Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah Islam memperbolehkan kita untuk meminta syafaat kepada selain Allah?


Pembelaan

Permintaan syafaat dari pihak-pihak yang sesungguhnya berhak untuk memberi syafaat adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang muslim sejak masa Nabi Muhammad saw. sampai sekarang, dan tidak ada seorang ulama pun yang menghujat perbuatan ini kecuali dua orang, yaitu Ibnu Taimiyah pada permulaan abad ke-VIII dan Muhammad bin Abdul Wahab pada pertengahan abad ke-XII.
Masing-masing dari mereka menyatakan bahwa permintaan syafaat secara langsung dari pihak-pihak pemberi syafaat adalah perbuatan yang terlarang. Menurut mereka, memang benar para nabi dan malaikat serta wali Allah berhak memberi syafaat pada hari kebangkitan nanti, akan tetapi syafaat itu harus diminta langsung dari Allah swt. dalam kapasitasnya sebagai pemilik syafaat yang sebenarnya dan pemberi ijin kepada yang lain untuk memberi syafaat, yakni hendaknya seseorang mengatakan: Ya Allah, tetapkan Nabi saw. dan hamba-hamba saleh lainnya sebagai pemberi syafaat kami di hari kiamat. Dan tidak seyogyanya dia mengatakan: Wahai Nabi, syafaatilah kami.[1]
Sebelum kita menanggapi bukti-bukti yang diajukan oleh kelompok yang melarang permintaan syafaat tersebut, sebaiknya terlebih dulu kita mengulas bukti-bukti al-Qur’an dan sunnah yang membolehkannya:

1- Permintaan syafaat adalah permintaan doa.

Syafaat Nabi saw. dan pihak-pihak pemberi syafaat yang lain tidak lebih dari doa dan permohonan ampun dari Allah swt., dan karena kedekatan mereka dengan Allah swt. serta kedudukan mereka yang tinggi di sisi-Nya maka besar kemungkinan doa mereka terkabulkan sehingga orang yang berdosa dan minta syafaat tersebut akan diliputi oleh ampunan Allah swt.. Jangankan permintaan doa dari nabi, permintaan doa dari saudara mukmin saja boleh apalagi dari orang-orang yang mulia seperti nabi. Kalau kita mengatakan: ya wajihan indalloh, isyfa’ lana indalloh, artinya adalah wahai orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah, syafatilah kami di sisi Allah. Dengan ungkapan yang berbeda: Wahai orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah, doakanlah agar Allah mengampuni dosa-dosa kami.
Penggunaan kata syafaat untuk arti doa sering kita temukan di dalam literatur hadis, bahkan penulis buku induk hadis Shohih Bukhori menggunakan kata syafaat ini di dua nama bab, yang pertama berkaitan dengan permintaan orang-orang muslim dari imam, dan yang kedua permintaan orang-orang musyrik dari orang-orang muslim. Dua bab itu adalah:
a- Idza istasyfa’u ila al-imami liyastasqo lahum lam yarudduhum. [2] Artinya, apabila masyarakat meminta syafaat kepada imam agar dia berdoa memohon curah hujan maka tidak seyogyanya dia menolak permintaan mereka tersebut.
b- Idza istasyfa’a al-musyrikuna bi al-muslimina inda al-qohthi. Artinya, ketika orang-orang musyrik meminta syafaat kepada orang-orang muslim pada waktu paceklik.
Salah satu bukti nyata yang menunjukkan arti doa bagi kata syafaat adalah hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, yaitu:

مَا مِن رَجُلٍ مُسلِمٍ یَمُوتُ فَیَقُومَ عَلَی جَنَازَتِهِ اَربَعُونَ رَجُلاً لَا یُشرِکُونَ بِاللهِ شَیئًا اِلَّا شَفَعَهُمُ اللهُ فِیهِ .

Artinya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang muslim mati lalu ada empat puluh orang yang sama sekali tidak menyekutukan Allah (swt.) menyalati jenazahnya maka Allah (swt.) pasti mengabulkan syafaat mereka terhadap orang muslim tersebut”.
Syafaat empat puluh orang itu untuk orang muslim tersebut tidak lain karena sewaktu salat jenazah mereka berdoa kepada Allah swt. dan memohon-Nya agar memberi dia rahmat serta pengampunan; Allhumma ighfil lahu. Oleh karena itu, ketika esensi syafaat adalah doa dan tidak ada satu pun alasan yang melarang permintaan doa dari orang lain maka permintaan syafaat dari orang lain –yaitu nabi, orang saleh, dan wali Allah- adalah perbuatan yang sah dan benar.

2- Hadis dari Anas bin Malik.

Tirmidzi di dalam kitab Sunannya meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik yang mengatakan:

سألت النبي أن يشفع لي يوم القيامة، فقال: أنا فاعل، قلت: فأين أطلبک، فقال: علی الصراط. [3]

Artinya: Suatu hari aku meminta Nabi Muhammad (saw.) untuk mensyafaatiku di hari kiamat, lalu beliau bersabda: “Baiklah, aku akan melakukannya”, kemudian aku bertanya kepada beliau: Di mana aku mencarimu –nanti-? Beliau menjawab: “Di Shirath”.
Hadis ini menunjukkan bagaimana Anas bin Malik meminta syafaat kepada Rasulullah saw. dan beliau pun menerima permintaannya seraya berjanji akan memberinya syafaat di hari kiamat. Baik di benak Anas maupun di benak Rasulullah saw. tidak ada bayangan bahwa permintaan syafaat dan penerimaannya ini merupakan salah satu bentuk dari kesyirikan.

