas kejadian itu, dan penduduk Baghdad menuangkan cacian mereka dalam bentuk tulisan di tembok-tembok dan masjid-masjid, begitu pula para pujangga dalam sindiran-sindiran puisi mereka.
Data-data di atas membuktikan bahwa pendirian bangunan atau kubah di atas kuburan sudah terjadi pada abad-abad sebelum abad kelima, tidak sebagaimana yang diklaimkan oleh Ibnu Bulaihad, kalau memang benar hukumnya bangunan di atas kuburan adalah haram serta dianggap sebagai kesyirikan niscaya akan ada larangan untuk itu pada abad-abad yang telah dilaporkan di atas –khususnya pada abad Harun dan Makmun– yang dipenuhi oleh para ulama dan imam-imam agama, tapi nyatanya tidak ada satupun laporan yang menunjukkan adanya larangan dari mereka, padahal mereka gigih dalam menentang Makmun yang mendukung “penciptaan al-Qur’an” walau harus menanggung sangsi penjara, pukulan dan lain sebagainya.

Berikut ini ada contoh-contoh yang lain:
1. Kuburan Salman al-Farisi (36 H.)
Khatib Baghdadi mengatakan: “Kuburan dia terkenal dan terletak di dekat balai kerajaan, kuburan itu juga dibangun dan dijaga oleh seorang pembantu yang tinggal di sana”. [34]

2. Kuburan Thalhah yang terbunuh di perang Jamal pada tahun 36 H.
Ibnu Bathuthah mengatakan: “Masyhad Thalhah bin Ubaidillah... terletak di dalam kota dan di atasnya dibangun masjid serta kubah, di sudut sana juga terdapat tempat khusus yang menyediakan makanan untuk para pengunjung”.
Kemudian dia menghitung masyhad-masyhad para sahabat dan tabi’in yang ada di kota Bashrah, lalu dia berkata: “Pada setiap kuburan mereka terdapat kubah yang di sana tertulis nama sahabat atau tabiin yang dikubur beserta tanggal wafatnya”. [35]

3. Kuburan Zubair bin Awam.
Ibnu Jauzi mengatakan: “Atsir Abul Misk Anbar mendirikan bangunan di atas kuburan Zubair dan membangun masjid di sana serta melengkapinya dengan berbagai aksesoris seperti pelita dan tikar, serta ada beberapa orang yang ditugaskan di sana untuk mengatur dan menjaganya”.[36]

4. Kuburan Abu Ayyub Anshari (52 H.) di Roma.
Walid mengatakan: “Seorang syekh dari penduduk Palestina meriwayatkan padaku bahwa dia melihat bangunan berwarna putih di dekat tembok Qastantania. Orang-orang di situ mengatakan bahwa itu adalah kuburan Abu Ayyub Anshari sahabat Rasulullah saw., maka aku datangi bangunan itu dan memang benar aku melihat kuburan Abu Ayyub di dalam bangunan tersebut, bangunan yang dihiasi dengan pelita-pelita yang digantung secara sejajar”.[37]
Ibnu Katsir mengatakan: “Di atas kuburannya didirikan bangunan tempat ziarah dan masjid”. [38]

5. Masyhad Imam Musa bin Ja’far as.
Dzahabi mengatakan: “Masyhadnya besar, terkenal dan berada di kota Baghdad, puteranya Ali bin Musa juga mempunyai masyhad yang besar di kota Thus”. [39]
Ibnu Jauzi mengatakan: “Di hari-hari ini –yakni pada tahun 459– Abu Sa’d al-Mustaufi yang dijuluki dengan Syaraful Malik membangun masyhadnya Abu Hanifah dan membangun kubah di atasnya”. [40]

6. Kuburan Makruf al-Kurkhi (200 H.)
Ibnu Jauzi mengatakan: “Kuburan dan masyhad Makruf dibangun pada bulan Rabi’ul Awal tahun 460”. [41]

7. Kuburan Muhammad bin Idris as-Syafi’i (204 H.).
Dzahabi mengatakan: “Raja Kamil membangun kubrah di atas kuburan Syafi’i”. [42]

