Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Bolehkah Minta Syafaat Dari Para Nabi Dan Wali? [1]


Wahabisme melarang keras perbuatan minta syafaat dari para Nabi, orang saleh, dan malaikat serta menetapkannya sebagai salah satu bentuk kekafiran yang membuat darah pelakunya halal untuk ditumpahkan dan harta mereka untuk dirampas. Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan sesungguhnya perbuatan mereka menuju para malaikat, nabi, dan wali untuk meminta syafaat dan berharap semoga dengan ini mereka bisa meraih kedekatan diri pada Allah swt. sehingga menyebabkan darah mereka halal untuk ditumpahkan dan harta mereka untuk dirampas.
Suratan ini diperolehnya dari Ibnu Taimiyah mengatakan orang-orang yang diperangi Rasulullah saw. mengakui hal yang serupa bahwa berhala-berhala mereka tidak mengatur sesuatu apapun dan yang mereka harapkan dari berhala-berhala itu tidak lain adalah kedudukan dan syafaat di sisi Allah swt. Itulah juga yang terjadi sekarang, menghendaki syafaat dari siapa yang mereka maksud, padahal permintaan syafaat dari orang-orang saleh sama persis dengan ucapan orang-orang kafir sebagaimana disinyalir oleh al-Qur’an:

مَا نَعْبُدُهُمْ اِلُّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَی اللهِ زُلْفَی ﴿ الزُّمَر: 3 ﴾

Artinya: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka lebih mendekatkan kami kepada Allah.” (QS. az-Zumar: 3).

ARTI SYAFAAT

Kata syafa’at berasal dari akar kata syaf’ yang berarti sepasang, lawan dari kata witr yang berarti ganjil atau tunggal. Sehubungan dengan pembahasan ini, seakan-akan pemberi syafaat digabungkan dengan sarana peminta syafaat yang masih kurang dan dengan perantara pemberi syafaat itu maka sarana tersebut menjadi sempurna dan mencapai target penerimaan serta memiliki pengaruh, sehingga orang yang meminta syafaat berhak meraih apa yang dia inginkan dan memperoleh apa yang sebelumnya tidak layak dia peroleh lantaran sarananya yang kurang dan terbatas.

LETAK SYAFAAT

Seseorang tidak mungkin diberi syafaat apabila dia menghendaki pahala atau kedudukan tertentu tanpa berupaya ke arah sana dan menyiapkan faktor-faktor tercapainya pahala serta kedudukan tersebut. Seseorang akan diberi syafaat apabila dia mempunyai potensi dan kelayakan untuk mengenakan kesempurnaan dan menempati posisi yang diinginkan serta sebelumnya dia telah berusaha sekuat tenaga untuk itu, hanya saja dia belum sukses mencapai tujuan akibat sarana yang dia upayakan belum lengkap dan masih terbatas. Kondisi seperti inilah pemberi syafaat akan berperan aktif dalam menutupi kekurangan sarana tersebut, karena pada hakikatnya syafaat adalah melengkapi sebab dan tidak indepeden dalam berpengaruh.

PERAN PEMBERI SYAFAAT

Pemberi syafaat tidak berperan sebagai suatu yang menggagalkan kepemimpinan Tuhan atau membatalkan penyembahan hamba dan peran pemberi syafaat juga tidak berarti mengangkat tangan dari hukum yang telah ditetapkan, melainkan dia menghadap Tuhan dengan mengedepankan sifat-sifat Tuhan yang mengandung pengampunan terhadap hamba dan belas kasih padanya, seperti sifat kemurahan hati, kedermawanan, pengampunan, dan … .
Terkadang pemberi syafaat menghadap Tuhan dengan mengajukan sifat-sifat hamba yang menyebabkan rahmat, belas kasih, dan pengampunan-Nya terhadap hamba, sifat-sifat seperti kepercayaan yang benar, kejujuran dalam beriman, pencarian ridho Tuhan, cinta pada wali-wali Tuhan dan para kekasih-Nya, kondisi buruk hamba, kelemahan dan kehinaan hamba, dan … terkadang pula pemberi syafaat menghadap Tuhan dengan mengajukan sifat-sifat pada dirinya seperti kedekatan dia pada Tuhan, kedudukan dia yang tinggi di sisi Tuhan, dan … .Maka seakan-akan pemberi syafaat berkata demikian: Ya Tuhan! Aku tidak memohon-Mu untuk membatalkan hak kepemimpinan-Mu, aku tidak memohon-Mu untuk membatalkan hukum atau balasan yang sudah ditetapkan, melainkan aku memohon-Mu untuk memaafkan, karena Kau Maha Dermawan, atau karena hamba-Mu ini bodoh dan atau karena kedudukanku di sisi-Mu.
Jadi, pada hakikatnya syafaat adalah perantara untuk menarik keuntungan atau menolak kerugian dan keburukan dengan cara hukumah dan bukan penentangan. Yang dimaksud dengan hukumah adalah pemberi syafaat menyebutkan berbagai faktor yang berpengaruh dalam menghindarkan siksa dengan cara mengeluarkan terdakwa dari posisinya sebagai pendosa yang harus disiksa dan memindahkannya ke posisi lain sebagai orang yang layak dikasihani.
Orang yang baik bisa memperoleh syafaat dari malaikat atau yang lain setelah mendapatkan mandat dan ridho Allah swt., tapi ada juga cara lain, seorang hamba bisa menghadap Allah swt. dengan mengedepankan rahmat-Nya atau mengajukan kerendahan dirinya serta bertaubat kepada Dia dan beramal saleh, dengan cara ini dia juga akan memindahkan dirinya dari posisi berdosa ke posisi yang bagus. Allah swt. berfirman tentang orang-orang ini:
فَأُلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِم حَسَنَاتٍ ﴿ الفرقان: 70﴾

Artinya: “Maka mereka itulah orang yang Allah menggantikan kejahatan mereka dengan kebaikan.” (QS. al-Furqan: 70).
Oleh karena itu Allah swt. mampu dan berhak menggantikan kejahatan dengan kebaikan sebagaimana Dia juga mampu dan berhak merubah catatan amal seseorang menjadi nol, Allah swt. berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَی مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُوْرًا ﴿ الفرقان: 23 ﴾

Artinya: “Dan Kami datang kepada apa-apa yang mereka kerjakan dari amal, lalu Kami menjadikannya debu berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).

PEMBERI SYAFAAT

Syafaat ada dua macam: pertama adalah syafaat alami, pemberi syafaat di sini adalah faktor-faktor alam dalam kapasitasnya sebagai perantara antara Allah swt. dan sesuatu. Adapun yang kedua adalah syafaat hukum, yakni syafaat yang berlaku di alam tugas dan kewajiban, di antaranya adalah apa yang di dunia bisa menghasilkan pengampunan dari Allah swt. dan kedekatan pada-Nya, maka pemberi syafaat di sini adalah perantara antara Allah swt. dan hambanya. Berikut ini akan disebutkan apa dan siapa saja yang memberikan syafaat kepada seseorang:

1. Taubat
Allah swt. berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَی أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ . وَ اََنِيْبُوْا اِلَی رَبِّكُمْ وَ اَسْلِمُوْا لَهُ ﴿ الزمر: 53-54 ﴾

Artinya: “Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS. az-Zumar: 53-54).
Taubat ini mencakup segala bentuk maksiat walau sampai batas kesyirikan.

2. Iman
Allah swt. berfirman:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ و ءَامِنُوْا بِرَسُوْلِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَ يَجْعَلْ لَكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهِ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ وَ اللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ ﴿ الحديد: 28 ﴾

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada rasul-Nya niscaya Allah memberikan dua bagian dari rahmat-Nya kepada kalian, dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang kalian berjalan dengannya, dan mengampuni kalian, dan Allahlah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hadid: 28).

3. Amal Saleh
Allah swt. berfirman:
وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ﴿ المائدة: 9 ﴾

Artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Maidah: 9).

4. Al-Qur’an
Allah swt. berfirman:
يَهْدِيْ بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَ يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَی النُّوْرِ بِاِذْنِهِ وَ يَهْدِيْهِمْ اِلَی صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ﴿ المائدة: 16 ﴾

Artinya: “Dengan kitab ini Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya kepada jalan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang benar.” (QS. al-Maidah: 16).

5. Nabi
Allah swt. berfirman:
وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ جَاءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوْا اللهَ وَ اسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوْا اللهَ تَوَّابًا رَحِيْمًا ﴿ النساء: 64 ﴾

Artinya: “Sungguh kalau mereka ketika menganiaya dirinya, mereka datang kepadamu lalu mereka meminta ampun kepada Allah, dan rasul pun memintakan ampun bagi mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa’: 64).

6. Malaikat
Allah swt. berfirman:
الَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَ مَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَ يَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا ﴿ المؤمن: 7 ﴾

Artinya: “Malaikat-malaikat yang memikul ‘arasy dan siapa-siapa yang berada di sekitarnya, bertasbih memuji Tuhannya, mereka beriman kepada-Nya serta memohon ampun untuk orang-orang yang beriman.” (QS. al-Mukmin: 7).

وَ المَلَائِكَةُ يُسَبُّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَ يَسْتَغْفِرُوْنَ لِمَنْ فِيْ الاَرْضِ اَلَا إِنَّ اللهَ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ﴿ الشوری: 5 ﴾

Artinya: “Dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. as-Syura: 5).

