Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Bolehkah Istighosah Pada Orang-orang Saleh? [1]


Menurut Ibnu Taimiyah ungkapan-ungkapan seperti raihlah diriku, tolonglah aku, syafaatilah aku, bantulah aku melawan musuhku, dan lain sebagainya adalah permintaan yang tidak mampu dipenuhi kecuali oleh Allah swt.. Apabila dilakukan pada saat di Barzakh maka pemintaan semacam ini tergolong syirik. [2] Adapun berkaitan dengan ziarah kubur dan meminta pertolongan pada ahli kubur, dia berkomentar bahwa siapa saja yang mendatangi kuburan nabi atau orang saleh dan memohonnya agar menolong dan memenuhi keperluan dia maka dia telah berbuat kesyirikan secara terang-terangan, contohnya dia meminta ahli kubur untuk memulihkan kesehatannya, melunasi hutangnya atau lain sebagainya yang merupakan permintaan-permintaan yang tidak mampu dipenuhi kecuali oleh Allah swt., dan apabila seseorang telah melakukan perbuatan di atas maka dia harus bertaubat, dan jika dia enggan untuk bertaubat maka konsekuensinya adalah hukuman mati. Kebanyakan orang mengatakan sifulan lebih dekat pada Allah swt. daripada aku, sedangkan aku sendiri jauh dari Allah swt. dan tidak mungkin bagiku untuk berdoa pada-Nya kecuali dengan perantara sifulan, ungkapan-ungkapan seperti ini juga tergolong ungkapan orang-orang yang musyrik. [3]
Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan sesungguhnya berdoa pada selain Allah swt. dan istighosah (minta pertolongan) pada selain Dia berarti murtad atau keluar dari agama dan masuk ke dalam komunitas orang-orang musyrik serta orang-orang yang menyembah arca. Di samping itu perbuatan tersebut berdampak menghalalkan darahnya untuk ditumpahkan dan hartanya untuk dirampas, semua itu hanya bisa dihindarkan melalui taubat … . [4]
Syekh Abdul Aziz bin Baz berkata setiap orang di mana saja dia berada apabila memanggil wahai Rasulullah, Nabiullah, wahai Muhammad! Tolonglah aku, raihlah diriku, bantulah aku, sembuhkanlah orang-orang muslim yang sakit, berilah petunjuk jalan pada orang muslim yang kehilangan sesuatu, dan lain sebagainya maka pada hakikatnya dia telah menyekutukan Allah swt. dalam beribadah. [5] Di tempat yang berbeda Bin Baz juga mengatakan bahwa tidak diragukan lagi orang yang beristighosah (minta pertolongan) pada Rasulullah saw., wali, nabi, malaikat, atau jin pasti dia melakukannya dengan keyakinan mereka mendengar doanya, mengetahui kondisinya, dan memenuhi kebutuhannya, dan semua ini merupakan macam-macam dari kesyirikan akbar; karena selain Allah swt. tidak ada satu pun yang mengetahui alam gaib. Begitu juga dengan orang-orang mati, baik itu para nabi atau bukan, aksi dan perbuatan mereka hanya terbatas pada saat mereka masih di dunia, adapun setelah mereka meninggal dunia maka aksi dan perbuatan mereka telah terputus. [6] Dia katakan bahwa perbuatan memanggil orang mati, istighosah dan minta bantuan padanya merupakan macam-macam kesyirikan akbar dan termasuk perbuatan orang-orang yang menyembah berhala di zaman Rasulullah saw. [7]
Untuk mengkaji pandangan Wahabisme di atas, perlu diketahui bahwa istighosah pada yang lain ada beberapa macam sebagai berikut:

1. Istighosah pada Manusia dalam Keadaan Hidup

Istighosah ini juga terbagi pada tiga macam:
a. Istighosah dalam hal-hal yang biasa
Minta pertolongan dalam hal-hal biasa merupakan basis utama kehidupan sosial dan peradaban manusia, karena kehidupan manusia berlangsung atas dasar membantu satu sama yang lain, dan sudah barang tentu tak seorang pun dapat mengingkari keniscayaan ini, karena itu kita menyaksikan Allah swt. membawakan kisah Dzul Qarnain yang berkata:
فَاَعِيْنُوْنِيْ بِقُوَّةٍ اَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَ بَيْنَهُمْ رَدْمًا ﴿ الكهف: 95 ﴾

Artinya: “Maka bantulah aku dengan kekuatan agar aku buatkan dinding antara kalian dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 95).
b. Istighosah pada waliAllah dalam hal-hal yang luar biasa
Salah satu bentuk permintaan tolong pada orang hidup adalah meminta hal-hal yang luar biasa seperti kesembuhan orang sakit melalui jalur yang tidak alami dan lain sebagainya. Permintaan ini apabila ditujukan pada orang hidup yang memiliki kekuasaan untuk bermukjizat hukumnya jelas-jelas boleh, karena pada hakikatnya itu adalah keyakinan pada kemampuan waliAllah dan mukjizat mereka, tentu saja kemampuan ini sepenuhnya tergantung pada Allah swt. dan selama Dia tidak menghendaki maka semua itu tidak akan pernah terjadi. Dengan demikian, istighosah semacam ini tidak bertentanangan dengan peng-Esa-an Allah swt. baik dalam penciptaan maupun pengaturan.
Satu contoh Nabi Sulaiman as. minta mereka yang ada di sekitarnya pada waktu itu untuk mendatangkan singgasana Bilqis dari Yaman ke Jordan – tempat kekuasaan Nabi Sulaiman – dalam waktu sekejap yang tentunya tidak dengan cara biasa melainkan dengan cara-cara yang supranatural, Allah swt. berfirman:

قَالَ يَآ اَيُّهَا الْمَلَؤُ اَيُّكُمْ يَاْتِيْنِيْ بِعَرْشِهَا قَبْلَ اَنْ يَاْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ قَالَ عِفْرِيْتٌ مِنَ الْجِنِّ اَنَا آتِيْكَ بِهِ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَقَامِكَ وَ اِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهُ عِلْمُ الكِتَابِ اَنَا آتِيْكَ بِهِ قَبْلَ اَنْ يَرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ ... ﴿ النمل: 38-40 ﴾

Artinya: “Sulaiman berkata hai pembesar-pembesar siapakah di antara kalian yang akan mendatangkan seinggasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang menyerah?. Berkata Ifrit dari golongan jin aku akan mendatangkannya sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu dan sesungguhnya aku kuat lagi terpercaya. Berkata seorang yang baginya ada ilmu tentang kitab aku akan mendatangkan kepadamu sebelum matamu berkedip, maka tatkala Sulaiman melihatnya berada di hadapannya dia berkata ini adalah karunia dari Tuhanku” (QS. An-Naml: 38-40).
Selain itu, Allah swt. juga menjelaskan perbuatan-perbuatan supranatural Nabi Isa as. sebagai berikut :
وَ اِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنَ طَيْرًا بِاِذْنِيْ وَ تُبْرِئُ الاَكْمَهَ وَ الاَبْرَصَ بِاِذْنِيْ وَ اِذْ تُخْرِجُ المَوْتَی بِاِذْنِيْ ﴿ المائدة: 110 ﴾

Artinya: “dan (ingat pula) ketika engkau membuat bentuk burung dari tanah dengan izin-Ku kemudian engkau meniup padanya lalu dia menjadi burung dengan izin-Ku, dan engkau sembuhkan orang-orang buta dan orang-orang yang berpenyakit lepra dengan izin-Ku” (QS. Al-Maidah: 110).
c. Istighosah melalui doa
Maksud dari istighosah ini adalah minta orang lain agar membantunya melalui doa, dengan kata lain meminta orang tersebut untuk mendoakannya. Istighosah semacam ini juga tidak terlarang bahkan al-Qur’an berulang kali menyinggung masalah ini; satu contoh sikap orang yang tidak mau minta tolong pada orang lain untuk mendoakannya merupakan salah satu sifat munafik, Allah swt. berfirman:

وَ اِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُم رَسُوْلُ اللهِ لَوَّوْا رُؤُوسَهُمْ وَ رَاَيْتَهُمْ يَصُدُّوْنَ وَ هُمْ مُسْتَكبِرُوْنَ ﴿ المنافقون: 5 ﴾

Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka marilah (beriman) supaya Rasulullah akan memintakan ampun bagi kalian, mereka memalingkan kepalanya, engkau melihat mereka berpaling dan mereka menyombongkan diri.” (QS. Al-Munafiqun: 5).
Sebaliknya, al-Qur’an menyebutkan permintaan tolong seseorang terhadap orang beriman untuk mendoakannya sebagai kebutuhan fitrah manusia seperti firman Allah swt. berkenaan dengan saudara-saudara Nabi Yusuf as.:

قَالُوْا يَآاَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا اِنَّا كُنَّا خَاطِئِيْنَ. قَالَ سَوْفَ اَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَبِّيْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ﴿ يوسف: 97-98 ﴾

Artinya: “Mereka berkata wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah. Ya’qub berkata aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 97-98).
Sehubungan dengan istighfarnya orang-orang beriman Allah swt. juga berfirman:

وَ الَّذِيْنَ جَائُوْا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ ﴿ الحشر: 10 ﴾

Artinya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami beriman” (QS. Al-Hasyr: 10).
Yang satu ini Ibnu Taimiyah juga menerimanya, dia berkata bahwa dalam sebuah hadis diriwayatkan dari Rasulullah saw. secara sahih bersabda: setiap kali orang mendoakan saudara seagamanya tulus dari lubuk hatinya maka pasti Allah swt. mengutus malaikatnya dengan tugas setiap kali orang tersebut mendoakan saudaranya maka dia juga harus mengucapkan pada orang itu: semoga kamu juga mendapatkan (kebaikan) seperti yang kamu minta untuk dia. [8]