8. Kuburan Abu Uwanah (316 H.)
Dzahabi mengatakan: “Di atas kuburan Abu Uwanah dibangun masyhad, letaknya di Isfarayin dan di dalam kota, dan masyhad itu selalu diziarahi orang”.
Saya katakan bahwa pernyataan dan realitas sejarah ini dari kalangan muslimin Ahli Sunnah, dan tidak ada satupun yang sesuai dengan tuduhan Wahabisme. Akram al-Busyi mengomentari teks sejarah ini sebagai berikut: “Itu merupakan produk muslimin pada umumnya (yakni Ahli Sunnah) yang tidak berilmu, karena sesungguhnya perbuatan itu termasuk bid’ah yang terlarang”.
Alhamdulillah komentator tersebut tidak mengalamatkan tuduhannya kepada Syi’ah dan tidak mengatakan bahwa itu merupakan perbuatan atau produk Syi’ah Imamiyah, melainkan dia katakan itu adalah produk muslimin Ali Sunnah.

9. Abu Ali Hubaisy (420 H.)
Ibnu Jauzi mengatakan: “Kuburannya berada di kota Kufah, dan di atasnya dibangun masyhad”. [43]

PENUTUP: MEMBANTAH ARGUMENTASI DENGAN HADIS ABU ZUBAIR

Terkadang mereka berargumentasi dengan hadis dari Abu Zubair yang diriwayatkan oleh Muslim [44], Tirmidzi [45], Ibnu Majjah [46], Nasa’I [47], Abu Dawud [48], Ahmad di dalam Musnadnya [49]. Isi hadisnya adalah “Rasulullah saw. melarang perbuatan mengapur kuburan, membangun kubah atau mendirikan bangunan di atasnya”.
Hadis ini diriwayatkan dari beberapa jalur sebagai berikut:
Jalur pertama: Abu Bakar bin Abu Syaibah, Hafs bin Ghiyats menyampaikan hadis kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Abu Zubair, dari Jabir bahwa: “Rasulullah saw. melarang ...”. [50]
Jalur kedua: Harun bin Abdullah, Hajjaj bin Muhammad menyampaikan hadis kepada kami, Muhammad bin Rafi’ menyampaikan hadis kepada saya, Abdur Razzaq menyampaikan hadis kepada kami, semuanya meriwayatkan dari Ibnu Juraiz, dari Abu Zubari dan seterusnya. [51]
Jalur ketiga: Abdurrahman bin Aswad, Muhammad bin Rabi’ah menyampaikan hadis kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Abu Zubair. [52]
Jalur keempat: Azhar bin Marwan dan Muhammad bin Ziyad menyampaikan hadis kepada kami, dia berkata Abdul Waris menyampaikan hadis kepada kami dari Ayub, dari Abu Zubair dan seterusnya. [53]
Jalur keempat: Yusuf bin Sa’id menyampaikan hadis kepada kami, Hajjaj menyampaikan hadis kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Abu Zubair dan seterusnya. [54]

KRITIK SANAD (SILSILAH PERAWI)