7. Orang-orang Beriman
Mereka memohon pengampunan untuk diri mereka sendiri dan juga untuk saudara-saudara mereka yang beriman. Allah swt. mengisahkan mereka dalam firman-Nya:
وَاعْفُ عَنَّا وَ اغْفِرْ لَنَا وَ ارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلَانَا ﴿ البقرة: 286 ﴾

Artinya: “Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami, Engkaulah pelindung kami.” (QS. al-Baqarah: 286).
Selain itu ada juga yang memberi syafaat pada hari kiamat dengan arti yang sudah dijelaskan sebelumnya, yakni mengeluarkan seseorang dari posisi berdosa yang pantas mendapat siksa dan memindahkannya ke posisi orang yang layak dikasihani, mereka adalah sebagai berikut:

1. Nabi
Allah swt. berfirman:
وَ قَالُوْا اتَّخَذَ الرَّحْمَانُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُوْنَ. لَا يَسْبِقُوْنَهُ بِالْقَوْلِ وَ هُمْ بِاَمْرِهِ يَعْمَلُوْنَ. يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَ مَا خَلْفَهُمْ وَ لَا يَشْفَعُوْنَ اِلَّا لِمَنِ ارْتَضَی وَ هُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُوْنَ ﴿ الأنبياء: 56-58 ﴾

Artinya: “Mereka berkata Yang Maha Pengasih mempunyai anak, Mahasuci Dia, bahkan mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-Nya. Dia (Tuhan) mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan apa-apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak dapat memberikan syafaat kecuali kepada siapa yang diridhoi-Nya, sedang mereka gemetar karena tunduk kepada-Nya.” (QS. al-Anbiya’: 26-28).
Dan di antara hamba Allah swt. yang dimuliakan dan dituduh sebagai anak Tuhan adalah Nabi Isa as.

2. Malaikat
Allah swt. berfirman:
وَ كَمْ مِن مَّلَكٍ فِيْ السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا اِلَّا مِنْ بَعْدِ اَنْ يَاْذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَ يَرْضَی ﴿ النجم: 26 ﴾

Artinya: “Berapa banyak malaikat di langit, tiada guna syafaat mereka sedikit pun kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan ridhoi.” (QS. an-Najm: 26).

3. Syahid
Allah swt. berfirman:
وَ لَا يَمْلِكُ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ الشَّفَاعَةَ اِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالحَقِّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ ﴿ الزخرف: 86 ﴾

Artinya: “Dan yang mereka seru dari selain-Nya, tidak mempunyai syafaat kecuali orang yang menjadi saksi atas kebenaran dan mereka mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 86).
Ayat ini menegaskan bahwa mereka mempunyai syafaat lantaran kesyahidan mereka terhadap kebenaran, dengan begitu maka seluruh orang syahid adalah pemberi syafaat yang memiliki kesyahidan. Yang dimaksud dengan kesyahidan di sini adalah kesaksian terhadap amal-amal manusia, bukan kesyahidan yang berarti kematian di medan perang.

4. Orang Beriman
Dari ayat sebelumnya bisa juga ditarik kesimpulan bahwa orang beriman tergolong mereka yang memberi syafaat, karena Allah swt. menyatakan mereka termasuk para syahid di hari kiamat:

وَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاللهِ وَ رُسُلِهِ اُولَائِكَ هُمُ الصِّدِّيْقُوْنَ وَ الشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ ﴿ الحديد: 19﴾

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya mereka itulah orang-orang yang benar dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan.” (QS. al-Hadid: 19).

SYAFAAT ADALAH DOA

Syafaat berarti memohon sesuatu dari pihak tertentu untuk yang disyafaati. Dan syafaat Rasulullah saw. atau yang lain berarti doa beliau kepada Allah swt. untuk selain dirinya dan permohonan beliau kepada-Nya agar mengampuni dosa dan memenuhi kebutuhan orang lain tersebut. Jadi, syafaat adalah salah satu ragam doa. Fakhrur Razi menafsirkan ayat:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيْبٌ مِنْهَا ﴿ النساء: 85 ﴾

Artinya: “Barangsiapa memberikan syafaat yang baik niscaya dia akan memperoleh bagian (pahala) darinya.” (QS. an-Nisa’: 85)
Dengan mengutip ucapan Muqatil bahwa “sesungguhnya syafaat kepada Allah swt. terealisasi dengan doa”, kemudian Muqatil mengajukan dalil hadis dari Abu Darda’ bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mendoakan saudara muslimnya di saat dia tidak hadir, niscaya doanya untuk saudara muslim tersebut akan dikabulkan, dan malaikat berkata kepadanya kamu akan mendapatkan hal yang serupa dengan itu”. [2]
Berarti, ungkapan lain dari permintaan syafaat kepada yang lain adalah permintaan doa kepada dia. Hal ini sudah terbukti bahwa permintaan doa kepada siapa saja orang yang beriman hukumnya adalah boleh sebagaimana Muhammad bin Abdul Wahab sendiri meyakini hukumnya permintaan doa kepada orang hidup adalah halal, bahkan pada dasarnya hukum ini tergolong hal-hal yang pasti dalam agama Islam. Dengan demikian, maka hukumnya permintaan syafaat (baca: doa) dari orang yang beriman adalah halal, apalagi jika yang dimintai syafaat adalah nabi, orang saleh, atau bahkan penghulu para rasul yaitu Rasulullah saw.
Mungkin Anda katakan bahwa pihak yang memberi syafaat harus mempunyai kedudukan di sisi pihak yang dimintai syafaat di sisinya (seperti Allah swt.). Dan di sini kami jawab bahwa Allah swt. telah menetapkan kehormatan tersendiri bagi setiap orang yang beriman, Aslami meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. saat berbicara dengan ka’bah: “Alangkah agungnya dirimu, alangkah agungnya kehormatanmu, dan alangkah agungnya kehormatan orang mukmin di sisi Allah swt. yang lebih agung dari kehormatanmu di sisi-Nya.” [3] Karena kehormatan itulah maka ada harapan syafaatnya diterima dan doanya dikabulkan. Saya tambahkan bahwa syafaat ini tidak hanya dimiliki oleh para nabi, melainkan juga dimiliki oleh setiap orang yang beriman dan malaikat.

SYAFAAT MALAIKAT


اَلَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَ مَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَ يَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا وَسِعَتْ كُلَّ شَيْئٍ رَّحْمَةً وَ عِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوْا وَ اتَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَ قِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ. رَبَّنَا وَ اَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِيْ وَعَدْتَهُمْ وَ مَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَ اَزْوَاجِهِمْ وَ ذُرِّيَّاتِهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. وَ قِهِمُ السَّيِّئَاتِ... ﴿غافر: 7-9﴾

Artinya: “Malaikat-malaikat yang memikul arsy dan siapa-siapa yang berada di sekitarnya, bertasbih memuji Tuhannya, mereka beriman kepada-Nya serta memohon ampun untuk orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang taubat dan mengikuti jalan-Mu dan hindarkanlah mereka dari siksa neraka jahim. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga-surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan siapa yang saleh di antara bapak-bapak mereka, isteri-isteri mereka dan keturunan mereka, sesungguhnya Engkaulah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan hindarkanlah mereka dari kejahatan… .” (QS. Ghofir: 7-9).
Fakhrur Razi menjelaskan bahwa ayat ini membenarkan adanya syafaat dari malaikat untuk orang-orang yang berdosa. [4]
Syafaat juga bisa datang dari Rasulullah saw. dan nabi-nabi yang lain, bahkan Allah swt. memerintahkan beliau untuk melakukan hal itu:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ ﴿ محمد: 19 ﴾

Artinya: “Dan mohon ampunlah bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19).
Al-Qur’an juga mengisahkan Nabi Nuh as. sebagai berikut:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ لِمَنْ دَخَلَ‌ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ ﴿ نوح: 28﴾

Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang mukmin laki dan perempuan.” (QS. Nuh 28).
Kesimpulannya adalah syafaat tidak lebih dari sebuah doa dan permohonan ampun.

SYAFAAT HAJAR ASWAD

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. berkata: “Jadikanlah batu ini sebagai saksi untukmu dalam kebaikan, karena sesungguhnya di hari kiamat nanti dia akan memberi syafaat dan syafaatnya pun diterima.” [5] Abu Na’im juga meriwayatkan hadis ini dalam Musalsalatnya dan menyatakan bahwa hadis ini sahih serta terbukti dari Ali bin Abi Thalib as.
Azizi menerangkan hadis di atas bahwa yang dimaksud dengan asyhidu hadzal hajar adalah jadikanlah Hajar Aswad ini sebagai saksi yang menguntungkan kalian, ‘ala khoirin taf’alunahu yakni dalam kebaikan yang kalian perbuat padanya seperti mencium, mengusap, atau berdoa dan zikir di sisinya, fa’innahu syafi’un berarti sesungguhnya dia memberi syafaat kepada siapa yang menjadikannya saksi dalam kebaikan, dan musayffa’un berarti syafaatnya diterima. [6]
Dari keterengan Azizi bisa dimengerti bahwa kata isyhad dalam hadis ini berarti permintaan syafaat dari Hajar Aswad, padahal Hajar Aswad hanya benda mati yang tidak berpikir dan juga tidak berbicara, meskipun demikian kita dianjurkan untuk meminta syafaat darinya dan sama sekali tidak tergolong perbuatan syirik. Jika memang perbuatan itu adalah syirik niscaya tidak akan berubah hanya disebabkan adanya anjuran untuk dilakukan, sebab hukum tidak bisa merubah subjek. Oleh karena itu, syafaat dan doa adalah satu kategori, dan perlu diingat bahwa Allah swt. tidak berkeharusan untuk menerima syafaat atau mengabulkan doa, tapi sesungguhnya penerimaan syafaat dan pengabulan doa merupakan kebajikan dan keutaman Dia swt.