3- Sawad bin Azib dan permintaan syafaat.

Sawad bin Azib adalah sahabat Rasulullah saw., dia tuangkan permintaan syafaat kepada Rasulullah saw. di bait-bait puisi yang dia karang berkenaan dengan beliau, dia mengatakan:

و کن لي شفیعا يوم لا ذو شفاعة بمغن فتیلا عن سواد بن عازب [4]

Artinya: Wahai Nabi, jadilah engkau pemberi syafaat bagiku di hari kebangkitan nanti, yaitu di hari ketika syafaat orang-orang selainmu tidak berguna untuk Sawad bin Azib.

4- Ali bin Abi Thalib as. dan permintaan syafaat.

Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. selesai memandikan jenazah Rasulullah saw. dan mengkafaninya maka dia membuka penutup wajah beliau seraya berkata:

بأبي أنت و أمي طبت حيا و طبت ميتا، و اذکرنا عند ربک. [5]

Artinya: Demi bapak dan ibuku, sungguh kamu telah hidup dan mati secara baik dan suci, ingatlah kami di sisi Tuhanmu.
Ungkapan اذکرنا عند ربک (arti literal: ingatlah kami di sisi Tuhanmu) adalah ungkapan yang biasa digunakan untuk permintaan syafaat sebagaimana tercantum di dalam kisah Nabi Yusuf as.; ketika teman sepenjara Nabi Yusuf as. akan dibebaskan dari penjara dan menurut ramalan beliau orang itu akan menjadi pembantu dekat raja, beliau berkata kepadanya: اذکرني عند ربک ; ingatlah aku di sisi rajamu dan beritahu dia bahwa aku tidak bersalah.
Selain bukti-bukti di atas, pada hakikatnya ayat-ayat dan hadis-hadis yang mengesahkan perbuatan tawasul kepada para nabi berarti mengesahkan permintaan syafaat juga. Dan kiranya tidak perlu lagi kita mengulas ayat-ayat dan hadis-hadis itu di sini.

Alasan Kelompok Yang Melarang Permintaan Syafaat

Di pihak yang berbeda, perbuatan meminta syafaat dari nabi atau wali ini dilarang oleh kelompok tertentu dan dinyatakan sebagai perbuatan yang haram, ada tiga alasan yang mereka ajukan:

1- Permintaan syafaat adalah perbuatan syirik.

Menurut mereka, cara yang benar dalam hal ini adalah kita katakan:
اللهم اجعلنا ممن تناله شفاعة محمد

Artinya: Ya Allah, tetapkan kami sebagai orang yang diliputi oleh syafaat Muhammad (saw.).
Dan salah jika kita mengatakan:
یا محمد اشفع لنا عند الله

Artinya: Wahai Muhammad, syafaatilah kami di sisi Allah (swt.).
Memang benar bahwa Allah swt. telah memberi hak syafaat kepada Rasulullah saw. akan tetapi Allah swt. melarang kita untuk meminta syafaat itu secara langsung kepada beliau melainkan yang seyogyanya kita lakukan adalah meminta syafaat kepada Allah swt. yang telah memberi hak syafaat kepada beliau.
Kritik:
Al-Qur’an menjadi bukti bahwa orang-orang yang merupakan saksi kebenaran nanti di hari kiamat akan memberi syafaat, dan dengan kata lain mereka memiliki syafaat yang terbatas sesuai ijin Allah swt. Dia berfirman:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ / الزخرف: 86

Artinya: “Dan yang mereka seru dari selain Allah, tidak mempunyai syafaat kecuali orang yang menjadi saksi atas kebenaran dan mereka mengetahui”. (QS. 43: 86).
Kata إلا berarti pengecualian yang menunjukkan sebuah kenyataan bahwa orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran memiliki hak syafaat untuk orang lain. Sudah barang tentu kepemilikan syafaat ini karena ijin Allah swt. dan bukan karena diri mereka sendiri. Dengan demikian, ketika Allah swt. telah memberikan hak syafaat kepada para wali terdekat-Nya maka tidak ada salahnya orang yang berdosa meminta syafaat kepada mereka yang telah diberi hak syafaat dan diijinkan untuk mensyafaati.
Tentunya, permintaan syafaat dari mereka bukan berarti permintaan itu pasti dikabulkan, melainkan mereka –yang diberi hak syafaat oleh Allah swt.- hanya akan mensyafaati orang lain pada situasi dan kondisi tertentu.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari ungkapan pemimpin kelompok Wahabi tentang persoalan ini, dia mengatakan: Allah (swt.) memberikan hak syafaat kepada para wali-Nya akan tetapi Dia melarang kita untuk meminta syafaat itu –dari mereka,. [6]
Hal pertama: Di ayat manakah Allah swt. Melarang kita untuk meminta syafaat dari orang-orang yang diberi hak syafaat oleh-Nya?! Dan jika diklaim bahwa permintaan syafaat itu dilarang karena tergolong perbuatan syirik, jawabannya adalah sebagaimana jelas di dalam kajian-kajian tentang syirik di dalam ibadah bahwa permintaan seseorang dari orang lain yang mulia di saat dia meyakini orang mulia itu sebagai hamba Allah swt. dan sama sekali tidak menganggapnya sebagai Tuhan atau orang yang melakukan perbuatan-perbuatan khas Tuhan adalah tidak mungkin dikategorikan sebagai penyembahan orang tersebut atau perbuatan syirik.
Hal kedua yang perlu diperhatikan dari ungkapan di atas adalah kontradiksi di dalamnya, jika memang Allah swt. telah memberikan hak syafaat itu kepada para wali-Nya agar berguna bagi orang-orang lain lalu kenapa Dia melarang mereka untuk meminta syafaat itu kepada wali-wali tersebut?!