Di dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ibnu Juraij, Abu Zubair, Hafsh bin Ghiyats, Muhammad bin Rabi’ah dan Abdur Razzaq.
Ibnu Juraij adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij al-Umawi. Ulama berkomentar tentang dia sebagai berikut:
1. Yahya bin Sa’id ketika ditanya tentang hadisnya Ibnu Juraij menjawab bahwa dia adalah orang yang lemah –dalam meriwayatkan hadis–. Seorang bertanya kepadanya terkadang dia (Ibnu Juraij) mengatakan akhbaroni (telah menyampaikan hadis kepadaku)? Yahya menjawab: “Itu tidak berarti apa-apa... semua hadis-hadisnya dho’if (lemah dan tidak bisa dipercaya)”.
2. Ahmad mengatakan: “Apabila Ibnu Juraij berakata “sifulan berkata, dan sifulan mengatakan bahwa dia telah menyampaikan hadis kepadaku, ketahuilah dia sedang menyampaikan hal-hal yang mungkar (tertolak)”.
3. Malik bin Anas mengatakan: “Ibnu Juraij adalah pemungut kayu di waktu malam”. [55]
4. Daru Quthni mengatakan: “Hindarilah pemalsuan hadis yang dilakukan oleh Ibnu Juraij, sungguh buruk pemalsuan hadisnya, dia melakukan hal itu dalam apa yang dia dengar dari perawi yang tidak sehat”.
5. Ibnu Habban mengatakan: “Dia selalu memalsukan hadis”.
6. Yahya bin Sa’id mengatakan: “Apabila Ibnu Juraij mengatakan “dia berkata” maka ketahuilah bahwa perkataannya mirim dengan angin”.
7. Yazid bin Zurai’ mengatakan: “Ibnu Juraij adalah ahli minuman berbuih”.
8. Dzahabi mengatakan: “Dia memalsukan hadis, dia dinyatakan sebagai perawi yang terpercaya padahal dia mengawini sekitar tujuh puluh wanita secara nikah mut’ah”.
9. Abdullah bin Ahmad mengatakan: “Ayahku berkata: “Sebagian hadis-hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus) oleh Ibnu Juraij adalah palsu, dia seringkali tidak peduli dari siapa dia meriwayatkan hadis-hadis itu”.
10. Daru Quthni mengatakan: “Hindarilah tipuan hadis Ibnu Juraij, sungguh tipuan dia buruk sekali, dia menipu dan memalsukan apa yang dia dengar dari perawi yang tidak sehat (cacat dalam hal periwayatan hadis) seperti Ibrahim bin Abu Yahya”. [56]

PERAWI YANG BERIKUTNYA ADALAH ABU ZUBAIR

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muslim bin Tadris al-Amadi. Dia dinyatakan lemah oleh banyak ulama di bidang ilmu rijal, dan berikut ini adalah contoh dari sebagian pernyataan mereka tentang dia:
1. Ahmad mengatakan: “Ayyub menyatakan kelemahannya”.
2. Na’im bin Hammad mengatakan: “Aku mendengar Ibnu Uyainah: seakan-akan dia melemahkannya”.
3. Suwaid bin Abdul Aziz mengatakan: “Syu’bah berkata kepadaku: Kamu mengambil riwayat dari Abu Zubair, padahal dia adalah orang yang tidak pantas untuk salat?!”.
4. Na’im mengatakan: “Aku mendengar Hasyim berkata: Aku mendengar –riwayat– dari Abu Zubair, lalu Syu’bah merebut kitabku dan kemudian menyobeknya”.
5. Abdur Rahman bin Abu Hatim mengatakan: “Aku bertanya kepada ayahku tentang Abu Zubair, lalu dia menjawab: “Hadisnya ditulis tapi tidak tidak bisa dijadikan sebagai sandaran”. [57]
6. Tirmidzi mengatakan: “Disebutkan bahwa Syu’bah menyatakan kelemahan Abu Zubair al-Makki”. [58]
7. Abu Zar’ah dan Abu Hatim mengatakan: “Riwayat dia tidak bisa dijadikan sandaran”.
8. Abu Uyainah mengatakan: “Abu Zubari di sisi kami seperti roti yang terbuat dari gandum sya’ir, jika kita tidak menemukan Amr bin Dinar maka kita pergi menghampirinya”.
9. Ibnu Abi Hatim bertanya kepada Abu Zar’ah tentang Abu Zubair, dia menjawab: “Orang-orang meriwayatkan hadis dari dia”, aku (Ibnu Abi Hatim) katakan kepadanya: “Apakah hadisnya bisa dijadikan bukti atau sandaran?”, dia menjawab: “Hanya hadisnya orang-orang tsiqoh (yang terpercaya) yang bisa dijadikan bukti dan sandaran”.
10. Syu’bah mengatakan: “Di dunia ini tidak ada sesuatu yang lebih kusukai dari orang yang datang dari Mekkah sehingga aku dapat bertanya padanya tentang Abu Zubair, sampai akhinya suatu saat aku datang ke Mekkah, aku pun mendengar langsung dari Abu Zubair, maka suatu hari ketika aku hadir di majlisnya seorang lelaki datang dan bertanya tentang satu persoalan kepadanya, kemudian aku berkata kepada Abu Zubair: “Wahai Abu Zubair, kamu sedang mengarang kebohongan atas lelaki yang muslim!”, Abu Zubair menjawab: “Lelaki itu membuatku marah”, aku bantah ucapannya dengan berkata: “Jika ada orang yang membuatmu marah maka kamu segera mengarang kebohongan atasnya? Tidak, aku tidak akan meriwayatkan hadis lagi darimu untuk selama-lamanya”. [59]
Di dalam kitab Tahdzibut Tahdzib disebutkan bahwa: “Maka dia –Abu Zubair– menolak dia dan mengarang kebohongan atasnya”. [60]
Kesimpulannya adalah: Abu Zubair adalah orang yang lemah, tidak pantas untuk shalat, tidak bisa dijadikan sebagai bukti atau sandaran, mengarang kebohongan atas orang lain, dan kitab hadisnya dirobek oleh Syu’bah, dengan semua data yang ada ini apakah masih ada ranah untuk mempercayainya?!!!