SYAFAAT MAYIT

Ibnu Taimiyah berkata: “itu adalah bid’ah”. Menurut Ibnu Abdul Wahab dan San’ani: “itu adalah kafir dan syirik”. Lebih jelasnya Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa sehubungan dengan para Nabi, orang saleh, dan yang lain tidak disyariatkan pada kita mengucapkan “berdoalah untuk kami” atau “mohonlah pada Tuhanmu untuk kami”, dan ucapan-ucapan seperti ini tidak pernah diriwayatkan baik dari sahabat atau pun tabiin, selain itu tak satu pun dari para imam yang menganjurkan dan tidak ada satu hadis pun yang datang menysariatkan.
Kepercayaan bahwa permintaan syafaat pada orang mati adalah haram, tidak lain karena menurut mereka mustahil berkomunikasi dengan orang mati yang sudah tiada!, padahal sebenarnya Rasulullah saw., begitu juga para nabi yang lain, tetap hidup walau setelah nyawa mereka terpisah dari tubuhnya, beliau mendengar percakapan, beliau diberitahu shalawat dan salam orang padanya, dan beliau juga menjawab salam. Rasulullah saw. mengetahui sesuatu setelah wafat seperti beliau mengetahui sesuatu samasa hidupnya, suratan amal-amal ummat senantiasa dilaporkan kepadanya, dan beliau pun beristighfar untuk ummatnya. [7] Inilah keyakinan yang dipertegas oleh para ulama dan teolog islam, dan siapa saja tidak bisa mengingkarinya.

KEHIDUPAN RASULULLAH SAW. SETELAH WAFAT

Kehidupan Rasullah saw. setelah mati bukan hal asing yang masih perlu diperdebatkan, keyakinan ini disepakati baik oleh pakar teologi muslim ataupun yang lain. Samhudi [8] mengatakan tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah saw. tetap hidup walaupun ajal telah menjemputnya, begitu pula dengan para nabi yang lain as., semuanya hidup di dalam kubur mereka dan bukan sekedar hidup melainkan sebuah kehidupan yang lebih sempurna dari kehidupan para syahid yang difirmankan Allah swt. dalam kitab suci-Nya al-Qur’an, sedangkan Rasulullah saw. adalah penghulu para syahid, bahkan amal para syahid harus melewati timbangan beliau, beliau bersabda: “Pengetahuanku setelah wafat seperti pengetahuanku semasa hidupku”, riwayat dari Hafidz al-Mundziri.
Ibnu Adi meriwayatkan hadis dalam Kamilnya dari Tsabit, dan Tsabit dari Anas berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Nabi-nabi hidup dalam kuburan mereka dan mengerjakan shalat”, Abu Ya’la juga meriwayatkan hadis ini melalui perawi-perawi yang jujur, dan Baihaqi juga meriwayatkan hadis tersebut seraya menyatakan kesahihannya. [9]
Baihaqi sendiri menegaskan ada banyak bukti-bukti hadis shahih yang menunjukkan kehidupan para nabi as. setelah mereka wafat kemudian dia menyebutkan beberapa hadis pengalaman Rasulullah saw. bertemu dengan para nabi seraya mengucapkan salam kepada mereka, di antaranya beliau bersabda “-suatu saat- aku melewati Musa di saat dia berdiri menunaikan shalat di dalam kuburnya”.
Ibnu Majjah dengan sanad yang baik –seperti yang diakui oleh Mundziri- meriwayatkan hadis dari Ibnu Darda’ berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perbanyaklah shalawat kepadaku di hari jumat, karena itu pasti disaksikan dan malaikat pun akan memberi kesaksian. Sesungguhnya siapa saja yang mengirimkan shalawat kepadaku pasti shalawatnya akan disampaikan kepadaku”, kutanyakan pada beliau walaupun setelah mati? Lanjut Ibnu Darda’, Rasulullah saw. menjawab: “-iya- walaupun setelah mati, karena sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan tubuh para nabi as. maka sungguh nabi Allah senantiasa hidup dan diberi rezeki”.
Bazzaz melalui perawi-perawi yang shahih meriwayatkan hadis dari Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat pengembara yang menyampaikan –berbagai hal- dari ummatku”, beliau juga bersabda: “Kehidupanku baik untuk kalian, karena kalian dapat berbicara langsung denganku dan aku pun demikian, sementara wafatku juga baik untuk kalian karena perbuatan-perbuatan kalian dilaporkan kepadaku, jika aku menemukan hal yang baik maka aku memuja Allah untuk itu, dan jika kutemukan hal yang buruk maka kumohon ampun dari Allah untuk kalian”.
Abu Mansur Baghdadi menyebutkan bahwa para pembesar teolog islam dari sahabat kami mengatakan sesungguhnya Rasulullah Muhammad saw. tetap hidup setelah wafat, beliau senang dengan ketaatan ummatnya, dan sesungguhnya para nabi as. tidak pernah luluh.
Baihaqi dalam kitab al-I’tiqad menyebutkan bahwa setelah nyawa para nabi dicabut maka nyawa itu dikembalikan lagi kepada mereka sehingga mereka tetap hidup [10] di sisi Allah swt. sebagaimana para syahid. Rasulullah saw. juga melihat sebagian nabi-nabi as. di malam isra’-mi’raj. Baihaqi mengatakan kalau dirinya menyusun kitab khusus untuk membuktikan kehidupan nabi-nabi as.
Samhudi menambahkan pembuktian ini diperkuat dengan hadis yang berbunyi: “Sesungguhnya Isa putera Maryam berjalan di Madinah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, dan jika dia mengucapkan salam kepadaku maka aku pun menjawab salamnya”. Selain itu, kehidupan tubuh para nabi –di dalam kubur- seperti
saat-saat masih di dunia mendukung bukti-bukti kehidupan mereka setelah wafat, hanya saja tubuh mereka sekarang tidak lagi membutuhkan konsumsi, tapi sebaliknya mempunyai pengaruh yang kuat pada alam. Hal ini kami urai panjang lebar dalam kitab yang berjudul al-Wafa’u Lima Yajibu Lihadhroh al-Musthofa. [11]
Menurut Qasthalani, kehidupan para nabi as bukan hal yang diragukan lagi, melainkan sejak dahulu sampai sekarang merupakan masalah yang sudah diketahui, tetap dan terbukti, dan Rasulullah saw. adalah nabi paling utama di antara mereka, maka sudah barang tentu kehidupan beliau lebih sempurna dan lengkap daripada kehidupan nabi-nabi yang lain. [12]
Setelah mengamati pernyataan para ulama dan peneliti serta menyimak hadis-hadis shahih yang tercatat dalam kitab-kitab sunnah, apa masih ada tempat untuk pendapat Ibnu Taimiyah dan pengikutnya? Masih mungkinkah dibenarkan pendapat bahwa syafaat dan permohonan doa dari nabi atau orang saleh tergolong bid’ah, kafir dan syirik? Hanya satu ungkapan yang tersisa bahwa tidak ada pilihan lagi buat mereka kecuali menarik kembali apa yang mereka katakan sebelumnya, sepantasnya mereka mengkaji lagi hadis-hadis dan pernyataan para ahli agar dapat memahami betapa pendapat mereka jauh dari kajian ilmiah yang sesungguhnya. Jika ingin dipaksakan, sebenarnya pendapat mereka tidak menunjukkan apa-apa kecuali minimnya maklumat mereka tentang dasar-dasar pemikiran mereka sendiri.