2- Sebab kesyirikan orang-orang jahiliah.

Alasan kedua yang mereka ajukan untuk mengharamkan permintaan syafaat dari para wali Allah swt. adalah orang-orang musyrik jahiliah dikatakan musyrik tidak lain karena mereka meminta syafaat dari berhala-berhala. Menurut mereka, hal itu disinyalir oleh al-Qur’an sebagai berikut:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ / یونس: 18

Artinya: “Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak membahayakan mereka dan tidak menguntungkan mereka, dan mereka mengatakan –sembahan-sembahan- selain Allah itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah”. (QS. 10: 18).
Oleh karena itu, menurut mereka –kelompok Wahabim segala bentuk permintaan syafaat dari nabi atau wali Allah swt. adalah sama dengan permintaan syafaat dari berhala-berhala. [7]
Kritik:
Pertama: Antara dua permintaan syafaat tersebut ada perbedaan yang jelas sekali; orang-orang musyrik meyakini berhala-berhala yang mereka mintai syafaat sebagai tuhan-tuhan mereka dan sebagai pemilik syafaat yang sesungguhnya, sedangkan orang-orang muslim meyakini para nabi atau wali yang mereka mintai syafaat sebagai hamba-hamba Allah swt. yang memiliki hak syafaat bukan karena diri mereka sendiri melainkan karena ijin Allah swt.. Oleh karena itu, bagaimana mungkin dua bentuk permintaan syafaat ini bisa disamakan.
Kedua: Ayat yang tersebut di atas secara jelas menyatakan bahwa orang-orang musyrik jahiliah menyembah berhala lalu mereka meminta syafaat darinya, perbuatan yang pertama diungkapkan oleh ayat tersebut dengan وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ (mereka menyembah selain Allah), dan perbuatan yang kedua diungkapkan oleh ayat tersebut dengan وَيَقُولُونَ هَؤُلاء شُفَعَاؤُنَا (mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah). Adapun orang-orang muslim hanya menyembah Allah swt. dan mengesakan-Nya, lalu mereka meminta syafaat dari para wali-Nya. Oleh karena itu, penyerupaan antara dua permintaan syafaat ini sama sekali tidak beralasan.

3- Permintaan syafaat dari orang mati adalah perbuatan yang sia-sia.

Alasan terakhir yang mereka ajukan untuk mengharamkan permintaan syafaat dari para wali dan nabi Allah swt. yang telah meninggal dunia adalah menurut mereka perbuatan itu sia-sia.

Kritik

Anggapan mereka ini tidak benar karena ada kehidupan alam barzakh yang nyata, ketika al-Qur’an mengatakan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah swt. adalah tetap hidup di alam barzakh maka sudah barang tentu nabi orang-orang syahid itu lebih pantas untuk hidup di sana. Dan kalaupun kita anggap bahwa para nabi betul-betul mati walau di alam barzakh dan mereka tidak mendengar pembicaraan kita maka apa yang bisa disimpulkan dari kenyataan ini tidak lebih dari permintaan syafaat adalah perbuatan yang sia-sia, dan tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa permintaan syafaat adalah perbuatan yang haram. Ibaratnya orang yang terjebak di dalam sumur, jika dia meminta pertolongan dari orang lain yang kebetulan lewat di sana maka itu adalah permintaan yang masuk akal, akan tetapi jika dia meminta pertolongan dari batu-batu di sekitar sumur tersebut maka itu adalah permintaan yang sia-sia dan bukan perbuatan yang haram atau masuk kategori syirik di dalam ibadah.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Kasyfu al-Syubahat, hal. 16.
2. Shohih al-Bukhori, jilid 2, hal. 29 dan 30.
3. Sunan Tirmidzi, jilid 4, hal. 621, hadis ke2433.
4. Al-Ishobah, jilid 2, hal. 96, nomor beografi 3583.
5. Nahj al-Balaghoh, pidato ke230.
6. Kasyf al-Syubahat, hal. 16.
7. Kasyf al-Syubahat, hal. 14.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
9+9 =