Perawi yang berikutnya adalah Hafsh bin Ghiyats. Ulama’ berkata tentang dia sebagai berikut:
1. Ya’qub bin Syaibah mengatakan: “Sebagian hafalan-hafalannya dihindari”. [61]
2. Abu Zar’ah mengatakan: “Hafalan jelek sekali”. [62]
3. Dawud bin Rasyid mengatakan: “Hafsh adalah orang yang sering keliru”. [63]
4. Ahmad mengatakan: “Hafsh seringkali mencampur aduk –riwayat atau rawi–”. [64]
5. Dinukil pula dari Ahmad mengatakan: “Hafsh selalu memalsukan hadis”. [65]

Perawi yang keempat adalah Muhammad bin Rabi’ah, dia adalah Abu Abdillah al-Kufi ar-Rawasi. [66] Pernyataan ulama’ ilmu rijal menunjukkan raport yang tidak baik bagi dia, seperti:
1. As-Saji mengatakan: “Dia adalah orang yang lunak dan lemah”. [67]
2. Al-Azdi mengatakan: “Dia lunak dan masih perlu dipertimbangkan”. [68]
3. Usman bin Abu Syaibah mengatakan: “Muhammad bin Rabi’ah datang dan meminta agar kami untuk menulis hadis darinya, maka kami jawab kepadanya bahwa kami tidak memasukkan orang-orang pendusta dalam hadis yang kami tulis”. [69]

Perawi dan jalur yang kelima adalah Abdul Waris. Dia adalah Ibnu Sa’id bin Dzukwan at-Tamimi. Di antara komentar ulama ilmu rijal tentang dia adalah sebagai berikut:
1. Bukhari mengatakan: “Abdus Shamad berkata: dia betul-betul pendusta terhadap ayahku”. [70]
2. Daru Quthni menyatakan kelemahan dia seraya mengomentari hadis darinya setelah dia sebutkan bahwa hadis ini tidak sahih”.
3. Ibnu Mu’in mengatakan: “Dia orang yang tidak jelas identitasnya”. [71]
4. Tirmidzi menukil sebuah pernyataan dari Bukhari bahwa Abdul Waris adalah orang yang hadisnya adalah mungkar (diingkari)”.