PANDANGAN ULAMA TENTANG KEHIDUPAN SETELAH MATI

1. Seorang faqih bernama Abu Bakar al-Arabi berkata dalam karya yang berjudul « Fil Amad al-Aqsho fi Tafsir al-Asma’ al-Husna » : Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ahli Sunnah tentang penghidupan kembali orang-orang mukallaf di alam kubur dan mereka akan ditanya di sana. [13]

2. Saifuddin Amidi berkata dalam karyanya « Abkar al-Afkar » : Sebelum munculnya penentang, para pendahulu ummat bersepakat bahwa orang mati akan dihidupkan lagi di kuburnya dan setelah munculnya orang-orang yang menentang, keyakinan ini masih menjadi keyakinan mayoritas ummat. [14]

3. Subki berkata : Ijma’ Ahli Sunnah membenarkan kehidupan di alam kubur, Imam al-Haramain menyatakan dalam karya as-Syamil : Salaf atau pendahulu ummat bersepakat tentang siksa kubur, penghidupan kembali orang mati di kuburan mereka, pengembalian nyawa ke tubuh mereka dan ... . Setelah menyebutkan pendapat-pendapat ini, Subki mengatakan bahwa kesimpulannya adalah nyawa akan dikembalikan ke tubuh, dan dia hidup lagi saat pertanyaan alam kubur, dan dia tidak keluar dari dua kemungkinan, diberi nikmat atau disiksa mulai dari saat itu sampai hari kebangkitan. [15]

4. Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqim: … sesungguhnya para syahid, bahkan semua orang beriman ketika diziarahi oleh seorang muslim seraya mengucapkan salam kepada mereka, mereka dapat mengetahui ziarah dan salam itu serta mereka menjawab salam tersebut, Samhudi mengatakan: kalau orang beriman saja bisa mempunyai pengalaman seperti ini apalagi penghulu para rasul Muhammad saw.. [16]

5. Ghazali mengisahkan suatu saat Muhammad bin Wasi’ berziarah di hari jumat, maka ada seorang berkata kepadanya: andai kau tunda ziarah ini sampai hari senin nanti? Dia pun menjawab : telah sampai kepadaku berita bahwa orang yang mati mengetahui peziarahnya pada hari jumat dan sehari sebelum serta sesudahnya. [17]
Syaikh Mansur berbicara tentang kehidupan setelah mati sebagai berikut: ada hadis dari Ibnu Abbas bahwa suatu kala Rasulullah saw. Melewati kuburan Madinah, maka beliau menghadap ahli kubur seraya bersabda : « Assalamualaikum wahai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian lebih dulu pergi dan kami akan menyusul ». Hadis ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dengan silsilah perawi yang bagus.
Dia menjelaskan bahwa peziarah kubur disunnahkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, kemudian berdoa untuk dirinya dan untuk ahli kubur. Hendaknya dia menjaga keikhlasan, karena ikhlas adalah kunci pengabulan doa. Dari anjuran salam kepada ahli kubur bisa diketahui bahwa mereka dapat merasakan dan menyadari karena sesungguhnya kematian bukanlah ketiadaan mutlak, melainkan sebuah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain, tubuh boleh jadi hilang tapi nyawa masih memiliki perasaan sepenuhnya, entah itu berupa siksa yang dia rasakan atau nikmat sampai hari kebangkitan. [18]
Adapun mengenai hadis yang berbunyi “Allah pasti mengembalikan nyawaku kepadaku” dia terangkan maksudnya adalah Allah swt. mengembalikan lisan dan keterjagaanku setelah hanyut di alam malakut, karena pada hakikatnya para nabi adalah hidup di dalam kuburan mereka sebagaimana telah dijelaskan dalam bab hari jumat. [19]
Pada bab hari jumat dia nukil hadis Aus bin Aus dari Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang terutama dari hari-hari kalian adalah hari jumat, di hari ini Adam diciptakan, nyawa dicabut, terompet ditiup dan petir disambarkan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku di hari jumat, sesungguhnya shalawatmu dilaporkan kepadaku”, mereka bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kita dilaporkan kepadamu sedangkan kamu telah rapuh. Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan tubuh para nabi”. Dia sebutkan hadis ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan Nasa’I dengan silsilah perawi yang shahih.
Dia menjelaskan juga bahwa dengan perintah Allah swt. beliau dapat mendengar dan bergembira, beliau hidup di dalam kubur dan merasa senang dengan shalawat orang-orang yang mengirimkannya kepada beliau, shalawat itu meninggikan derajat beliau sekaligus derajat mereka yang mengirimkannya… adapun di selain hari jumat, maka shawalat itu sampai kepada beliau melalui para malaikat khusus, sebagaimana perbuatan-perbuatan ummat juga dilaporkan oleh malaikat khusus kepada beliau di hari kamis. [20]
Ada hadis dari Abdullah bin Abi Awfa meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Perbanyaklah shalawat kepadaku di hari jumat karena sesungguhnya shalawat itu sampai kepadaku dan aku mendengar”. Hadis ini diriwayatkan oleh Syafi’I dan Ibnu Majjah. [21]
Di samping itu, saya tambahkan juga bahwa di alam barzakh, daya pengetahuan nyawa jadi lebih kuat daripada saat dia masih di dunia, terbukti Allah swt. berfirman:

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِنْ هذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَائَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ ﴿ ق: 22 ﴾

Artinya: “Sungguh engkau berada dalam kelalaian tentang ini, maka Kami bukakan darimu apa yang menutupimu sehingga penglihatanmu hari ini sangat tajam.” (QS. Qaaf: 22).
Melihat penjelasan di atas, muncul sebuah pertanyaan bukankah hadis nabi yang berisi “Allah pasti mengembalikan nyawaku kepadaku sehingga aku dapat menjawab salam” menunjukkan kehidupan sejenak yang tidak permanen. Masalah ini bisa dijawab dengan beberapa poin berikut:

1. Ada kemungkinan maksud dari pengembalian nyawa di dalam hadis ini adalah pengembalian spiritual, yakni sebelum ada salam dari orang lain, nyawa mulia beliau saw. aktif dalam kehadiran Allah swt. dan alam arwah yang jauh lebih tinggi dari alam dunia. Dan ketika ada yang mengucapkan salam, maka nyawa beliau kembali konsen ke alam dunia untuk menerima salam tersebut dan menjawabnya, itu berarti pengembalian nyawa adalah perhatian ruhani dan penurunan nyawa sampai ke lingkungan dunia manusia setelah hanyut dalam kehadiran Allah swt. dan alam yang lebih mulia –sebagaimana yang dikatakan pula oleh Subki–.

2. Kemungkinan lain adalah sebenarnya ungkapan di dalam hadis ini digunakan sesuai dengan kadar pemahaman audien tentang alam selain dunia, sehingga seakan-akan diperlukan pengembalian nyawa untuk bisa mendengar salam dan menjawabnya, yakni seakan-akan beliau bersabda demikian: aku mendengar salam itu dan aku jawab sepenuhnya. Dan ini menunjukkan terjadinya pengembalian nyawa mulai dari salam pertama kepada beliau. Dan tidak ada ungkapan dalam hadis ini yang menunjukkan pencabutan nyawa lagi, selain itu juga tidak seorang pun berpendapat terjadinya pengembalian nyawa dan pencabutannya lagi secara berulang-ulang yang berarti kematian-kematian yang tak terhitung untuk satu orang.
Kita percaya pada penginderaan orang mati seperti pengetahuan dan pendengarannya, kalau mayit biasa saja memiliki kemampuan seperti itu apalagi para nabi, hal ini diyakini pula dengan hidupnya kembali orang mati di dalam kubur sebagaimana dinyatakan oleh sunnah, dan tidak ada bukti yang menunjukkan kematian berikutnya buat mayit yang sudah dihidupkan lagi, sebaliknya yang ada adalah dalil-dalil yang menjelaskan nikmat atau siksa kubur, dan tentunya untuk merasa nikmat atau tersiksa diperlukan sebuah kehidupan walau dalam skala yang terbatas seperti kehidupan bagian manusia yang berguna untuk merasa, dengan demikian sebenarnya masalah ini tidak perlu lagi pada bayyinah seperti anggapan kelompok Muktazilah. [22]
Dapat disimpulkan bahwa jawaban pertama untuk perkataan Ibnu Taimiyah –yang melarang permintaan syafaat dari para nabi – adalah sesungguhnya mereka hidup di dalam kuburan. Oleh karena itu, permintaan syafaat kepada mereka tidak terhitung permintaan kepada mayit.
Adapun jawaban berikutnya adalah sesungguhnya para syahid tetap hidup sebagaimana ditegaskan oleh ayat suci Al-Qur’an:

وَ لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا بَلْ اَحْيآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ ﴿ آل عمران: 169 ﴾

Artinya: “Dan janganlah kalian anggap mati orang-orang yang gugur di jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya diberi rezeki.” (QS. ali Imran: 169).
Di sini jelas bahwasanya derajat kenabian lebih agung daripada derajat kesyahidan, dan tinta ulama lebih utama daripada darah syuhada [23]. Kalau orang yang gugur di jalan Allah swt. hidup, maka sudah pasti Rasulullah saw. juga hidup. Hal ini ditegaskan juga oleh Baihaqi di dalam kitab Al-I’tiqad: sesungguhnya para nabi as. setelah dicabut nyawa mereka akan dikembalikan lagi nyawa tersebut kepada mereka, dan mereka hidup di sisi Tuhannya diberi rezeki seperti syuhada yang hidup di sisi Allah swt. dan diberi rezeki. [24]
Jawaban ketiga untuk Ibnu Taimiyah: anggap saja kita sependapat bahwa mayit tidak bisa mendengar pembicaraan dan juga tidak mampu untuk memenuhi pesanan doa, akan tetapi perbuatan minta doa dari mayit sama sekali tidak berakibat fatal atau kekafiran karena perbuatan itu seperti halnya meminta orang buta untuk membaca dengan anggapan orang itu bisa melihat dan membaca.
Jawaban keempat adalah: perbuatan salaf –termasuk di antaranya sahabat nabi dan yang lain– meminta syafaat dan pertolongan serta memohon pada Rasulullah saw. untuk mendoakan mereka, padahal beliau sudah meninggal dunia bahkan perbuatan salaf ini tidak hanya ditujukan kepada Rasulullah saw. melainkan juga kepada orang-orang yang saleh, tentu saja perbuatan salaf ini menjadi bukti pembolehan dan pensyariatan. Adapun contoh-contohnya akan kita sebutkan nanti.
Jawaban kelima: sesungguhnya nyawa tetap kekal dan tidak hilang setelah kematian, nyawa tersebut masih bisa diminta dan didoakan. Berkenaan dengan ayat suci al-Qur’an yang berbunyi:

قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ ( الإسراء: 85 (

Artinya: “Katakanlah nyawa itu adalah urusan Tuhanku.” (QS. al-Isra’: 85)
Fakhrur Razi membawakan tujuh belas bukti kekalnya nyawa setelah kematian tubuh. Berikut ini di antara bukti-bukti yang dia ajukan:

1. Ucapan beliau as. pada pidato panjang yang berbunyi: “Sampai ketika mayit diusung di atas petinya, nyawa dia seakan mengepakkan sayap dan berkata: Wahai keluarga dan anakku, jangan sampai dunia mempermainkan kalian sebagaimana dia telah mempermainkanku…”. Ini merupakan penjelasan bahwa ketika tubuh manusia mati dan diusung dalam peti, dirinya tetap hidup dan mengerti … .