2. Istighosah pada Arwah WaliAllah yang Sudah Meninggal Dunia

Inti permasalahan dalam pembahasan ini sebetulnya adalah istighosah atau minta bantuan pada arwah para waliAllah swt. yang sudah meninggal dunia, baik istighosah itu berupa doa yang diminta dari mereka atau berupa perbuatan yang bersifat mukjizat. Inilah istighosah yang ditentang keras oleh Wahabisme dan mereka menganggapnya sebagai perbuatan syirik.
Terkadang Istighosah ini dengan cara memanggil nama pihak selain Allah swt. tersebut tanpa ada embel-embel sama sekali, seperti panggilan “wahai Muhammad”, “wahai Abdul Qadir”, dan “wahai Ahlulbait”, terkadang seseorang berkata “wahai fulan! jadilah engkau pemberi syafaat padaku”, atau “wahai fulan! Mintalah pada Allah agar Dia penuhi kebutuhanku”, dan terkadang seseorang berkata pada waliAllah yang dia istighosahi “lunasilah hutangku”, “sembuhkanlah penyakitku”, atau “wahai Muhammad! Tolong kayakanlah aku”.
Semua ragam doa dan istighosah di atas bukan saja tidak tergolong syirik pada Allah swt. melainkan tidak bermasalah sama sekali; karena seorang muslim yang bertauhid (baca: meng-Esa-kan Allah swt.) seutuhnya percaya bahwa tidak ada selain Allah swt. yang secara independen memiliki manfaat atau bahaya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk yang lain, dan kalau suatu saat ada yang berharap dari orang tertentu hal-hal seperti keuntungan atau keselamatan dari bahaya dengan alasan orang tersebut telah mendapatkan anugerah khusus dari Allah swt. dan sama sekali tidak meyakini adanya keterlepasan dari kehendak Allah swt. melainkan sebaliknya yakin terhadap apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi … maka sesungguhnya dia tidak bermaksud apa-apa dari perbuatannya – menghadap orang yang diridhoi, dipilih dan diutamakan oleh Allah swt. daripada makhluk-makhluk-Nya yang lain – kecuali syafaat orang yang dia maksud untuk memenuhi kebutuhan dia dan doa untuk memudahkan urusan dia serta mempercepat solusi permasalahannya. Oleh karena itu, suka atau tidak suka perbuatan itu harus diterima sebagai perbuatan yang sah dan siapa pun tidak berhak mengancam darah, harta, dan kehormatannya.
Dengan demikian, manakala seseorang menyeru “wahai Muhammad! Berdoalah pada Allah swt. agar Dia memenuhi kebutuhanku” berarti yang sebenarnya dia tuju adalah Allah swt. Dan kalaupun terkadang seseorang berkata “wahai Muhammad! Penuhilah kebutuhanku” sebetulnya dia mengungkapkan hal itu dalam kategori menyandangkan sebuah perbuatan pada sebab terdekatnya seperti ungkapan bahwa musim semi telah menumbuhkan sayur-sayuran. Kategori ini juga digunakan oleh al-Qur’an yang kadangkala secara lahiriah menyandangkan perbuatan kepada manusia, contohnya Allah swt. berfirman:
وَ مَا نَقَمُوْا اِلَّا اَنْ اَغْنَاهُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ مِنْ فَضْلِهِ ﴿ التوبة: 74 ﴾

Artinya: “Dan mereka tidak mencela kecuali Allah dan Rasul-Nya melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 74).
وَ ارْزُقُوْهُمْ فِيْهَا وَ اكْسُوْهُمْ ﴿ النساء: 5 ﴾

Artinya: “Dan berilah mereka belanja dan pakaian.” (QS. An-Nisa’: 5).

وَ لَوْ اَنَّهُمْ رَضُوْا مَآ ءَاتَاهُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ قَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ سَيُؤْتِيْنَا اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ رَسُوْلِهِ ﴿ التوبة: 59 ﴾

Artinya: “Dan kalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata cukuplah Allah bagi kami maka Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya.” (QS. At-Taubah: 59).
Kendatipun pelimpahan karunia atau dengan kata lain pengayaan seseorang tidak lain adalah perbuatan Allah swt. tapi ayat di atas mengikutsertakan Rasulullah saw. [9] dalam pemberian rezeki dan pelimpahan karunia tersebut, sementara di lain pihak Wahabisme menghukumi ungkapan seperti “berilah aku rezeki” sebagai kesyirikan dan kekafiran.
Istighosah pada waliAllah bukan saja boleh melainkan perbuatan yang tersanjung dan dianjurkan, terbukti sejarah dan sunah umat Islam khususnya tokoh-tokoh agama yang seringkali ketika mereka menghadapi kesulitan maka mereka berlindung pada waliAllah baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Bukhari meriwayatkan hadis dengan silsilah perawi yang sahih dari Rasulullah saw. bersabda: ketika matahari di hari kiamat menjadi dekat sehingga keringat menggenang sampai setengah dari telinga manusia maka mereka beristighosah kepada Adam, kemudian kepada Musa, dan pada akhirnya kepada Muhammad, maka beliau memberi syafaat untuk selanjutnya makhluk-makhluk Allah swt. dihakimi. [10]
Hadis ini menjelaskan bagaimana diperbolehkannya istighosah dan tawasul pada selain Allah swt. dalam hal-hal yang sesungguhnya akan terjadi dengan kekuasaan Dia swt., akan tetapi istighosah dan tawasul itu harus menyatu dengan keyakinan bahwa semua urusan hanya bisa terjadi dengan izin dan kehendak Allah swt.. Masih banyak contoh-contoh lain dari bukti-bukti sejarah dan sunah yang diakui tentang hal ini dan akan disebutkan di sela-sela paragraf yang akan datang.

PANDANGAN SAMHUDI AS-SYAFII

Terkadang orang berperantara (tawassul) pada Rasulullah saw. dengan cara meminta hal-hal tertentu dari beliau saw. dan itu berarti beliau saw. sanggup menjadi sebab yang lengkap melalui doa pada Allah swt. dan syafaatnya di sisi Dia, maka dari itu pada hakikatnya perbuatan ini kembali pada permohonan doa dari beliau saw. tapi ungkapannya saja yang berbeda. Salah satu dari ungkapan-ungkapan yang sepadan dengan itu adalah ketika seseorang berkata “aku harap engkau sedia mengatrolku di surga” dan ini tidak bermaksud apa-apa kecuali harapan agar pihak yang diminta (seperti Rasulullah saw.) mau menjadi sebab dan pemberi syafaat di sisi Allah swt. [11]
Selain Allah swt. tidak ada yang dapat mengatrol seseorang di surga, pengatrolan sama halnya dengan pekerjaan-pekerjaan seperti pengampunan dosa dan penyembuhan orang sakit. Tentu saja hal itu benar apabila yang dimaksud dengan doa di atas adalah pengaruh pihak yang dimintai secara independen, tapi tak seorang muslim pun yang bermaksud demikian. Intinya, istighosah atau minta bantuan kembali kepada permintaan syafaat dan doa itu sendiri, dan sudah barang tentu tidak ada larangan baik secara rasional maupun tekstual.
Ditambahkan lagi bahwa Wahabisme membolehkan perbuatan minta doa pada makhluk hidup, suatu contoh Ibnu Taimiyah meyakini hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang mendoakan saudaranya ketika absen kecuali Allah swt. mewakilkan malaikat khusus untuk itu sehingga kapan saja dia mendoakan baik saudaranya maka malaikat itu melanjutkan dengan berkata: “dan untukmu juga hal (kebaikan) yang serupa dengan apa yang telah kamu doakan”. [12]
Salah satu hal yang disyariatkan tentang doa adalah interaksi antara dua belah pihak yang masing-masing absen dari yang lain, dengan kata lain pihak yang berada di satu alam menjawab doa pihak yang sedang berada di alam lain, maka dari itu Rasulullah saw. menganjurkan umatnya agar bershalawat padanya dan menjadikan beliau sebagai perantara. Dalam sebuah hadis disebutkan “apabila kalian mendengar suara muazin maka ucapkanlah seperti apa yang dia suarakan, lalu bershalawatlah padaku karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat padaku sekali niscaya Allah swt. akan bershalawat padanya sepuluh kali, dan selanjutnya mohonlah pada Allah swt. untuk menerimaku sebagai perantara kalian karena ke-perantara-an itu adalah kedudukan tersendiri di surga yang tidak mungkin dimiliki kecuali oleh seorang hamba dari hamba-hamba Allah swt. dan aku berharap semoga aku menjadi hamba tersebut sehingga barangsiapa memohon kepada Allah swt. untuk menerimaku sebagai perantaranya niscaya syafaatku menjadi halal bagi dia di hari kiamat”. [13]
Permintaan doa menurut syariat Islam bisa ditujukan pada pihak yang lebih tinggi dan bisa juga ditujukan pada pihak yang lebih rendah. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah saw. menyebut nama Uwais al-Qarani dan kemudian berkata pada Umar apabila kamu bisa melakukan sesuatu agar dia mau beristighfar untukmu maka lakukan sesuatu itu. [14] Hadis lain menceritakan ketika masyarakat dilanda kelaparan dan paceklik maka mereka meminta Rasulullah saw. agar memohon hujan untuk mereka, beliau pun mengabulkan permintaan mereka seraya berdoa pada Allah swt. untuk mereka sehingga turunlah hujan. [15] Semua itu menjelaskan kepada kita bahwa istighosah adalah permintaan doa dari pihak tertentu dan tidak ada larangan untuk itu baik pihak yang dimintai pertolongan lebih rendah atau berada pada posisi sejajar.