Selanjutnya yang keenam adalah Abdur Razzaq Shan’ani. Dia juga tergolong perawi yang lemah, terkadang dikarenakan kesyi’ahannya –berdasarkan prinsip ulama’ rijal Ahli Sunnah, kesyi’ahan seseorang terhitung sebagai cacat dan kelemahan dia–, atau karena kelemahannya dia dalam pendengaran hadis sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad bin Hanbal, atau karena hal-hal yang lain. [72]
Pada akhirnya, hadis Abu Zubair ini dipenuhi dengan cacat dalam sanad dan kelemahan perawi-perawinya, lalu bagaimana orang-orang Wahabi percaya dan bersandar padanya? Bagaimana mereka membangun pandangan dan fatwa-fatwa fikih mereka dengan hadis semacam ini, lalu dengan hadis itu pula mereka mengkafirkan muslimin bahkan menghalalkan darah mereka untuk ditumpahkan?!
Itulah tadi kritik secara sanad terhadap hadis yang menjadi sandaran mereka. Adapun secara isi dan redaksi hadis pun terdapat catatan-catatan penting yang harus diperhatikan di dalamnya, yaitu:
A. Hadis ini tidak lebih hanya menunjukkan pada sebuah larangan, sementara larangan ada dua macam, yang pertama adalah larangan berupa pengharaman, dan yang kedua adalah larangan berupa pemakruhan (atau menetapkan hukumnya sebagai makruh).
Betapa banyak larangan dalam hadis yang maksudnya adalah hukum makruh [73], kuantitas besar penggunaan ini menuntut pengartian larangan dalam hadis ini dengan larangan yang bersifat makruh, dan lemah sekali signal dalam hadis ini yang menunjukkan arti pengharaman.
1. Syafi’i dan sahabat-sahabatnya mengatakan: “Mustahab (sunnah dan bukan wajib) hukumnya untuk tidak menambahkan tanah lain pada tanah yang telah digali dari kuburan. Hukum ini dikeluarkan atas dasar hadis ini”.
2. Sendi setelah menyebutkan hadis yang memuat larangan untuk menuliskan sesuatu di atas kuburan berkata –menukil dari Nisyaburi–: “Sanad-sanad hadis ini sahih tapi tidak bisa diamalkan, karena para imam muslimin mulai dari timur sampai ke barat senantiasa menuliskan sesuatu di atas kuburan-kuburan mereka, dan ini merupakan hal yang diterima baik oleh salaf (muslimin terdahulu) dan khalaf (muslimin pasca salaf)”. [74]
3. Dzahabi berkata: “Kakeknya –yakni kakek Sibt bin Jauzi– mewasiatkan agar puisi-puisi berikut ini dituliskan di atas kuburannya:

یا کثیر العفو عمن کثر اذنب لدیه
جاءک المذنب یرجو الصفح عن جرم یدیه
انا ضیف و جزاء الضیـ ـف احسان الیه [75]

Siapakah Ibnu Jauzi?