2. Firman Allah swt. yang berbunyi:

يَا اَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِيْ اِلَی رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةَ ﴿ الفجر: 27-28 ﴾

Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (QS. al-Fajr: 27-28).
Ayat ini menunjukkan bahwa sesuatu yang kembali kepada Allah swt. setelah kematian tubuh adalah tetap hidup ridha terhadap Allah swt. dan diridhai-Nya, dan sudah barang tentu yang ridha terhadap Allah swt. tiada lain adalah manusia, oleh karena itu manusia tetap hidup walau tubuhnya sudah mati … .

3. Ucapan beliau as. yang berbunyi: “Nabi-nabi Allah swt. tidak mati, melainkan mereka dipindahkan dari satu rumah ke rumah yang lain”, atau berbunyi “Barangsiapa telah mati maka sejak itu pula kiamatnya dimulai”, atau berbunyi “Kuburan adalah taman dari taman-taman surga atau sebaliknya lubang dari lubang-lubang neraka…”. Teks-teks hadis ini merupakan bukti bahwa manusia tetap hidup walau tubuhnya sudah mati … .

4. Firman Allah swt. yang berbunyi:
حَتَّی اِذَا جَاءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَ هُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ ﴿61﴾ ثُمَّ رُدُّوْا اِلَی اللهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ﴿ الأنعام: 61-62 ﴾

Artinya: “Hingga bilamana kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, utusan-utusan Kami itu mewafatkannya dan mereka tidak lalai. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah Tuhan mereka yang benar.” (QS. al-An’am: 61-62).
Ayat ini menjadi bukti pengembalian mereka kepada Tuhan mereka Allah swt. di saat tubuh mereka telah mati, itu berarti apa yang dikembalikan kepada Allah swt. berbeda dengan tubuh yang sudah mati.

5. Kita melihat bahwa berbagai bangsa di dunia mulai dari India, Romawi, Arab, Ajam serta penghulu berbagai agama seperti Yahudi, Kristen, Majusi, Islam dan begitu pula sekte-sekte yang lain, mereka bersedekah untuk orang-orang mereka yang sudah mati, mereka doakan baik dan mereka ziarahi. Kalau ternyata mereka tidak hidup setelah tubuh mereka mati, maka sia-sialah perbuatan sedekah untuk mereka, berdoa untuk mereka dan juga pergi ziarah kepada mereka. Oleh karena itu, kesepakatan bangsa, agama dan sekte dunia untuk menyedakahi orang mati, mendoakan, dan juga menziarahinya, menunjukkan bahwa fitrah mereka yang sejati dan sehat menjadi saksi sesungguhnya manusia adalah sesuatu selain tubuh, sesuatu itu tidak akan mati, dan yang mati adalah tubuh. [25]
Intinya; Fitrah yang sehat meyakini kehidupan nyawa setelah mati, dan Al-Qur’an serta sunnah mengakui kekekalannya. Dengan demikian, apa lagi penghalang dan bahaya yang ditakutkan dari permohonan doa dan syafaat kepada arwah baik yang mereka itu adalah hidup sebagaimana dinyatakan oleh al-Qur’an, sunnah, dan fitrah? Apakah perbuatan ini menyebabkan bid’ah, kekafiran dan kesyirikan, atau sebaliknya pemikiran seperti itu muncul karena tidak merujuk kepada fitrah dan tidak merenungkan literatur Islam?

Kekekalan Nyawa dalam Pandangan Subki

Ketika Subki ditanya apakah arwah itu menghilang seperti tubuh? Dia menjawab: berbicara tentang arwah, adakalanya berdasarkan aliran hukama’ (para filsuf) dan adakalanya berdasarkan aliran mutasyarri’ (mereka yang memegang erat syariat dan bukti-bukti tekstual), … Permasalahan ini jika dipandang dalam aliran mutasyarri’ maka di situ ada kesepakatan pendapat bahwa nyawa tetap ada setelah berpisah dari tubuh manusia dan itu satu hal yang mungkin terjadi. Semua syariat menyatakan hal tersebut dan setahu saya dalam hal ini tidak ada perbedaan antara satu syariat dengan syariat yang lain, hanya saja Imam Fakhrud Din Razi berkata: Jika berbagai pandangan rasional di dunia ini digabungkan dengan kata-kata mayoritas nabi dan hakim, niscaya akan melahirkan sebuah kepastian dan keyakinan tentang kekalnya jiwa atau nyawa. Ungkapan mayoritas nabi sekilas menyiratkan tidak adanya kesepakatan di antara mereka tentang kekekalan nyawa. Tapi isyarat ini tidaklah wajar dan begitu berarti, saya yakin dia tidak bermaksud demikian karena di awal pembicaraan dia mengatakan bahwa para nabi memiliki pandangan yang sama tentang kekekalan nyawa.
Inilah kebenaran yang harus diyakini, keyakinan yang ditetapkan oleh syariat-syariat, kitab-kitab suci yang diturunkan, ayat-ayat al-Qur’an, dan hadis-hadis dalam jumlah besar yang tidak mungkin ditakwil, melainkan di situ ada kepastian makna dan maksud bahwa jiwa atau nyawa tetap hidup setelah berpisah dari tubuh, tidak seorang muslim pun yang meragukan hal ini, baik itu orang alim maupun orang awam. Bahkan lebih dari itu, menurut pengakuan mereka bahwa kehidupan arwah setelah berpisah dari tubuh tidaklah terbatas bagi orang-orang tertentu saja melainkan semua orang mati juga demikian, tubuhnya luluh dan nyawanya tetap hidup. Sebagian kelompok menyatakan adanya ijma’ pendapat dalam hal itu dan mereka memberikan komentar pada ayat yang berbunyi:

وَ لَا تَقُوْالُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا بَلْ اَحْيَاءٌ وَ لكِنْ لَا تَشْعُرُوْنَ ﴿ البقرة: 154 ﴾

Artinya: “Dan janganlah kalian katakan terhadap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup tetapi kalian tidak menyadari.” (QS. al-Baqarah: 154).
Hukum ini tidak khusus untuk mereka yang terbunuh di jalan Allah swt. karena ayat ini dimaksudkan untuk menjawab orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan dan meyakini kematian manusia berarti hilang secara total serta tidak menyisakan bekas apapun berupa perasaan atau semacamnya sehingga berdasarkan ayat ini Allah swt. menolak kepercayaan mereka. Tentu saja kehidupan orang mati itu berbeda antara satu sama yang lain, kehidupan orang yang mati syahid lebih mulia daripada kehidupan orang yang mati mukmin dan tidak syahid, sementara level kehidupan orang yang mati kafir dan sedang disiksa berada di bawah kehidupan orang yang mati mukmin, hanya saja mereka sama dari sisi bahwa mereka tetap hidup, sebagian tubuh mereka ada yang usang, dan sebagian lagi ada yang tidak, sementara arwah mereka tetap dalam keadaan hidup. Inilah yang diajarkan oleh agama Islam. Apabila seseorang ingin menelusuri ayat-ayat suci al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. yang berhubungan dengan masalah ini, niscaya dia akan menemukannya dalam jumlah yang sangat besar, dan tidak perlu lagi pembahasan ini lebih diperpanjang karena pada hakikatnya masalah ini merupakan sebuah kepastian dalam agama Islam. [26]
Lalu, apa alasan Wahabisme menyerang dan mengkafirkan orang yang mencari perantara dan memohon syafaat dari arwah para nabi, wali, dan orang saleh?! padahal berdasarkan bukti-bukti di atas, kehidupan arwah mereka adalah salah satu hal-hal yang pasti menurut agama Islam. Mungkin, alasan mereka menyerang dan mengkafirkan adalah kelalaian mereka dan tidak adanya mereka merenungkan ayat serta hadis, dan uzur orang lalai bisa dimaklumi jika dia memang betul-betul tidak mampu, tapi apabila kelalaian itu karena acuh tak acuh dan kecerobohan maka dia tidak bisa dimaafkan.
Jawaban keenam untuk Ibnu Taimiyah dan pengikutnya adalah sebetulnya keyakinan bahwa orang mati itu mendengar atau tidak mendengar, bukan termasuk ushuluddin atau pokok-pokok agama, tidak tergolong rukun agama dan juga tidak terhitung wajib dari sekian kewajiban yang ada dalam agama Islam sehingga apabila seseorang tidak mempercayainya berarti dia terjerumus dalam bid’ah. Orang yang percaya kalau orang mati itu mendengar, tidak keluar dari dua kemungkinan yakni kemungkinan pertama dia benar dan sesuai dengan kenyataan sehingga dia berhak menerima pahala yang setimpal dan kemungkinan kedua adalah dia salah karena kenyataannya adalah orang mati tidak bisa mendengar, tapi kesalahan dia dimaklumi dan dimaafkan berdasarkan hadis yang tercatat dalam kitab-kitab induk Shahih dan Sunan. [27] Oleh karena itu, keyakinan ini tidak menyebabkan seseorang menjadi musyrik atau telah berbuat dosa. Apa mungkin Fakrur Razi; seorang mufassir terkemuka [28] yang meyakini nyawa adalah tetap hidup dan inilah yang menjadi sisi pembenar doa untuk orang mati, ziarah kepadanya, nadzar, dan sedekah untuknya dinyatakan kafir, syirik, dan bid’ah!!? Para mufassir juga mengatakan bahwa ayat:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ ) يونس: 92 )