ISTIGHOSAH PADA MAYIT

Menurut Wahabisme, permintaan doa pada orang mati hukumnya terlarang, mereka beralasan dengan ayat suci al-Qur’an di bawah ini:
فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا ﴿ الجن: 18 ﴾

Artinya: “Maka janganlah kalaian doa pada seorang pun selain Allah.” (QS. Al-Jin : 18).
Tapi sebenarnya untuk mengetahui duduk permasalahannya lebih jelas perlu diketahui bahwa doa di samping memiliki arti bahasa dia juga memiliki arti istilah; adapun secara bahasa doa berarti panggilan, kata doa dengan arti ini digunakan oleh al-Qur’an dalam ayat :
لَا تَجْعَلُوْا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ﴿ النور: 63 ﴾

Artinya: “Janganlah kalian jadikan panggilan kepada Rasul di antara kalian seperti panggilan sebahagian kalian kepada sebahagian yang lain” (QS. An-Nur: 63).
Terkadang doa juga digunakan dengan arti permintaan kepada Allah swt. dan permohonan pada-Nya untuk memenuhi kebutuhan dunia atau akhirat. Ada tiga kemungkinan yang melandasi penggunaan kata doa dengan arti kedua ini, yang pertama karena dia merupakan salah satu fakta dari arti bahasa di atas, yang kedua karena dia sudah menjadi hakikat urfi (konvensional), dan yang terakhir karena majaz yang populer. Doa dengan arti ini – yakni permintaan kepada Allah swt. – kadangkala disebut dengan ibadah, oleh karena itu kita membaca ayat di bawah ini menunjukkan arti yang sama:
اُدْعُوْنِيْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ﴿ غافر: 60 ﴾

Artinya: “Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembah-Ku mereka akan masuk jahannam dalam keadaan terhina.” (QS. Ghofir: 60).
Doa secara mutlak, baik itu berarti panggilan terhadap orang lain maupun berarti permintaan pada selain Allah swt. untuk memenuhi kebutuhan tertentu, tidak tergolong ibadah dan juga tidak terlarang, maka barangsiapa yang memanggil seseorang untuk datang padanya, atau agar dia membantu dan menolongnya, atau supaya dia memberinya sesuatu, atau agar dia memenuhi kebutuhannya, dia tidak dianggap sebagai penyembah orang tersebut dan juga tidak termasuk sebagai pelaku dosa.

ISTILAH DOA

Terkadang yang dimaksud dengan doa adalah doa khusus, yakni doa yang sama halnya dengan permohonan kepada Allah swt. dibarengi oleh keyakinan bahwa pihak yang dimohon adalah berkuasa, berikhtiyar, dan independen dari Allah swt. dalam hal yang bersangkutan tersebut, doa dalam istilah seperti ini dilakukan oleh pengikut Yahudi dan Nasrani di tempat peribadatan mereka.
Terkadang yang dimaksud dengan doa adalah permohonan kepada pihak-pihak yang dilarang oleh Allah swt. seperti berdoa pada arca dan berhala yang tidak lain adalah batu-batu dan pohon. Doa dalam istilah seperti ini dilakukan oleh orang-orang musyrik.
Terkadang yang dimaksud dengan doa adalah permohonan kepada malaikat dan jin yang mereka sembah dan mereka yakini sebagai keberadaan yang mempunyai pengaruh di alam semesta bersama Allah swt. dan dapat memberi pengaruh pada diri mereka. Istilah doa yang demikian disinyalir juga oleh al-Qur’an sebagai berikut:
اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ عِبَادٌ اَمثَالُكُمْ ﴿ الأعراف: 194 ﴾

Artinya: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian seru (doa) selain Allah adalah hamba-hamba serupa kalian” (QS. Al-A’raf: 194).

وَالَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَكُمْ وَ لَا اَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُوْنَ ﴿ الأعراف: 197 ﴾

Artinya: “Dan berhala-berhala yang kalian seru (doa) selain Allah tidaklah sanggup menolong kalian dan tidak dapat menolong diri mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf: 197).
فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا ﴿ الجن: 18 ﴾

Artinya: “Maka janganlah kalaian doa pada seorang pun selain Allah.” (QS. Al-Jin : 18).
Konklusinya adalah perbuatan doa dan istighosah pada nabi tidak termasuk kategori doa-doa terlarang, karena yang dimaksud dari doa ini di luar tiga ragam doa terlarang yang tersebut di atas melainkan inti doa ini adalah permintaan pada nabi kesediaannya berdoa pada Allah swt. atau kerelaannya memberi syafaat pada peminta di sisi Allah swt. bersamaan dengan keyakinan bahwa urusan ini sepenuhnya di tangan Allah swt., apabila Dia mengehendaki maka Dia akan mengabulkan doa dan menerima syafaat itu dan apabila Dia menghendaki sebaliknya maka Dia akan menolak. Jelas bahwa doa yang demikian substansinya tidaklah terlarang sebagaimana Anda ketahui sebelumnya tidak semua doa terlarang, dan sebenarnya yang terlarang adalah doa kepada selain Allah swt. dengan keyakinan pihak selain Allah swt. tersebut independen dalam urusannya menjawab dan mempengaruhi mayapada.

ISTIGHOSAH PADA NABI ADALAH ISTIGHOSAH PADA MAKHLUK HIDUP

Sebagian orang berpikir bahwa tawassul (berperantara) dan istighosah pada nabi atau orang saleh adalah sia-sia karena mereka sudah mati, dan orang mati tidak mampu mendengar. Oleh karena itu, sia-sia orang yang mengatakan “wahai Rasulullah tolonglah aku” atau mengucapkan “aku menghadapmu untuk menuju Allah swt. agar Dia mau memenuhi kebutuhanku”.
Persoalan hidup dan matinya seorang nabi atau orang saleh serta mampukah mereka mendengar dan menjawab salam atau permintaan orang lain sudah kita bahas secara terperinci dalam pembahasan tentang syafaat, namun demikian ada baiknya juga kita ulang kembali persoalan itu secara ringkas bahwa tidak ada bukti-bukti rasional maupun tekstual yang menegasikan pendengaran nabi atau wali Allah swt. terhadap ucapan orang-orang yang berperantara dan beristighosah pada mereka yang sudah pindah ke alam kubur, hal itu karena Rasulullah saw. tetap hidup mengingat Allah swt. menghidupkan beliau lagi setelah meninggal dunia sebagaimana ditegaskan oleh riwayat Anas dari Rasulullah saw. yang bersabda: “Para nabi itu hidup di kuburan mereka dan melakukan shalat”. [16]
Terbukti pula dalam sebuah hadis bahwa semua orang muslim yang melewati kuburan saudara mukminnya yang dia kenal pada saat masih di dunia dan kemudian dia ucapkan salam padanya, pasti saudara mukmin yang sedang berada di kuburan tersebut mengetahui dan menjawab salam itu. [17] Baihaqi berkata dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sa’id bin al-Musayyib dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah saw. bertemu para nabi di Baitul Maqdis, kemudian datang waktu shalat maka beliau mengumpulkan mereka di Baitul Maqdis dan mengimami shalat jamaah di sana. Dalam hadis tentang Isra’ Mi’raj yang diriwayatkan melalui jalur-jalur yang sahih dari Abu Dzar dan Malik bin Sha’sha’ah disbutkan bahwa Rasulullah saw. menemui para nabi di langit, beliau juga melihat nabi Musa sedang berdiri menunaikan shalat di kuburannya, kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke langit dan menemui para nabi yang ada di sana, kemudian mereka berkumpul di Baitul Maqdis untuk menghadiri shalat berjamaah yang diimami oleh Rasulullah saw.. Dia katakan bahwa shalat mereka di beberapa waktu dan di berbagai tempat yang berbeda tidaklah irrasional, sementara di sisi lain bukti-bukti tekstual menetapkan hal tersebut, maka itu berarti para nabi tetap dalam keadaan hidup. [18]
Berdasarkan ringkasan bukti-bukti di atas, para nabi as. tetap dalam keadaan hidup setelah mereka meninggal dunia dan mampu mendengar orang yang mengucapkan salam kepada mereka, Rasulullah saw. bersabda “barangsiapa bershalawat padaku di sisi kuburanku ketahuilah aku mendengarnya’, “perbanyaklah shalawat padaku di hari jumat karena sesungguhnya shalawat kalian pasti dilaporkan padaku”. Di samping itu, jelas bahwa tidak ada larangan atau konsekuensi mustahil dari perbuatan istighosah pada makhluk hidup dan meminta istighfar dari dia, [19] Allah swt. berfirman:
يَآاَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا ﴿ يوسف: 97 ﴾

Artinya: “Mereka berkata wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami” (QS. Yusuf: 97).