Ulama mengatakan bahwa dia adalah syekh, allamah, imam, hafidz, mufasir, syekh Islam, dan kebanggaan negeri Irak[76].
4. Nawawi berkata: “Sehubungan dengan pembangunan kuburan, jika hal itu dilakukan di tanah milik pembangun maka hukumnya adalah makruh, tapi jika itu dilakukan di kuburan umum (yang didermakan fi sabilillah) maka hukumnya adalah haram sebagaimana dinyatakan secara jelas oleh Syafi’i dan sahabat-sahabatnya... sahabat-sahabat kami mengatakan: “Pengapuran kuburan hukumnya adalah makruh”. [77]
B. Hadis-hadis ini tidak dialamatkan pada pembangunan kuburan yang tergolong mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah swt. dan kehormatan-kehormatan-Nya, seperti apabila yang dikubur di situ adalah nabi atau wali, atau pembangunan itu karena maslahat-msalahat dalam urusan agama yang penting, seperti memberi tanda atau menara pada kuburan yang menurut syariat Islam adalah sunnah untuk diziarahi dan menara atau tanda itu dibuat agar kuburan itu tidak hilang jejaknya sebagaimana Rasulullah saw. menandai kuburan Usman bin Madz’un dan Fatimah Zahra as. menandai kuburan Hamzah yang syahid.
Ada beberapa bukti untuk itu yang ingin kami sebutkan di bawah ini:
1. Ibnu Majjah: “Rasulullah saw. menandai kuburan Usman bin Madz’un dengan batu yang beliau letakkan di atasnya”. [78] Haitsami melanjutkan: “Dan dia mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan”. [79] Sendi menambahkan penjelasan terhadap hadis ini dengan berkata: “Maksudnya adalah meletakkan batu di atas kuburan Usman bin Madz’un agar menjadi jelas bahwa itu kuburan dia”.
2. Diriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa: “Ketika Usman bin Madz’un meninggal dunia maka jenazahnya dibawa dan dikuburkan, lalu Rasulullah saw. memerintahkan seseorang untuk mengambil batu tapi dia tidak sanggup untuk mengangkatnya, maka Rasulullah saw. sendiri yang mengangkatnya sehingga kedua hasta (tangan dari siku sampai ujung jari) beliau terbuka.” Perawi mengatakan: “Aku melihat putihnya kedua hasta Rasulullah saw. ketika beliau menyingsingkannya kemudian mengangkat batu itu dan meletakkannya di sisi kepala seraya bersabda: “Dengan ini aku menandai kuburan saudaraku dan aku kuburkan anggota keluargaku yang mati di sini”.
Suatu saat, ketika Marwan bin Hakam menjadi gubernur Madinah dia melewati batu itu, maka dia perintahkan untuk membuangnya seraya berkata: “Demi Allah, kuburan Usman bin Madz’un tidak lagi mempunyai tanda batu untuk dikenali”, maka Bani Umayyah mendatanginya dan berkata kepadanya: “Keji sekali perbuatanmu itu, pergilah ke sana dan kembalikan batu itu”, Marwan menjawab: “Sungguh demi Allah, ketika aku sudah melemparkannya maka tidak akan pernah dikembalikan lagi ke tempatnya semula”. [80]
3. Asbagh bin Nabatah: “Sesungguhnya Fatimah putri Rasulullah saw. selalu mengunjungi kuburan Hamzah, dia meletakkan sesuatu di sana untuk menandai kuburan itu [81]. Dia juga menyebutkan bahwa kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar juga ditandai dengan batu-batu kecil. [82]
Adapun dampak-dampak positif yang muncul dari pembangunan kuburan itu adalah sebagai berikut:
1. Mengagungkan tanda-tanda kebesaran Islam dan membuat marah musuh-musuh Islam.
2. Memberi naungan kepada para peziarah dan menjaga mereka dari panas serta dingin pada waktu ziarah atau shalat di sisi kuburan-kuburan itu, mengingat bahwa shalat di sisi kuburan-kuburan itu adalah dianjurkan karena kemuliaan tempat tersebut.
3. Membaca al-Qur’an.
4. Pengajaran dan pendidikan.