Artinya: “Maka pada hari ini Kami selamatkan engkau dengan badanmu.” (QS. Yunus: 92)
Ayat tersebut berisi pernyataan yang menjelaskan tentang adanya jiwa di balik tubuh manusia. [29]

Contoh Hadis tentang Syafaat

1. Anas bin Malik meriwayatkan dirinya memohon kepada Rasulullah saw. agar memberinya syafaat di hari kiamat, beliau menjawab: akan kupenuhi permintaanmu, Anas kembali bertanya: di mana aku akan memintamu? Beliau menjawab: di atas Shiroth. [30]

2. Suatu saat Sawad bin Qarib mendatangi Rasulullah saw. dan memohon syafaat kepadanya dalam bentuk puisi yang artinya: sedialah dirimu memberi syafaat kepadaku di hari yang tidak ada satu syafaat pun yang mencukupi Sawad bin Qarib kecuali syafaat darimu. [31]

Syafa’at dalam Sejarah Sahabat

1. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib as. selesai memandikan jenazah Rasulullah saw. dia berkata: demi ayah dan ibuku… engkau bagus saat hidupmu, dan bagus pula saat matimu… ingatlah kami di sisi Tuhanmu. [32]

2. Ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar menyingkap penutup wajah beliau dan menciumnya seraya berkata seperti yang diucapkan Ali bin Abi Thalib as. [33]

3. Suatu saat ketika Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah, masyarakat mengalami kekurangan hujan dan paceklik, maka Bilal bin Haris –salah seorang sahabat nabi– mendatangi kuburan Rasulullah saw. dan berkata: wahai Rasulullah saw. mintakanlah hujan untuk ummatmu karena sesungguhnya mereka telah hancur. Beliau menghampiri Bilal di dalam tidurnya dan memberitahukan bahwa mereka akan segera disirami hujan. [34]
Hadis ini menunjukkan beberapa hal di antaranya adalah permintaan seseorang kepada Rasulullah saw. yang berada di alam Barzakh untuk memohon hujan kepada Allah swt. Doa beliau kepada Allah swt. di alam barzakh bukanlah hal yang mustahil, dan sesungguhnya beliau –yang sedang berada di alam Barzakh– mengetahui permintaan orang yang berada di alam yang berbeda sebagaimana beliau mengetahui permintaan mereka saat masih di dunia. Dengan demikian maka keyakinan dan perbuatan ini bukan bid’ah, syirik, atau kafir.
Mungkin Anda berpikir bahwa permintaan syafaat kepada orang mati dilarang karena dikhawatirkan muncul perasaan menyembah pihak yang memberi syafaat. Pemikiran ini tidak benar karena di dalam permintaan syafaat kepada orang hidup pun ada kekhawatiran yang sama, lalu kenapa Anda memperbolehkan satu dan melarang yang lain? Apa alasan yang menepis kekhawatiran tersebut dari permintaan syafaat kepada orang hidup?
Semua bukti ayat, hadis, dan sejarah ini menutup semua jalan pemikiran Wahabisme yang mengharamkan permintaan syafaat kepada orang mati. Dan aneh sekali ketika mereka mengaku tidak ada bukti yang mencatat bahwa sahabat atau tabiin pernah meminta syafaat kepada orang mati.

Kritik dan Jawaban

Meskipun ada banyak bukti yang membenarkan syafaat, tapi masalah ini belum tuntas begitu saja. Ada beberapa kendala pemikiran seputar konsep syafaat yang mungkin mengganggu benak seseorang. Kendala-kendala itu adalah sebagai berikut:

1. Kalau memang perbuatan menghindarkan penjahat dari siksa adalah adil maka sebaliknya adalah zalim. Dan apabila menghindarkan penjahat dari siksa adalah zalim, bagaimana mungkin para nabi meminta hal yang zalim?.
Jawabannya adalah menghindarkan penjahat dari siksa bukan berarti membatalkan hukuman yang pertama atau menentang siksa dan yang sebenarnya dilakukan oleh para nabi adalah mengeluarkan terdakwa dari posisi orang yang wajar untuk disiksa serta memindahkannya ke posisi orang yang layak dikasihani. Dengan demikian, maka keputusan Allah swt. menyiksa pelanggar adalah keputusan yang adil, dan keputusan Dia untuk mengampuni orang yang disyafaati juga adil; karena masing-masing memiliki kondisi yang berbeda. Secara tidak langsung, di sini juga terdapat penghargaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada para nabi sebagai kekasih dan makhluk terdekat-Nya.

2. Salah satu konsekuensi syafaat adalah penyimpangan; karena perbuatan menghindarkan siksa dari pelaku dosa akan berujung pada suatu hal yang mustahil, yaitu menggagalkan tujuan Tuhan. Sementara, sunnah Allah swt. menuntut perbuatan-perbuatan-Nya terlaksana tanpa sedikitpun gangguan dan penyimpangan, dan apa yang sudah menjadi keputusan Allah swt. pasti berlaku sejalan dan tidak terkecualikan.
Jawabannya adalah Allah swt. enggan memberlakukan perkara kecuali dengan sebabnya masing-masing dan setiap keputusan pasti memiliki sebab tersendiri, tapi adakalanya di sana terdapat sebab-sebab lain dalam jumlah yang lebih besar menuntut hal yang berbeda dengan yang dikehendaki oleh sebab pertama, sehingga hal kedua yang menjadi kenyataan. Di samping itu, perlu ditambahkan juga bahwa sunnah Allah swt. bukan hanya satu melainkan ada banyak sunnah yang berdasarkan sifat-sifat Tuhan, masing-masing dari sunnah itu lengkap, sempurna dan universal. Sementara yang terjadi dalam syafaat tidak keluar dari kerangka sunnah Allah swt. secara umum, hanya saja ada perpindahan dari satu sunnah yang berdasarkan sifat Maha Pendendam kepada sunnah yang berdasarkan sifat Maha Pengampun dikarenakan kondisi manusia yang berubah setelah diberi syafaat.

3. Syafaat yang populer diperbincangkan berarti mendesak pihak yang dimintai syafaat di sisinya -seperti Allah swt.- untuk meninggalkan apa yang dia hendak lakukan, atau sebaliknya mendesak dia untuk melakukan apa yang ingin dia tinggalkan. Oleh karena itu, syafaat berarti campur tangan dalam kehendak Allah swt. serta keputusan-Nya, dan itu mustahil.
Kritikan ini dijawab bahwa syafaat bukan berarti perubahan dalam kehendak dan pengetahuan, melainkan perubahan dalam hal yang dikehendaki dan yang diketahui. Allah swt. mengetahui bahwa seseorang bisa memiliki kondisi yang berbeda-beda, maka suatu saat dia berada dalam kondisi tertentu dikarenakan sebab dan faktor-faktor tertentu pula sehingga Allah swt. pun menghendaki sesuatu yang sesuai dengan kondisi orang tersebut, tapi di saat yang lain dia mengalami kondisi yang berbeda karena munculnya sebab dan faktor-faktor lain sehingga Allah swt. menghendaki suatu yang berbeda dengan kehendak-Nya yang pertama.
Allah swt. berfirman:

كُلُّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَاْنٍ ) الرحمن: 29 )

Artinya: “Setiap hari Dia dalam urusan.” (QS. ar-Rahman: 29).

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ الْكِتَابِ ) الرعد: 39 )

Artinya: “Allah hapuskan apa yang Dia kehendaki dan Dia tetapkan (apa yang Dia kehendaki) dan di sisi-Nya ada ummul kitab.” (QS. ar-Ra’d 39).