اِذْهَبُوْا بِقَمِيْصِيْ هذَا فَاَلْقُوْهُ عَلَی وَجْهِ اَبِيْ يَاْتِ بَصِيْرًا ﴿ يوسف: 93 ﴾

Artinya: “Pergilah kalian dengan (membawa) baju ini lalu letakkanlah ke wajah ayahku niscaya dia akan melihat kembali” (QS. Yusuf: 93).
Qasthalani berkata hendaknya peziarah memperbanyak doa, istighosah, tunduk diri, permintaan syafaat, dan tawassul pada Rasulullah saw. karena orang yang meminta syafaat pada beliau layak diterima di sisi Allah swt. berkat syafaatnya … dan perlu diketahui juga bahwa masing-masing dari istighosah, tawassul, permintaan syafaat dan menghadap Rasulullah saw. – sebagaimana dia sebutkan dalam Tahqiqu an-Nushroh dan Misbahu ad-dzolam – terjadi dalam semua keadaan, yakni sebelum beliau diciptakan, setelah diciptakan, di saat-saat menjalani hidup di dunia, setelah meninggal dunia, di alam barzakh, setelah dibangkitkan … . [20]
Al-Maraghi (816 H) berkata tawassul, istighosah, dan permintaan syafaat pada Rasulullah saw. berlaku pada setiap keadaan, sebelum beliau diciptakan, saat-saat beliau menjalani hidup di dunia, setelah beliau meninggal dunia, ketika beliau di alam barzakh, setelah beliau dibangkitkan dari alam kubur, dan di setiap medan hari kiamat. [21]

KISAH TENTANG ISTIGHOSAH PADA KUBURAN NABI SAW.

Kisah Usman bin Hunaif menjadi salah satu bukti jelas tentang kebiasaan istighosah pada kuburan Rasulullah saw. yang ada di tengah umat Islam dan sudah berlangsung dari sejak zaman sahabat. Riwayat tentang sahabat Rasulullah saw. ini dinukil oleh Thabrani dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari pamannya Usman bin Hunaif, suatu saat ada seorang lelaki yang berulang kali mendatangi Usman bin Afan untuk memenuhi kebutuhannya, tapi Usman tidak memperhatikannya dan tidak peduli terhadap kebutuhan dia, akhirnya orang itu menemui Ibnu Hunaif dan mengadukan masalahnya, Usman bin Hunaif berkata padanya pergilah ke tempat wudhu’ lalu berwudhu’lah dan setelah itu pergilah ke masjid dan shalatlah dua rakaat di sana, usai shalat ucapkanlah “allohumma inni asaluka wa atawajjahu ilaika bi nabiyyina muhammadin nabiyyir rohmah, ya muhammad inni atawajjahu bika ila robbi fa taqdhi li hajati” (artinya: ya Tuhanku, aku sungguh-sungguh memohon-Mu dan menghadap pada-Mu melalui nabi-Mu Muhammad yaitu nabi kasih sayang, wahai Muhammad aku sungguh-sungguh menghadapmu demi menuju Rabbiku untuk memenuhi kebutuhanku), kemudian sebutkan semua kebutuhanmu dan pergilah sampai kita berjumpa kembali, orang itu beranjak pergi dan menerapkan anjuran Usman bin Hunaif secara teratur, setelah itu dia datang ke depan pintu Usman bin Afan, seketika itu juga penjaga pintu meraih tangannya dan mengajaknya masuk ke tempat Usman bin Afan, Usman mempersilahkannya duduk bersama di atas permadani seraya berkata apa perlumu? Orang itu menjelaskan keperluannya dan Usman bin Afan memenuhi kebutuhan dia seraya berkata kenapa baru sekarang kamu menyebutkan keperluanmu, lain kali kapan saja kamu ada perlu langsung saja katakan padaku. Lelaki itu keluar dari tempat Usman bin Afan dan langsung menemui Usman bin Hunaif seraya berkata padanya semoga Allah swt. memberimu balasan yang baik, sebelumnya dia (Usman bin Afan) tidak mempedulikan keperluanku dan tidak memperhatikanku sampai akhirnya kamu bicara padanya tentang diriku, Usman bin Hunaif berkata demi Allah aku tidak bicara apa-apa dengannya, yang sebenarnya adalah aku pernah menyaksikan Rasulullah saw. didatangi orang buta [22] yang mengadu kehilangan penglihatannya, Rasulullah saw. menganjurkan dia untuk bersabar tapi dia berkata wahai Rasulullah aku tidak punya penuntun sehingga aku mengalami kesulitan yang besar, maka beliau berkata kalau begitu pergilah ke tempat wudhu dan berwudhulah di sana kemudian shalatlah dua rakaat dan bacalah doa-doa ini. Usman bin Hunaif berkata demi Allah kita belum lama berpisah dari dia dan kita sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba lelaki itu menghampiri kita seakan-akan dia tidak pernah sakit mata. [23]

As-Salafi Berkomentar

Komentator as-Salafi mengakui kesahihan hadis di atas dengan catatannya “tidak diragukan lagi bahwa hadis marfu’ ini adalah sahih”, tapi anehnya dia meragukan argumentasi hadis ini untuk membuktikan tawassul, dia terpengaruh oleh pemikiran Albani penulis risalah “Tawassul” dan pemikiran Wahabisme yang mengharamkan tawassul pada orang mati dan menghukuminya sebagai kesyirikan. Karena itu setiap kali as-Salafi dihadapkan pada hadis-hadis seperti ini dia tidak tahan melihatnya dan kesulitan untuk menerimanya, padahal para ahli di bidang hadis seperti Thabrani secara jelas menyatakan kesahihan hadis tersebut dan meskipun yang menganjurkan tawasul adalah sahabat besar nabi yang dipercaya oleh Ali bin Abi Thalib as dan Umar bin Khattab, [24] dan kendatipun hadis itu dinukil pula oleh Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah.
Lebih aneh lagi orang-orang seperti dia mengaku dirinya salafis atau pengikut salafi dan di saat yang sama mereka meninggalkan hal-hal yang terbukti secara benar dari salaf atau orang-orang mukmin terdahulu – seperti Usman bin Hunaif –. Apa dibenarkan seseorang memeluk keyakinan tertentu kemudian dia hanya mencari hadis-hadis yang mendukung dan menguatkan keyakinan itu?! Atau malah sebaliknya yang benar, yakni akal menganjurkan setiap orang untuk memurnikan dan memasrahkan keyakinannya –baik itu dalam hal tawasul ataupun yang lain – pada ayat-ayat suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. yang sampai pada kita melalui salaf Islam.

ISTIGHOSAH PADA KUBURAN

Sejarah umat Islam dari dulu sampai sekarang mencatat rutinitas istighosah mereka pada kuburan para nabi dan orang saleh, fatwa-fatwa ulama juga mendukung perbuatan itu, di antaranya adalah:

1. Istighosah pada Kuburan Rasulullah saw.

Darami: … suatu saat penduduk Madinah mengalami paceklik yang dahsyat dan berkepanjangan, maka mereka datang mengadu pada Aisyah, Aisyah menganjurkan kunjungilah kuburan Rasulullah saw. dan buatlah lubang yang menatap langit sehingga tidak ada atap pembatas antara kuburan beliau dan langit. Darami melanjutkan maka mereka melakukan sesuai anjuran Aisyah sehingga turunlah hujan menyirami kami sampai rumput bertumbuhan dan unta-unta menjadi gemuk sekali penuh dengan lemak seakan-akan unta-unta itu mau merekah, tahun itu mereka sebut dengan tahun subur. [25]
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan jalur yang benar dari Abu Shaleh as-Siman dari Malik ad-Dar – yang pada masa kekhalifahan Umar dia ditugaskan menjadi penjaga khazanah – bahwa suatu kala ketika Umar berkuasa masyarakat mengalami paceklik, maka seorang datang pada kuburan Rasulullah saw. seraya berkata wahai Rasulullah mintalah hujan untuk umatmu karena sungguh mereka sedang hancur, maka beliau menemui lelaki itu di alam mimpi dan memerintahkannya untuk mendatangi Umar … . (al-Hadis), Sayf meriwayatkan dalam kitab ¬al-Futuh bahwa orang yang melihat Rasulullah saw. di alam mimpi tersebut adalah Bilal bin Haris al-Muzani, salah satu sahabat nabi. [26]

2. Masyhad Imam Husein as. di Kairo

Hamzawi al-Adwi (w. 1303 H) setelah berbicara panjang lebar tentang Masyhad Imam Husein as. menyebutkan: perlu diketahui bahwa seyogianya setiap orang memperbanyak kunjungannya ke Masyhad yang agung ini sambil bertawasul kepadanya menuju Allah swt. dan meminta dari Imam Husein as. apa saja yang biasa diminta darinya saat masih hidup, karena sungguh dia adalah pintu penyelesaian masalah, dan siapa saja yang menziarahinya niscaya dia akan terbebaskan dari bencana dan hati yang terhalang pasti akan sampai pada Allah swt. berkat cahayanya dan juga tawasul padanya, karena itu kita dapat mengerti kejadian yang dialami oleh tuanku yang arif pada Allah swt. yaitu Muhammad Syalbi yang memberi komentar pada kitab “al-Aziyah” dan terkenal dengan panggilan Ibnu Sitt; kejadian itu demikian bahwa suatu saat semua kitab dia yang ada di rumah dicuri orang membuatnya benar-benar bingung dan sedih, maka dia datang pada makam wali nikmat kita yaitu Imam Husein as. sambil melantunkan puisi-puisi yang bermuatan istighosah padanya, setelah ziarah dia tinggal sejenak di makam tersebut dan menghadap ke rumahnya, ternyata sepulang dari ziarah dia mendapatkan semua kitabnya sudah berada pada tempatnya semula tanpa ada satu pun yang kurang. [27]