5. Penyampaian nasihat, dan lain sebagainya.
Referensi: Rowafid al-Iman ila Aqoid al-Islam; Najmudin Tabasi - Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Diterjemahkan dari kitab Rowafidu al-Iman fi Aqo’idi al-Islam, karya Najmuddin Thabasi, dari halaman 153 sampai 176.
2. Kasyful Irtiyab, 286 dari Tathhirul I’tiqod.
3. Zadul Ma’ad: 661.
4. Kaysful Irtiyab, 287.
5. Ibid.
6. Shohih Muslim: jilid 3, halaman 61, Tirmidzi: jilid 2, halaman 256.
7. Tahdzibul Kamal: jilid 30, halaman 471.
8. Mizanul I’tidal: jilid 4, halaman 336.
9. Diriwayatkan dari Na’im bin Hammad: suatu saat kita makan malam di tempat Waki’, lalu dia berkata: apa yang ingin aku bawakan untuk kalian, minuman keras orang tua atau anak muda? Aku katakan padanya: kenapa kamu bicara demikian? Dia menjawab: bagiku itu lebih halal daripada air sungai Furat”. (Tarikh Baghdad: jilid 13, halaman 72).
Dinukil dari Ahmad bahwa: Waki’ selalu mencaci salaf dan minum minuman keras serta mengeluarkan fatwa yang batil.
10. Tahdzibut Tahdzib: jilid 11, halaman 125.
11. Mizanul I’tidal: jilid 2, halaman 169.
12. Tahdzibut Tahdzib: jilid 11, halaman 218.
13. Tahdzibut Tahdzib: jilid 3, halaman 179.
14. Al-Jarhu wat Ta’dil: jilid 4, halaman 225.
15. Tahdzibut Tahdzib: jilid 2, halaman 179, Taqribut Tahdzib: jilid 1, halaman 316.
16. Ibid.
17. Mizanul I’tidal: jilid 1, halaman 451.
18. Majma’uz Zawa’id: jilid 9, halaman 133. Lihatlah Ansabul Asyrof: jilid 6, halaman 02, dan Qomusur Rijal: jilid 11, halaman 54.
19. Al-Qomus: jilid 3, halaman 162.
20. Al-Majmu’: jilid 4, halaman 312.
21. Irsyadus Sari: jilid 2, halaman 467.
22. Inilah yang diisyaratkan oleh Sayid Amin di dalam Kasyful Irtiyab 484, di situ terdapat riwayat –yang apabila riwayat itu sahih– maka dia menjadi bukti untuk itu. Lihatlah kitab Durarul Akhbar: jilid 2, halaman 185 karya Syekhul Walid, Ma’alimuz Zulfa: 108. Tapi di sana terdapat hadis-hadis yang isinya adalah: Sesungguhnya Allah (swt.) mengharamkan tubuh-tubuh para nabi terhadap bumi. Rujuklah pada Musnadnya Ahmad bin Hanbal, jilid 4, halaman 8.
23. Wafa’ul Wafa’: jilid 2, halaman 545, Kasyful Irtiyab: 424.
24. Siyaru A’lamin Nubala’: jilid 13, halaman 285.
25. Ibid. Jilid 16, halaman 251.
Ada banyak hadis sahih yang menjelaskan bahwa orang pertama yang menampakkan kuburan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. adalah Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad as.
26. Wafa’ul Wafa’: jilid 2, halaman 541.
27. Ibid. Jilid 2, halaman 544.
28. Ibid. Jilid 2, halaman 547.
29. Anda bisa lihat dalam kitab Kasyful Irtiyab, halaman 400, dan Wafa’ul Wafa’ karya Samhudi, jilid 2, halaman 573.
30. Dalam hal ini ada yang perlu diperimbangkan; jika yang dimaksud dengan Ummu Habibah di sini adalah istri Rasulullah saw., bagaimana mungkin kuburannya tersembunyi, apalagi Aqil juga hidup sezaman dengannya.
31. Mausu’atul Atabat al-Muqoddasah: jilid 6, halaman 97, al-Ghodir: jilid 4, halaman 94, Durarul Akhbar: jilid 2, halaman 214. Karya Ayatullah Thabasi.
32. Wafayatul A’yan: jilid 5, halaman 310.
33. Lihatlah kitab Ma’atsirul Anafah fi Ma’alimil Khilafah lil Qolqosyandi, jilid 1, halaman 120 berkenaan dengan pembangunan masyhad yang dikenal dengan Masyhad Husein as. di Mesir.
34. Tarikh Baghdad: jilid 1, halaman 163.
35. Rihlatu Ibnu Bathuthoh: jilid 1, halaman 187.
36. Al-Muntadzom: jilid 14, halaman 377. Saya katakan bahwa Zubair dan Thalhah telah mengingkari janji bai’at mereka terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. dan menyulut api peperangan menentang imam yang saha pada zaman mereka, dan pada akhirnya mereja juga mati terbunuh akibat atau di peperangan yang mereka mulai sendiri.