4. Janji-janji yang diberikan syafaat membuat orang berani untuk bermaksiat.
Kalau memang itu benar, tuduhan ini juga bisa diarahkan kepada salah satu ajaran Islam yang dikenal dengan taubat, betapa banyak ayat yang menunjukkan luasnya pengampunan dan kasih sayang Allah swt. yang dapat menghapus dosa-dosa, apakah ini juga dituduh sebagai penyebab orang menjadi berani berbuat dosa?!. Selain itu, janji syafaat akan menjadikan orang berani bermaksiat apabila syafaat tersebut mencakup semua pelaku dosa dengan segala kriterianya dan menghindarkan semua siksa dengan segala macam dan waktunya, tapi kenyataannya bahwa semua itu masih samar, tak seorang pun tahu apakah dirinya layak mendapat syafaat atau tidak? Tak seorang pun tahu apakah dosanya ini termasuk dosa-dosa yang bisa diselamatkan oleh syafaat ataukah tidak? Oleh karena itu, tuduhan bahwa syafaat membuat orang berani untuk bermaksiat adalah tidak benar.
Terlebih lagi apabila kita meresapi dalil-dalil syafaat yang menyinggung sebagian syarat-syaratnya, seperti Firman Allah swt. yang berbunyi:

يَوْمَ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمَانُ وَ رَضِيَ لَهُ قَوْلًا ) طه: 109)

Artinya: “Pada hari itu tidak berguna syafaat kecuali bagi orang yang diizinkan oleh Yang Maha Pengasih dan Dia meridhai perkataannya.” (QS. Thaha: 109).

مَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ حَميْمٍ وَ لَا شَفِيْعٍ يُطَاعُ ) غافر: 18 )

Artinya: “Tiadalah bagi orang-orang zalim itu teman setia dan tiada pemberi syafaat yang dipatuhi.” (QS. Ghofir: 18).
Akan lebih baik, apabila pengkritik mau mengerti bahwa syafaat bukan penyemangat dosa melainkan faktor penting dalam menimbulkan rasa optimis terhadap masa depan. Seorang yang terjaga dari dosa dan kejahatannya, tidak boleh pesimis akan masa depan, peluang untuk merubah nasib masa depannya belum tertutup, pertama-tama dia harus merubah pola hidupnya dengan ketaatan kepada Allah swt., setelah itu sebaiknya dia berusaha meraih syafaat manusia-manusia suci untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah swt. dan menyelamatkannya dari siksa atas dosa-dosa yang pernah dia perbuat. [35]

5. Kenapa tidak Allah swt. saja yang secara langsung mengampuni dosa-dosa manusia, dan tidak perlu lagi adanya perantara atau pemberi syafaat?!
Alam semesta diciptakan untuk manusia dengan sistem sebab dan akibat, sehingga manusia harus memenuhi kebutuhannya melalui sebab-sebab yang sudah ditetapkan. Termasuk di antaranya ketika seseorang hendak memenuhi kebutuhan spiritualnya maka dia juga harus mencari jawabannya sesuai dengan cara yang sudah ditetapkan, dan Allah swt. telah menetapkan makhluk-makhluk tertentu sebagai perantara untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia -seperti pengampunan dosa-, maka tidaklah benar menanyakan kenapa tidak Allah swt. saja yang secara langsung mengampuni dosa dan tidak perlu lagi pada pemeberi syafaat?!, sama halnya mempertanyakan kenapa tidak Allah swt. saja yang secara langsung menerangi bumi dan tidak perlu lagi pada matahari?!.
Allah swt. memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah berdosa agar mendatangi Rasulullah saw. dan memohon beliau untuk memintakan ampun buat mereka di samping mereka sendiri meminta ampun, Allah swt. berfirman:

وَ لَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ جَاؤُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوْا اللهَ وَ اسْتَغْفَرَ لَهُم الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوْا اللهَ تَوَّابًا رَحِيْمًا ) النساء: 64 )

Artinya: “Dan sungguh kalau mereka ketika menganiaya dirinya, mereka datang kepadamu lalu mereka meminta ampun kepada Allah, dan rasul pun memintakan ampun bagi mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa’: 64).
Cara seperti ini selain efektif untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia, juga merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan bagi mereka yang diberi hak untuk memberi syafaat.

6. Menurut kesaksian al-Qur’an, Allah swt. menyatakan orang-orang yang meminta syafaat di zaman Rasulullah saw. sebagai musyrik:

وَ يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَالَا يَضُرُّهُمْ وَ لَا يَنْفَعُهُمْ وَ‌يَقُوْلُوْنَ هؤُلآءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ ﴿ يونس: 18 )

Artinya: “Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak mendatangkan mudarat dan tidak mendatangkan manfaat, dan mereka berkata mereka (berhala) itu adalah pemberi syafaat (penolong) kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).
Memang tidak diragukan lagi bahwa orang-orang musyrik pada zaman itu meyakini berhala-berhala sembahan mereka mempunyai posisi sebagai pemberi syafaat, tapi perlu juga diperhatikan bahwa ayat ini menjelaskan penyembahan mereka terhadap berhala-berhala tersebut di samping meyakininya sebagai penolong atau pemberi syafaat. Dua hal yang bersamaan inilah membuat mereka tercela dan tergolong orang-orang musyrik. Di samping itu, mereka meyakini syafaat yang dimiliki berhala sembahan mereka adalah tanpa batas dan syarat, padahal Allah swt. tidak pernah memberikan kedudukan seperti ini kepada siapa pun, itulah kenapa mereka terhina. Adapun apabila seseorang meyakini kedudukan pemberi syafaat ini dimiliki oleh orang-orang yang ditentukan Allah swt. dan penggunaannya pun sesuai dengan izin Dia serta tidak sampai batas penyembahan, maka itu boleh dan dibenarkan.

7. Al-Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa syafaat adalah hak istimewa Allah swt. Oleh karena itu, dilarang meminta syafaat kecuali kepada-Nya:
قُلْ للهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا ﴿ الزمر: 44 ﴾

Artinya: “Katakanlah, hanya kepunyaan Allah semua syafaat itu.” (QS. az-Zumar: 44).
Pada mula dan hakikatnya syafaat adalah milik Allah swt. semata, karena itu berpengaruh dalam menentukan nasib manusia dan terhitung pengejawantahan sifat Tuhan Yang Maha Pengatur. Namun, hal ini tidak bertentangan dengan syafaat nabi, wali, orang saleh atau yang lain karena syafaat mereka tidaklah independen, melainkan sepenuhnya tergantung pada izin dan kehendak Allah swt. Kenyataan ini digambarkan oleh al-Qur’an sebagai berikut:
مَنْ ذَا الَّذيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ اِلَّا بِاِذْنِهِ ﴿ البقرة: 255﴾

Artinya: “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. al-Baqarah: 255).
مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْ بَعْدِ اِذْنِهِ ﴿ يونس: 3)

Artinya: “Tidak seorang pun sebagai pemberi syafaat kecuali sesudah izin-Nya.” (QS. Yunus: 3).

Syafa’at dan Ummat

Untuk melengkapi tulisan ini, ada baiknya kita menyimak perkataan ulama sebagai perwakilan ummat Islam tentang syafa’at.
Abu Mansur Maturidi (w. 333H) mengomentari ayat:
وَ لَا يَشْفَعُوْنَ اِلَّا لِمَنِ ارْتَضَی ﴿ الأنبياء : 28 ﴾

Artinya: “Dan mereka tidak dapat memberikan syafaat melainkan bagi siapa yang diridhoi-Nya.” (QS. al-Anbiya’: 28).
Ayat tersebut di atas merupakan bukti syafaat yang diterima menurut agama Islam. [36]
Tajuddin Abu Bakar Kullabadzi (w. 380H) berkata: ulama sepakat bahwa wajib bagi seorang muslim untuk meyakini semua yang difirmankan Allah swt. tentang syafaat dan dipertegas oleh hadis-hadis… . [37]
Syaikh Mufid (336-413H) berkata: Syiah Imamiyah sepakat bahwa di hari kiamat nanti Rasulullah saw. akan memberi syafaat kepada sekelompok orang yang berbuat dosa besar, begitu juga Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan imam-imam yang lain. Dan berkat syafaat mereka maka Allah swt. menyelamatkan banyak orang yang berdosa dari neraka. [38]
Syaikh Thusi (385-460H) berkata: menurut mazhab Syiah Imamiyah, Rasulullah saw., sebagian dari sahabat beliau, para imam suci as., dan kebanyakan orang mukmin yang saleh diberi izin untuk memberi syafaat. [39]
Abu Hafs Nasafi (w. 538H) berkata: syafaat para rasul dan orang islam yang baik untuk orang yang berdosa adalah terbukti melalui hadis-hadis mustafidh –hadis yang jalur perawinya banyak, tapi tidak sampai batas hadis mutawatir–.[40] Taftazani yang mengomentari tulisan Nasafi, membenarkan perkataan ini sepenuhnya. [41]
Qadhi Iyadh bin Musa (w. 544H) berkata: mazhab Ahli Sunnah meyakini syafaat baik melalui bukti-bukti rasional maupun dalil-dalil tekstual berupa ayat dan hadis yang membenarkannya. [42]
Qadhi Baidhawi menafsirkan ayat:
وَ اتَّقُوْا يَوْمًا لَا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَ لَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ ﴿ البقرة: 48 ﴾