3. Istighosah Orang Buta pada Masyhad Imam Husein as.

Syabrawi as-Syafii (w. 1172 H) membuat satu bab khusus tentang masyhad mulia – tempat kepala Imam Husein as. – dalam kitabnya yang berjudul al-Ithafu bi hubbi al-Asyraf, dia menyebutkan ziarah pada Imam Husein as. dan keramat-keramatnya, di antara keramat itu adalah kisah seorang lelaki yang dikenal dengan Syamsud Din al-Qa’waini, dia tinggal dekat Masyhad, suatu ketika kedua matanya sakit sampai akhirnya dia menjadi buta, maka sejak itu setiap kali dia menunaikan shalat subuh di Masyhad Husein as. dia berdiri di pintu dhorih (ruangan utama makam) beliau sambil berkata: tuanku, aku adalah tetanggamu yang telah kehilangan penglihatannya, aku minta pada Allah swt. dengan perantaramu agar Dia kembalikan penglihatanku walau hanya satu mata. Maka suatu malam ketika dia lelap dalam tidur, dia bermimpi melihat sekelompok orang datang menuju Masyhad Husein as., dia bertanya siapa mereka dan dijawab bahwa beliau adalah Nabi Muhammad saw. beserta para sahabatnya datang untuk menziarahi Husein as., maka dia ikut masuk ke Masyhad bersama rombongan dan mengulang kembali apa yang senantiasa dia ucapkan pada waktu ziarah dalam keadaan terjaga, mendengar permintaan itu maka Husein as. menghadap kakeknya Rasulullah saw. dan mensyafaati orang itu di sisi Rasulullah saw. dengan menyebutkan apa yang dia minta, maka Rasulullah saw. menyeru Ali bin Abi Thalib as.: wahai Ali celakilah orang itu!, Ali as. menjawab siap dan taat, lalu dia keluarkan tempat celak dan pengolesnya seraya berkata pada Syamsud Din kemarilah untuk kucelaki, Syamsud Din menurut dan Ali as. pun mengeluarkan pengoles celak dari tempatnya dan mengoleskan tepat di mata kanan Syamsud Din, ketika itu maka Syamsud Din merasakan panas membakar di matanya dan berteriak keras membuat dia terbangun, ternyata dia sedang merasakan panas celak itu di matanya sehingga mata kanan dia terbuka, mulai dari saat itu dia dapat melihat dengan mata kanannya sampai dia mati. [28]

4. Ibnu Habban Minta Syafaat pada Kuburan Ali Ridho as.

Ibnu Habban berkata Ali bin Musa ar-Ridho meninggal dunia akibat minuman yang dipaksakan oleh Makmun, beliau meninggal sesaat setelah meneguk minuman tersebut … kuburan beliau terletak di Sanabadz di luar daerah Nuwqan, kuburan yang masyhur dan selalu dikunjungi … aku sendiri berkali-kali telah menziarahinya, dan setiap kali aku mendapatkan kesulitan sewaktu aku masih tinggal di Tush maka aku kunjungi kuburan Ali bin Musa ar-Ridho – semoga shalawat Allah senantiasa terkirim untuk kakeknya Rasulullah saw. dan untuk dia – dan aku berdoa pada Allah swt. untuk menyelesaikan kesulitan tersebut, dengan begitu maka doaku pasti terkabul dan kesulitan yang kuhadapi terselesaikan, hal ini merupakan kejadian yang berulang kali kualami dan selalu aku mendapatkan jawaban, semoga Allah swt. mematikan kita dalam keadaan mencintai Musthofa (Muhammad saw.) dan Ahlulbaitnya – semoga shalawat senantiasa tercurahkan pada mereka semua –.[29]
Siapa Ibnu Habban?
Tercatat bahwa dia adalah imam, allamah, hafidz, mujawwid (orang yang membaca dengan memperhatikan tajwidnya), syekhnya Khurasan, dan pengarang kitab-kitab yang terkenal. Dia lahir pada tahun dua ratus tujuh puluh sekian, dia juga melalui masa hidupnya di Samarkand, dia tergolong pakar agama dan penghafal karya-karya terdahulu … dia menyusun kitab hadis yang masuk kategori musnad sahih, yaitu: kitabu al-Anwa’ wa at-Taqosim, kitabu at-Torikh, dan kitabu ad-Dhua’fa.
Abu Bakar al-Khatib menyatakan dia sebagai orang yang terpercaya, mulia dan pandai. Hakim Nisaburi juga memuji bahwa dia adalah wadah ilmu fikih, bahasa, hadis, etika, dan dia tergolong orang-orang yang menggunakan akalnya secara baik … dia tinggal bersama kita di Nisabur … dia juga membacakan sebagian karya-karya susunannya … . [30] Dan setelah mengetahui figur Ibnu Haban, apa masih mungkin bagi Ibnu Taimiyah dan pengikut-pengikutnya menyatakan Ibnu Haban sebagai orang musyrik, kafir, dan jahiliah; hanya karena dia berkali-kali menziarahi Ali bin Musa ar-Ridho as. dan beristighosah padanya?!!

5. Ibnu Khuzaimah Merendahkan Diri di Sisi Kuburan Imam Ridho as.

Muhammad bin Muammal bercerita suatu saat kita keluar bersama imam ahli hadis Abu Bakar Khuzaimah, Adilah bin Ali Tsaqafi beserta sekelompok masyikhah kita, pada waktu itu mereka sedang bersama-sama ingin menziarahi kuburan Ali bin Musa ar-Ridho di kota Thush, ketika itu aku menyaksikan pengagungan Ibnu Khuzaimah terhadap lokasi kuburan Imam Ridho as., dia juga sangat merendahkan diri di hadapan kuburan beliau, dan perbuatan beliau ini membuat kita tercengang. [31]
Siapakah Ibnu Khuzaimah?
Dzahabi mengatakan dia adalah syekh Islam, imam para imam, hafidz, hujjah, fakih, penulis, dan penyusun. Dia lahir pada tahun dua ratus dua puluh tiga hijriah, dia betul-betul mendalami disiplin ilmu hadis dan fikih sehingga dijadikan sebagai perumpamaan dalam hal luasnya ilmu dan keyakinan. Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadis dari dia dalam kitab Shahih mereka. [32] Dan sungguh Allah swt. menghindarkan bencana dari penduduk kota ini karena tempat dan kedudukan Abu Bakar bin Khuzaimah. Daru Quthni menyebutkan dia adalah imam yang kokoh dan tidak ada tandingannya. Mereka juga mengatakan bahwa dia adalah orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw. dan menarik poin-poin penting dari hadis nabi secara teliti seperti ketelitian orang yang sedang memahat dan mengukir. Dia adalah imam yang benar-benar ahli dalam menentukan baik-buruknya sesuatu dan kritis dalam menilai rijal, dan karena ilmu, agama, serta ketaatannya pada sunnah Rasul maka dia menjadi agung dalam setiap jiwa dan besar dalam setiap hati. [33] Ibnu Abi Hatim berkata dia adalah imam yang dianut.
Dengan demikian, apa berani Ibnu Taimiyah menuduh Ibnu Khuzaimah telah kafir dan syirik hanya dengan alasan dia beristighosah pada Imam Ali bin Musa ar-Ridho as. dan menunduk di sisi kuburannya?! Apa Ibnu Taimyah akan berpandangan negatif pada tokoh-tokoh sekaliber Ibnu Khuzaimah?!

CONTOH-CONTOH ISTIGHOSAH PADA KUBURAN


1. Kuburan Abu Ayub al-Anshari yang Wafat pada Tahun 52 H di Rum

Hakim Nisaburi mengatakan bahwa masyarakat seakan berjanji dengan kuburan Abu Ayub, mereka selalu menziarahinya dan meminta hujan melalui dia setiap kali mereka ditimpa paceklik. [34]

2. Kuburan Imam Musa bin Ja’far as.

Syekh al-Hanabilah Abu Ali al-Khallal mengaku setiap kali ada hal penting yang menggangguku maka aku mendatangi kuburan Musa bin Ja’far dan bertawasul padanya, setelah itu pasti Allah swt. memudahkan urusanku sesuai dengan yang aku mau. [35]

3. Kuburan Abu Hanifah

Ketika Imam Syafii bermukim di kota Baghdad, dia selalu bertawasul pada Imam Abu Hanifah, dia datang menziarahi kuburannya lalu mengucapkan salam padanya dan bertawassul dengannya kepada Allah swt. agar kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi.
Terbukti Imam Ahmad bin Hanbal juga bertawasul dengan Imam Syafii sehingga menimbulkan rasa heran dalam diri puteranya yang bernama Abdullah bin Imam Ahmad, maka Ahmad berkata pada puteranya sesungguhnya Syafii seperti matahari untuk manusia dan kesembuhan untuk badan, dan ketika diberitakan pada Syafii bahwa penduduk Maghrib (Maroko) bertawasul dengan Imam Malik dia tidak melarang perbuatan itu melainkan dia berkata sesungguhnya aku sendiri bertabaruk pada Abu Hanifah, setiap hari aku mengunjungi kuburannya dan jika aku ada keperluan tertentu maka aku shalat dua rakaat kemudian aku datang ke kuburan Abu Hanifah dan di sisi kuburan itu aku minta Allah swt. untuk memenuhi kebutuhanku tersebut. [36]

4. Tawasul dengan Kuburan Ahmad bin Hanbal

Ibnu Jauzi membawakan cerita tentang Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Musa yang berkata suatu saat ketika malam telah gelap aku keluar bersama ayahku untuk menziarahi Ahmad bin Hanbal, tiba-tiba suasana semakin gelap gulita sampai ayahku memanggil wahai anakku, marilah kita bertawasul dengan hamba yang saleh ini (Ahmad bin Hanbal) kepada Allah swt. agar jalan kita menjadi terang, ketahuilah selama tiga puluh tahun ini aku tidak pernah bertawasul dengannya kecuali kebutuhanku pasti terpenuhi, maka ayahku berdoa dan aku pun menyertai doanya dengan mengucapkan amin, setelah itu langit menjadi terang seakan-akan malam itu adalah malam bulan terang, kondisi itu terus berlanjut sampai kita sampai tujuan. [37]