37. Tarikhu Baghdad: jilid 1, halaman 154.
38. Al-Bidayah wan Nihayah: jilid 8, halaman 65.
39. Siyaru A’lamin Nubala’: jilid 6, halaman 274.
40. Al-Muntadzom: jilid 16, halaman 100.
41. Ibid. Jilid 16, halaman 105.
42. Duwalul Islam: halaman 344.
43. Al-Muntadzom: jilid 15, halaman 202.
44. Shohih Muslim: jilid 3, halaman 63.
45. At-Tirmidzi: jilid 3, halaman 208.
46. Sunanu Ibni Majjah: jilid 1, halaman 473.
47. Sunanun Nasa’i: jilid 4, halaman 87.
48. Sunanu Abi Dawud: jilid 3, halaman 216.
49. Musnadu Ahmad: jilid 3, halaman 295.
50. Shohih Muslim: jilid 3, halaman 63.
51. Ibid.
52. At-Tirmidzi: jilid 2, halaman 208.
53. Sunanu Ibnu Majjah: jilid 1, halaman 473.
54. Sunanun Nasa’i: jilid 4, halaman 87.
55. “Pemungut kayu di waktu malam” adalah peribahasa utuk orang yang mencampur aduk antara yang salah dan yang benar.
56. Tahdzibul Kamal: jilid 18, halaman 348; Tahdzibut Tahdzib: jilid 6, halaman 404; Mizanul I’tidal: jilid 2, halaman 659.
57. Tahdzibul Kamal: jilid 26, halaman 407.
58. Al-Jami’us Shohih: jilid 5, halaman 756.
59. Mizanul I’tidal: jilid 4, halaman 37.
60. Tahdzibut Tahdzib: jilid 9, halaman 442.
61. Tahdzibul Kamal: jilid 7, halaman 56.
62. Ibid.
63. Tarikhu Baghdad: jilid 8, halaman 199.
64. Siyaru A’lamin Nubala’: jilid 9, halaman 31.
65. Tahdzibut Tahdzib: jilid 2, halaman 360.
66. Tahdzibul Kamal: jilid 25, halaman 196.
67. Tahdzibut Tahdzib: jilid 9, halaman 143.
68. Mizanul I’tidal: jilid 3, halaman 545.
69. Ibid.
70. Tahdzibul Kamal: jilid 18, halaman 483.
71. Lisanul Mizan: jilid 2, halaman 678.
72. Tahdzibul Kamal: jilid 18, halaman 58; Mizanul I’tidal: jilid 2, halaman 61; al-Jarhu wat Ta’dil: jilid 6, halaman 38.
73. Seperti: Rasulullah saw. melarang seseorang untuk makan bawang putih kecuali setelah dimasak, Rasulullah saw. melarang seseorang untuk mempersingkat shalat, larangan untuk membekam bagi orang yang berpuasa, larangan untuk mengendarai binatang pemakan kotoran yang najis, larangan untuk menyambut orang yang sedang mengendarai (seperti sedang berkuda), larangan untuk mengadudombakan binatang, larangan dari bawang mereh dan bawang bakung, lari untuk menjual sisa air, larangan untuk menjadi muadzin (pengumandang adzan) bagi seorang imam, larangan untuk minta menyusui pada orang dungu, larangan kencing berdiri, larangan kencing di tempat mandi. Dan lain sebagainya. Puluhan jumlahnya hadis-hadis yang berisi larangan-larangan seperti itu, dan tidak ada seorang faqih pun yang mengartikan larangan-larangan itu dengan hukum haram, melainkan mereka mengartikannya sebagai perbuatan-perbuatan yang makruh.
Dan hadis-hadis yang melarang pembangunan kuburan masuk dalam kategori larangan yang sifatnya makruh, karena banyaknya larangan yang digunakan dengan arti hukum makruh tersebut, dengan demikian maka perbuatan mengapur kuburan, mendirikan kubah di atas kuburan, mendirikan bangunan di atas kuburan, dan menulis sesuatu di atas kuburan –sesuai dengan hadis itu– hukumnya adalah makruh.
74. Sunanun Nasa’i: jilid 4, halaman 87.
75. Siyaru A’lamin Nubala’: jilid 31, halaman 380 dan 370.
76. Ibid.
77. Syarhu Shohih Muslim: jilid 3, halaman 62.
78. Sunanu Ibni Majjah: jilid 1, halaman 498.
79. Ibid.
80. Wafa’ul Wafa’: jilid 3, halaman 894.
81. Mushonnafu Abdir Rozzaq: jilid 3, halaman 574.
82. Ibid.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+2 =