Artinya: “Dan Takutlah kalian akan suatu hari yang seorang pun tidak dapat membela orang lain sedikit jua, dan tidak dapat diterima daripadanya syafaat.” (QS. al-Baqarah: 48).
Bahwasanya sebagian orang beranggapan kalau ayat ini merupakan bukti yang menafikan adanya syafaat untuk pelaku dosa besar, padahal perlu diketahui bahwa ayat ini khusus untuk orang-orang kafir, karena banyak sekali ayat dan hadis yang menunjukkan adanya syafaat untuk ummat Islam. [43]
Fattal Nisyaburi berkata: tidak ada perbedaan pendapat di antara muslimin bahwa syafaat adalah hal yang nyata dan terbukti untuk menggugurkan bahaya dan siksa. [44]
Ibnu Taimiyah Harrani (728H) berkata: Rasulullah saw. mempunyai tiga macam syafaat di hari kiamat … macam yang ketiga adalah syafaat bagi mereka yang berhak masuk neraka Jahannam. [45]
Nidzamuddin Qowsyaji (879H) berkata: muslimin sepakat terhadap adanya syafaat karena Firman Allah swt.:
عَسَی اَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُوْدًا ﴿ الإسراء: 79 ﴾

Artinya: “Semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra’: 79). [46]
Sya’rani Hanafi berkata: sungguh Rasulullah Muhammad saw. adalah pemberi syafaat pertama di hari kiamat … . [47]
Allamah Majlisi (1110H) berkata: mengenai syafaat, tidak ada perbedaan pendapat di antara muslimin karena tergolong hal-hal yang pasti menurut agama Islam, dan yang dimaksud dengan syafaat di sini adalah di hari kiamat nanti Rasulullah saw. akan memberi syafaat kepada ummatnya dan bahkan kepada ummat-ummat sebelumnya juga … . [48]
Muhammad bin Abdul Wahab (1115-1206H) berkata: syafaatnya Rasulullah saw., nabi-nabi yang lain, malaikat, wali Allah, dan anak kecil adalah sesuatu yang terbukti berdasarkan hadis-hadis yang ada … . [49]
Itulah sekilas pandangan ulama terdahulu sampai sekarang yang mencerminkan keyakinan ummat Islam dan satu-satunya yang bisa kita tangkap di saat membaca atau mendengar fatwa sumbang yang dicetuskan oleh Wahabisme mengingkari syafaat dan mengharamkan permohonan syafaat dari Rasulullah saw. atau yang lain adalah fatwa seperti ini menunjukkan mufti yang tidak menguasai sumber-sumber hukum Islam dan tidak mempunyai maklumat yang cukup tentang sejarah sahabat. Satu lagi bahwa fatwa ini tergolong kata-kata tanpa dasar pengetahuan.
Resource: Rawafidu al-Iman ila Aqa’idi al-Islam / Najmudin Tabasi - Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Tulisan ini disadur dari dua tulisan berjudul syafaat yang termuat dalam dua kitab: Rawafaid al-Iman ila Aqa’id al-Islam, Najmuddin Tabasi, hal. 13-35. Wahabiyat, Ali Asghar Ridhwani, hal. 447-470.
2. At-Tafsir al-Kabir: jilid 10, hal 207.
3. Sunan Tirmidzi: jilid 4, hal 378, bab 85, hadis 2032.
4. At-Tafsir al-Kabir: jilid 27, hal 32.
5. Kanz al-Ummal : jilid 12, hal 217, hadis 34739. Jami’ as-Shoghir: 255
6. Faidh al-Qodir: jilid 1, hal 527.
7. Muhasabah an-Nafs: bab 3:18. Kasyf al-Irtiyab: 217.
8. Nama lengkapnya adalah Nur Din Ali bin Ahmad, lebih dikenal dengan sebutan Samhudi, dia tinggal di kota Madinah Munawarah dan dikenal sebagai ulama, mufti, guru sekaligus sejarahwan, dia pengikut mazhab Syafi’I, dilahirkan pada bulan Safar tahun 844 H., memiliki banyak murid di haramain dan juga meninggalkan banyak karya tulis.
Sakhawi berkata: Jarang sekali ahli Madinah yang tidak belajar padanya, dia adalah imam yang menguasai ilmu, istimewa di bidang usul dan fiqih, senantiasa bergelut dengan ilmu dan berkarya, konsisten dengan ibadah, diskusi dan dialog, kuat, fasih dalam bercakap dan penuh keyakinan, intinya dia adalah paling istimewa dari pada yang lain. Tahun kematiannya tercatat 911 H.
Bisa Anda rujuk pada kita Syadzarotudz Dzahab: 8/15 karya Ibnu ‘Imad al-Hanbali, dan kitab ad-Dhou’ul Lami’: 5/245 karya Muhammad bin Abdurrahman as-Sakhawi.
9. Wafa’ al-Wafa’: 4/1349.
10. Rasulullah saw. bersabda: “-suatu saat- aku melewati Musa dan dia dalam kaadaan shalat di dalam kuburnya”. Kuburan Nabi Musa as. terletak di kota Madyan antara Madinah dan Baitul Maqdis. (Siaru A’lamin Nubala’: 16/99. Shahih Muslim: 2/2375. Sunan an-Nasa’i: 3/216. Musnad Ahmad bin Hanbal: 3/148. Ibn Habban.
11. Wafa’ al-Wafa’: 4/1349.
12. Al-Mawahib al-Laduniyah: 3/413.
13. Syifa’ as-Siqam: 204.
14. Wafa’ al-Wafa’: 4/1351.
15. Wafa’ al-Wafa’: 4/1412.
16. Wafa’ al-Wafa’: 4/1351.
17. Wafa’ al-Wafa’: 4/1412.
18. At-Taju al-Jami’u lil-Ushul: 1/381.
19. At-Taju al-Jami’u lil-Ushul: 1/291.
20. At-Taju al-Jami’u lil-Ushul: 1/292.
21. Ibid.
22. Wafa’ al-Wafa’: 4/1355.
23. Kanz al-Ummal: 10/141 hadis ke28715. Bihar al-Anwar: 2/14 menukil dari Amali karya Syaikh Shaduq. Teks yang dimuat oleh kitab Kanz al-Ummal adalah sebagai berikut:
يُوْزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ وَ دَمُ الشُّهَدَاءِ فَيُرَجَّحُ عَلَيْهِمْ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ عَلَی دَمِ الشُّهَدَاءِ
Artinya: “Di hari kiamat, tinta ulama akan ditimbang dengan darah syuhada, dan ternyata tinta ulama lebih unggul daripada darah syuhada”.
24. Wafa’ al-Wafa’: 4/1355.
25. At-Tafsir al-Kabir: 21/41.
26. Fatawa as-Subki: 2/636.
27. Shahih Bukhari: 9/193, Kitab al-I’tishom. Shahih Muslim: 5/131, Kitab al-Aqdhiyah.
Ini menurut kitab-kitab Ahli Sunnah, adapun di dalam literature hadis Ahlulbait as., tidak ada teks yang serupa, itu berarti teks tersebut tidak bisa diterima secara sanad hadis (silsilah perawi hadis). Bahkan, berdasarkan dasar-dasar ilmu hadis mereka sendiri, sanad hadis-hadis ini juga bermasalah, karena di silsilah perawinya disebutkan salah satunya adalah Amr bin Ash, dan dia tidak diketahui identitasnya. Selain itu, sebagian jalur silsilah perawi hadis-hadis ini juga mengalami kebuntungan yang di dalam ilmu hadis disebut dengan irsal. Anda bisa lihat lebih lanjut dalam kitab Umdah al-Qari: 25/67.
28. Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Husein bin Hasan at-Taymi at-Thabari ar-Razi, akidahnya Asy’ari dan fikihnya Syafi’i, dia dikenal dengan Imam Fakhr ad-Din dengan julukan Ibnu al-Khathib... (Al-Kuna wal-Alqab: 3/13).
29. Penjelasan lebih lanjut bisa Anda baca dalam kitab Tafsir al-Mizan: 10/121.
30. Al-Jami’ as-Shohih: 4/621 hadis ke2433.
31. Ad-Durar as-Sinniyah: 29. Kasyf al-Irtiyab: 263. Al-Isobah: 2/96. Lihatlah kitab Usud al-Ghabah:3/375.
32. Amali Syaikh Mufid: 105. Bihar al-Anwar dari Amali tersebut: 22/527.
33. Kasyf al-Irtiyab: 265 menukil dari Khulashah al-Kalam liZaini Dahlan.
34. Fath al-Bari: 2/398. As-Sunan al-Kubra: 3/351. Wafa’ al-Wafa’: 4/1374.
35. Untuk lebih rincinya, Anda bisa merujuk pada tafsir al-Mizan karya Allamah Husein Thaba’ Thaba’I jilid 1 hal 168.
36. Ta’wilatu Ahli as-Sunnah: 148.
37. At-Ta’arruf li Madzhabi Ahli at-Tasawwuf: 54-55.
38. Awa’il al-Maqalat: 15.
39. At-Tibyan: 1/213-214.
40. Al-Aqaid an-Nasafiyah: 148.
41. Ibid.
42. Syarh Shohih Muslim, Nawawi: 3/35.
43. Anwar at-Tanzil: 1/152.
44. Raudhah al-Wa’idzin: 406.
45. Majmu’ah ar-Rasa’il al-Kubra: 1/403.
46. Syarh Tajrid: 501.
47. Al-Yawaqit wal-Jawahir: 2/170.
48. Bihar al-Anwar: 8/29.
49. Al-Hadiyyah as-Sinniyah: 42.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
8+1 =