5. Kuburan Ibnu Furak al-Isbahani (w. 406 H)

Dia dikubur di Hirah salah satu daerah di Nisabur, masyhad dia di sana terkenal, diziarahi, dijadikan perantara doa minta hujan, dan di sana doa dikabulkan. [38] Dia adalah Muhammad bin Hasan, syekh mutakallimin (tokoh para teolog muslim) dan pengikut aliran Asyari, tapi Dzahabi dan Ibnu Hazm menisbatkan padanya hal yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang muslim, karena jika hal itu benar-benar muncul dari dia maka itu sama dengan murtad atau dihukumi telah keluar dari agama. [39]

6. Kuburan Syekh Ahmad bin Alawan (750 H)

Yafii berkata salah satu keramat yang dimiliki oleh Syekh Ahmad bin Alawan adalah keturunan para fakih yang dulu mengingkarinya sekarang berlindung padanya dari malapetaka dan berlindung padanya ketika mereka ketakutan pada sultan. [40]

7. Minta Hujan dengan Kuburan Bukhari

Menurut pernyataan para ulama, Samarkand pernah minta hujan dan pertolongan dengan kuburan Bukhari pada tahun empat ratus enam puluh empat hijriah, yakni tiga ratus tahun sebelum Ibnu Taimiyah lahir dan muncul dengan anggapan-anggapannya. Subki menceritakan kita di Samarkand beberapa tahun mengalami paceklik, masyarakat berkali-kali doa minta hujan tapi hujan tak kunjung tiba, maka seorang saleh yang betul-betul terkenal kesalehannya mendatangi hakim Samarkand seraya berkata aku punya pendapat yang ingin kupaparkan padamu, hakim menanggapi apa pendapatmu? Orang saleh itu melanjutkan menurutku kamu harus keluar bersama masyarakat menuju kuburan Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, kemudian kita berdoa bersama minta hujan di sisinya, insyaAllah Dia akan menghujani kita, hakim menanggapi alangkah bagusnya pendapatmu. Maka hakim keluar bersama masyarakat dan berdoa minta hujan, masyarakat menangis di sisi kuburan Bukhari dan meminta syafaatnya di sisi Allah swt., setelah kejadian itu maka Allah swt. menurunkan hujan lebat dari langit, dan begitu lebatnya hujan tersebut sehingga masyarakat terpaksa harus tinggal di desa Khartanak [41] selama tujuh hari atau lebih, tidak seorang pun pada waktu itu yang bisa sampai ke Samarkand akibat lebatnya hujan, dan jarak antara Samarkand dengan desa Khartanak sekitar tiga mil. [42] Apa mungkin Ibnu Taimiyah tidak mengetahui kejadian istighosah dan permintaan syafaat ini, andai dia mengetahuinya maka pasti dia akan menghukumi mereka dengan kafir dan syirik. Atau mungkin menurut dia kejadian ini tidak terbukti!!.

8. Istighosahnya Hamzah bin Qasim (330 H)

Khathib Baghdadi mengatakan dia (Hamzah) adalah orang yang terpercaya, terkenal dengan kebaikan dan kesalehan dan dia pernah berdoa meminta hujan untuk masyarakat sebagai berikut: ya Allah, sesungguhnya Umar minta hujan dengan perantara Syaybah al-Abbasi dan doanya Engkau kabulkan, dia adalah ayahku, dan dengan perantara dia aku memohon-Mu hujan. Khathib melanjutkan setelah dia berdoa maka hujan pun turun di saat dia masih belum turun dari mimbarnya[43].

TANGGAPAN IMAM QIRAWANI AL-MALIKI TENTANG TAWASUL DENGAN KUBURAN

Imam Qirawani al-Maliki (w. 737 H) berkomentar tentang ziarah kubur sebagai berikut: adapun hal mengenai mayoritas kuburan para nabi dan rasul – semoga shawalat Allah dan salam-Nya senantiasa mengalir pada mereka semua – jelas semuanya didatangi oleh para pengunjung, dan tujuan mereka datang dari berbagai tempat yang jauh ke lokasi pemakamn nabi-nabi juga jelas, maka ketika peziarah sampai ke tempat tujuan hendaknya dia merendahkan diri, merasa kalah, lemah, fakir, butuh, gelisah, dan tunduk; hendaknya pula dia menghadirkan hati dan menfokuskan pikirannya kepada mereka untuk menyaksikan mereka dengan mata hati bukan dengan mata kepala, karena sesungguhnya mereka tidak usang dan tidak mengalami perubahan, setelah itu hendaknya dia memuja dan memuji Allah swt. sebagaimana layak-Nya dan kemudian mengirimkan shalawat serta salam kepada mereka … lalu hendaknya dia bertawasul dengan mereka kepada Allah swt. untuk menyelesaikan kesulitannya, mengampuni dosanya, dan meminta pertolongan kepada mereka untuk memenuhi keperluannya. Dia harus yakin doa dan permintaannya pasti dikabulkan berkat mereka dan dia harus mempunyai anggapan positif terhadap hal itu, karena sesungguhnya mereka (nabi-nabi) adalah pintu Allah swt. yang terbuka dan sunnah Allah swt. berlaku dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan melalui kuasa dan kausalitas mereka. Adapun untuk orang yang tidak sanggup untuk mengunjungi mereka maka hendaknya dia mengirimkan salam kepada mereka lalu menyebutkan apa yang mereka perlukan dari kebutuhan-kebutuhannya dan juga pengampunan dosa serta penyembunyian aibnya, karena mereka adalah tuan-tuan yang mulia, dan yang mulia pasti tidak akan menolak siapa yang memintanya, siapa yang bertawasul dengannya, siapa yang menghadapnya, dan siapa yang berlindung padanya.
Sudah barang tentu kalau ziarah ke kuburan nabi-nabi saja mempunyai keutamaan-kutamaan tersebut di atas maka ziarah pada penghulu seluruh umat manusia -dari yang pertama sampai terakhir- (yaitu Rasululah saw.) memiliki semua kutamaan itu secara berlipat ganda dan tugas-tugas peziarah juga menjadi lebih banyak dan lebih dianjurkan, dia harus lebih merendahkan diri, merasa lebih hina, lemah, dan lebih membutuhkan karena beliau adalah pemberi syafaat yang syafaatnya diterima dan tidak akan pernah ditolak, beliau tidak mungkin mengecewakan siapa yang menghadapnya, siapa yang menginjakkan kaki di halamannya, siapa yang minta pertolongan dan beristighosah padanya … Oleh karena itu siapa saja yang bertawasul dengannya, beristighosah padanya, dan minta keperluan-keperluan padanya; pasti tidak akan ditolak dan dikecewakan. Hal itu dibuktikan juga melalui kesaksian dan dampak-dampak yang muncul setelah itu …, dengan demikian maka tawasul dengan Rasulullah saw. adalah tempat penurunan beban-beban dosa dan kesalahan … .[44]
Konklusi pasti yang muncul dari teks dan bukti-bukti sejarah adalah istighosah pada mayit, doa di sisi kuburannya dan tawasul dengannya sudah populer dari dulu dilakukan oleh umat Islam mulai dari kalangan khusus sampai masyarakat awam; Imam Syafii bertawasul dengan Abu Hanifah untuk memenuhi keperluannya, di sisi lain Ahmad bin Hanbal setiap kali menghadapi kesulitan dia bertawasul dengan Imam Musa bin Ja’far as., Imam Ahmad bin Hanbal juga bertawasul dengan Imam Syafii untuk menutupi keperluannya, selanjutnya Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Haban bertawasul dengan kuburan Imam Ali bin Musa ar-Ridho as. dan beristighosah padanya untuk memenuhi kebutuhannya, dan kemudian penduduk Samarkand berdoa minta hujan melalui kuburan Bukhari. Sebelum mereka, sejarah mencatat Aisyah memerintahkan muslimin agar beristighosah pada kuburan Rasulullah saw. untuk meminta hujan. Data-data di atas mencakup para sahabat nabi, tokoh-tokoh Ahlisunnah baik itu fuqaha ataupun spesialis di bidang lain, mereka semua beristighosah pada kuburan para nabi, sahabat, wali, dan orang saleh!! Dengan demikian apakah Ibnu Taimiyah masih berani menuduh mereka orang musyrik dan kafir?!!
Tepat sekali apa yang telah dikatakan oleh Syekh Salamah al-Izami, yaitu: Lelaki ini – maksudnya Ibnu Taimiyah – betul-betul keterlaluan dan melampaui batas bahkan terhadap Rasulullah saw. itu sendiri, orang ini menghukumi perjalanan ziarah ke kuburan Rasulullah saw. sebagai maksiat dan siapa saja yang memanggil beliau seraya beristighosah pada beliau saw. yang telah meninggal dunia maka dia telah syirik kepada Allah swt., terkadang orang ini menyatakan perbuatan itu sebagai kesyirikan kecil dan terkadang pula menyatakannya sebagai kesyirikan besar, bagi orang ini tidak ada bedanya meskipun pihak yang beristighosah pada Rasulullah saw. sepenuhnya yakin bahwa tidak ada yang mencipta dan yang mempengaruhi di alam semesta ini kecuali Allah swt. dan jikalau Rasulullah saw. dimintai untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab pertolongan hal itu tidak lain karena Allah swt. telah menetapkan beliau sebagai sumber segala kebaikan, makhluk yang syafaatnya diterima dan doanya dikabulkan. Hal ini diyakini oleh muslimin pada umumnya. [45]
Qasthalani berkata hendaknya peziarah Rasulullah saw. memperbanyak doa, rendah diri, istighosah, permintaan syafaat, dan tawasul dengan beliau. Dan barangsiapa yang meminta syafaat dari Rasulullah saw. maka Allah swt. akan menerima syafaatnya. Ketahuilah istighosah adalah minta pertolongan, maka orang yang beristighosah adalah orang yang minta pada pihak lain untuk mendapatkan pertolongan darinya. Oleh karena itu, hakikat permintaan ini bisa diungkapkan dengan berbagai kata seperti istighosah (minta bantuan), tawasul (berperantara), tasyafu’(mohon syafaat), tajawuh (minta katrol kedudukan) dan tawajuh (menghadap atau minta katrol kehormatan).
Terkadang tawasul juga dilakukan oleh orang yang berkedudukan terhadap orang yang berkedudukan lebih tinggi daripadanya. Dan masing-masing dari istighosah, tawasul, tasyafu’ dan tawajuh pada Rasulullah saw. tersebut – sebagaimana disebukan dalam dua kitab Tahqiqu an-Nushroh dan Misbahu ad-Dzolam – berlaku pada semua kondisi, sebelum dan setelah beliau diciptakan, ketika beliau masih hidup di dunia dan setelah meninggal dunia atau dengan kata lain saat-saat beliau di alam barzakh, begitu pula di setiap medan hari kiamat setelah beliau dibangkitkan dari alam kubur … . Adapun tawasul pada Rasulullah saw. setelah beliau wafat dan sedang berada di alam barzakh merupakan kenyataan yang jumlahnya tidak terhitung. Dan di dalam kitab Misbahu ad-Dzolam bi Khoiri al-Anam karya Syekh Abu Abdillah bin Nu’man disebutkan beberapa jalur untuk itu.
Pernah suatu saat aku terserang penyakit yang tidak bisa diobati oleh dokter-dokter, bertahun-tahun aku sakit sampai akhirnya pada malam kedua puluh delapan Jumadil Ula tahun 893 H aku beristighosah di Mekah, semoga Allah swt. senantiasa menambah kemuliaan padanya. Hasil istighosah itu Allah swt. mengembalikan diriku pada kondisi semula yang sehat walafiat dan tanpa gangguan. Ceritanya demikian, ketika aku tidur aku bermimpi seorang lelaki datang kepadaku dengan membawa secarik kertas yang tertulis di atasnya: ini adalah obat untuk penyakitnya Ahmad bin Qasthalani dari baginda mulia Rasulullah saw. dan dengan izin beliau, setelah itu aku terjaga dari tidur dan demi Allah swt. aku tidak melihat lagi penyakit yang sebelumnya menjangkitiku, ternyata aku mendapatkan kesembuhan berkat Rasulullah saw. [46]
Anehnya, meskipun Ahmad Qasthalani mengungkapkan keyakinan dan pengalamannya secara terang-terangan tapi Wahabisme tidak menghukuminya syirik dan murtad, padahal mereka menuduh semua orang yang mengunjungi kuburan nabi atau orang saleh dan mengajukan keperluannya serta meminta bantuan padanya untuk menyembuhkan penyakit … telah syirik, murtad, dan harus dimintai taubat; jika dia tidak mau bertaubat maka dia dihukum mati!.

KISAH-KISAH ISTIGHOSAH

Samhudi mengakhiri bukunya dengan tulisan tentang hal-hal yang terjadi pada mereka yang beristighosah pada kuburan Rasulullah saw. atau meminta sesuatu di sisi kuburan beliau dan kemudian mereka memperoleh apa yang mereka inginkan sebelumnya. Samhudi menukil dari kitab Misbahu ad-Dzolam [47] fi al-Mustaghitsina bi Khoiri al-Anami karya Imam al-Hafidz Sulaiman bin Musa bin Salim al-Balansi [48] yang meninggal dunia pada tahun 234 H. [49]

1. Kisah tentang Ayahnya Ibnu Munkadir

Muhammad bin al-Munkadir menceritakan suatu saat ada seorang lelaki menitipkan uang sebesar delapan puluh dinar kepada ayahku, kemudian dia pergi untuk berjihad, dia berkata pada ayahku kalau kamu memerlukan uang ini maka kamu boleh membelanjakannya sampai aku pulang.
Beberapa waktu setelah itu, masyarakat setempat mengalami banyak kesulitan akibat harga-harga barang yang melonjak mahal, terpaksa ayahku membelanjakan dina-dinar tersebut, sampai akhirnya lelaki itu datang meminta uangnya, ayahku berkata padanya kembalilah padaku esok hari, lalu ayahku bermalam di masjid dan sesekali berlindung pada kuburan Rasulullah saw. dan di lain kali berlindung pada mimbar beliau, hal itu terus dia lakukan sampai menjelang waktu subuh, tak henti-hentinya dia beristighosah pada kuburan Rasulullah saw. dan tiba-tiba di saat dia sedang beristighosah seseorang datang dalam kegelapan seraya berkata: ambillah ini wahai Abu Muhammad, ayahku mengulurkan tangannya dan ternyata apa yang dia raih adalah kantong berisikan uang delapan puluh dinar, maka di pagi harinya ketika lelaki itu datang lagi ayahku menyerahkan uang itu padanya. [50]

2. Perintah Rasulullah saw. untuk Memberi Makan pada Thabrani

Imam Abu Bakar bin al-Muqri [51] berkata suatu saat aku beserta Thabrani dan Abu Syekh sedang berada di haram Rasulullah saw., terus berlanjut sampai akhirnya rasa lapar menyerang kita, hari itu terus kita lalui sampai menjelang waktu isya’, akhirnya kita mendatangi kuburan Rasulullah saw. dan kukatakan kepada beliau wahai Rasulullah kami lapar dan aku terus pergi, tapi Abul Qasim menyeruku duduklah karena rezeki pasti datang atau mati yang jadi pilihan. Abu Bakar melanjutkan ceritanya maka aku dan Abu Syekh berdiri sementara Thabrani tetap duduk memandangi sesuatu, tiba-tiba seorang alawi menghampiri pintu dan mengetuk, kita bukakan pintu untuk dia dan ternyata dia datang tidak sendirian melainkan bersama dua hamba sahaya yang masing-masing membawa wadah penuh dengan isi, kami duduk dan makan bersama, kami kira sisa makanan itu akan dibawa hamba sahaya tapi ternyata mereka berpaling dan pergi meninggalkan kita bersama sisa makanan tersebut, setelah makan orang alawi itu menyapa kita wahai kalian, apa kalian mengadu pada Rasulullah saw.? karena sungguh aku melihat Rasulullah saw. dalam mimpi dan beliau memerintahku untuk membawa sesuatu untuk kalian. [52]

3. Setengah Roti Masih Tersisa di Tangan

Ibnu Jalad berkata aku masuk ke Madinah kota Rasulullah saw. dalam keadaan lapar, aku segera mendatangi kuburan beliau dan kukatakan padanya: aku bertamu padamu, setelah itu aku tertidur dan mimpi bertemu Rasulullah saw. dan beliau memberiku roti, aku makan setengah roti yang beliau berikan dan ketika terbangun dari tidur ternyata setengah dari roti itu masih tersisa di tanganku. [53]

4. Dirham Penuh Berkah

Abu Abdillah Muhammad bin Abu Zar’ah as-Sufi bercerita suatu saat aku bepergian ke Mekah bersama ayahku dan Abu Abdillah bin Hunaif, di tengah perjalanan kita sudah benar-benar kelaparan sehingga kita memasuki Madinah Rasulullah saw. dan bermalam di sana dalam keadaan lapar, saat itu aku masih belum baligh sehingga berulang kali aku menghampiri ayahku dan berkata padanya aku lapar, akhirnya ayahku mendekati pagar kuburan Rasulullah saw. seraya berkata wahai Rasulullah malam ini aku adalah tamumu, lalu ayah duduk di lokasi pengawasan, sesaat kemudian ayah mengangkat kepalanya sambil menangis dan setelah itu dia tertawa sampai mengundang pertanyaan dari orang lain dan ayah menjawab: aku melihat Rasulullah saw. meletakkan dirham di tanganku, lalu ayah membuka tangannya dan memang benar di tangannya ada beberapa dirham, dan Allah swt. memberkati dirham-dirham itu sampai kita pulang ke kota Syiraz, dan selama itu kita selalu belanja dengan dirham pemberian Rasulullah saw. tersebut.

5. Minuman yang Memuaskan dari Cawan Susu

Aku mendengar Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Abi al-Aman berkata suatu saat ketika aku di Madinah Nabi saw. aku berposisi di belakang mihrab Fatimah as., sebelumnya Syarif Mukatsir al-Qasimi berdiri di belakang mihrab itu, kemudian dia sadar dan segera mendatangi kuburan Rasulullah saw. lalu kembali ke arah kita dalam keadaan tersenyum. Melihat kejadian itu, maka Syamsudin Shawab seorang pembantu di makam Nabi saw. bertanya kenapa kamu tersenyum? Syarif Mukatsir al-Qasimi menjawab aku tadi kelaparan, lalu aku keluar dari rumahku dan mendatangi rumah Fatimah as. dan beristighosah pada Rasulullah saw. serta kukatakan pada beliau kalau aku lapar, kemudian aku tertidur dan dalam tidur aku melihat Rasulullah saw. memberiku cawan berisi susu, aku minum susu itu sampai kenyang … .[54]

6. Tiga mud Kurma Berkualitas

.Abu Ishak Ibrahim bin Said suatu saat aku berada di Madinah Nabi saw. bersama tiga orang miskin dan ketika kita lapar maka aku mendatangi Rasulullah saw. dan kukatakan pada beliau wahai Rasulullah kami tidak punya apa-apa, cukuplah bagi kami tiga mud (setiap satu mud kurang lebih 750 gr) kurma yang bagus. [55]

7. Roti Idaman Orang Lapar dari Rasulullah saw.

Aku mendengar Syarif Abu Muhammad Abdussalam bin Abdurrahman al-Huseini al-Fasi bercerita: pernah aku tinggal di Madinah Nabi saw. selama tiga hari dan sama sekali tidak makan, akhirnya aku datang ke mimbar beliau saw. dan shalat dua rakaat, lalu kukatakan pada beliau: hai kakekku, aku lapar dan aku ingin tsarid (roti yang diremuk dan direndam dalam kuah) darimu, setelah itu mataku jadi berat sampai aku terlelap tidur, tiba-tiba ketika aku masih dalam keadaan tidur seorang lelaki datang membangunkanku, aku terjaga dari tidur dan melihat lelaki itu membawa wadah terbuat dari kayu yang isinya tsarid (roti yang diremuk dan direndam dalam kuah), mentega dan daging, aku sapa dia dan dia menjawab: makanlah, kembali aku katakan padanya: dari siapa semua ini? Bersamaku anak-anak kecil yang sudah tiga hari mengharapkan makanan ini, dan hari ini aku terilhami untuk berbuat apa yang telah kuperbuat tadi, dan setelah itu aku tertidur dan bermimpi melihat Rasulullah saw. seraya berkata padaku: salah satu dari saudaramu mengharapkan makanan ini dariku maka aku pun memberinya makanan sesuai dengan yang dia harapkan. [56]

8. Idaman Lain untuk Orang Lain yang juga Lapar

Aku mendengar Abdullah bin al-Hasan ad-Dimyati berkata syekh Saleh Abdulqadir at-Tunisi bercerita: … aku masuk Madinah Nabi saw., aku ucapkan salam pada beliau dan aku mengadu nasibku yang sedang lapar, aku katakan pada beliau kalau aku ingin sekali makanan gandum, daging, dan kurma; setelah berziarah aku langsung menuju raudhoh dan shalat di sana, aku juga tidur di sana dan tiba-tiba seseorang membangunkanku dari tidur, aku bangun dan terus berjalan dengannya, dia seorang pemuda yang tampan dan berbudi pekerti baik, lalu dia menyodorkan mangkuk besar kepadaku dan mangkuk itu berisi tsarid (roti yang diremuk dan direndam dalam kuah) dan daging kambing, selain itu dia juga membawa beberapa talam yang berisi kurma Saihani dan kurma-kurma yang lain, dia juga membawa banyak roti di antaranya roti bulat dan roti yang terbuat dari bahan tepung buah pohon bidara, aku makan dan pemuda tampan itu memenuhi kantung kulitku dengan daging, roti dan kurma, dia berkata: tadi aku tidur setelah shalat dhuha, aku melihat Rasulullah saw. dalam mimpi dan beliau memerintahku untuk melakukan semua ini untukmu, beliau juga menunjukkanku kepadamu dan memberitahu lokasimu di raudhoh, beliau berkata padaku kalau kamu ingin sekali makanan-makanan ini[57].
Penulis – kitab Misbahu ad-Dzolam – setelah menukil cerita-cerita tawasul dan istighosah pada Nabi saw. yang tersebut di atas menambahkan bahwa kebanyakan dari kejadian-kejadian seperti ini melibatkan keturunan mulia Rasulullah saw. dan merekalah yang diperintahkan oleh beliau untuk menjalani tugas khususnya; tugas memberi makan kepada mereka yang minta, hal itu karena termasuk kesempurnaan budi pekerti mulia apabila dimintai jamuan maka akan dimulai dengan diri mereka sendiri kemudian orang-orang dari golongan mereka. Oleh karena itu budi pekerti mulia Rasulullah saw. menuntut beliau untuk memberi orang-orang yang minta jamuan padanya secara langsung atau melalui keturunannya yang mulia. [58]
Setelah menyimak pengalaman-pengalaman di atas dari figur-figur terkemuka seperti Thabrani, Ibnu Muqri’, Ibnu Munkadir, dan lain-lain maka tidak ada lagi peluang bagi Ibnu Taimiyah untuk menuduh tawasul dan istighosah pada Rasulullah saw. sebagai perbuatan syirik?! Apakah pengarang kitab Misbahu ad-Dzolam adalah musyrik dan apakah dia mengumpulkan hal-hal bermutu kafir dan syirik di dalam kitabnya?! Apa Ibnu Taimiyah dan pengikutnya berani menuduh al-Balansi sebagai orang syirik, di saat dia adalah hafidz terkemuka dan terpercaya – seperti yang dikatakan oleh Ibnu Imad –, ahli hadis dan lebih maju daripada mereka yang hidup di masanya – seperti yang dikatakan oleh Abar –, imam yang pakar di berbagai bidang ilmu rasional dan tekstual – seperti yang dikatakan oleh Ibnu Musdi –, imam, allamah, hafidz, dan syekh (tokoh ilmu) hadis – seperti yang dikatakan oleh Dzahabi – ?! Melihat semua ini, apa masih pantas anggapan-anggapan Ibnu Taimiyah untuk didengarkan?!.

PENGALAMAN SAMHUDI

Samhudi setelah menukil beberapa cerita tentang ahli-ahli hadis dan fakih yang bertawasul dengan kuburan Rasulullah saw. dari kitab Misbahu ad-Dzolam berkata: hikayat tentang hal ini ada banyak sekali, bahkan kejadian-kejadian seperti itu pernah kualami sendiri. Di antaranya adalah suatu saat aku berada di Masjidin Nabi bertepatan dengan kedatangan Haji al-Mishri ke tempat yang sama untuk berziarah, ketika itu di tanganku ada kunci khalwat tempat aku berkhalwat dan menyimpan kitabku di masjid, tiba-tiba sebagian dari ulama Mesir lewat di hadapanku termasuk di antaranya ulama yang berqiraah (membaca hadis) untuk sebagian masyayikhku, aku ucapkan salam padanya lalu dia mengajakku untuk menyertainya berjalan menuju raudhoh syarifah dan berdiri bersamanya di hadapan Rasulullah saw., selesai itu aku pulang dan ternyata aku telah kehilangan kunci tempat khalwatku, aku coba mencarinya di semua tempat yang kulalui tapi tak kunjung menemukannya, sulit sekali bagiku pada waktu itu untuk pergi di waktu yang sempit padahal aku sangat memerlukannya, maka aku datang pada Rasulullah saw. dan kukatakan pada beliau wahai tuanku wahai Rasulullah, kunci tempat khalwatku hilang di saat aku sangat memerlukannya dan sekarang aku berharap sekali kunci itu darimu, lalu aku kembali dan melihat seseorang sedang menuju tempat khalwat, aku kira dia temasuk orang yang kukenal, aku hampiri dia dan ternyata aku tidak menemukan kunci itu padanya, kemudian aku bertemu dengan anak kecil yang tidak kukenal sedang berada di dekat tempat khalwat dan dia memegang kunci di tangannya, aku menyapa dia dan kukatakan dari mana kamu dapatkan kunci ini? dia menjawab aku mendapatkannya di depan yang mulia, lalu kuambil kunci itu darinya, lanjutan cerita ini panjang sekali kalau harus disebutkan. [59]

PERMINTAAN MUHIBUDIN AT-THABARI

Taqiudin al-Fasi berkata cerita ini disebutkan oleh kakekku yang terhormat Abu Abdillah di dalam komentar-komentarnya, dia berkata aku mendengar imam Muhibudin at-Thabari berkata: kita sedang bepergian ke Madinah untuk ziarah, pada waktu itu kita berjamaah, aku menyusun qasidah yang berisi pujian-pujian terhadap Rasulullah saw., maka begitu kita sampai ke Madinah aku langsung melantunkan qasidah itu, dan setelah membacanya aku berkata wahai Rasulullah saw. balaslah qasidahku ini dengan menghilangkan julukan ini dariku, julukanku di tengah masyarakat pada waktu itu adalah muhyid din (orang yang menghidupkan agama), sementara aku tidak senang julukan itu untukku. Thabrani berkata setelah itu julukanku berubah menjadi muhibud din (pecinta agama) dan julukan pertamaku muhyid din terlupakan seakan-akan tidak pernah ada sebelumnya. [60] Disebutkan bahwa Muhibudin adalah muhadis (orang yang meriwayatkan hadis), mufti (orang yang mengeluarkan fatwa)... . [61]

KRITIK DAN JAWABAN

Alasan-alasan yang biasa dikemukakan oleh Wahabisme sedikit banyak telah terjawab dengan data-data di atas, tapi untuk melengkapi kajian tentang istighosah dan demi menghormati kendala pemikiran yang mungkin dialami oleh sebagian orang muslim khususnya dari kalangan Wahabi; alangkah baiknya kalau kita amati kritik-kritik yang mereka tujukan pada umat Islam yang meyakini istighosah dan melakukannya, setelah itu dilanjutkan dengan jawaban terhadap kritikan yang mereka lontarkan.
Kritikan pertama, orang yang beristighosah pada waliAllah adalah orang yang meyakini ilmu gaib buat mereka, padahal ilmu gaib hanyalah milik Allah swt.
Anggap saja bagian pertama dari kritikan ini benar, tapi jelas bagian kedua tidak bisa diterima, karena ilmu gaib bukan saja mungkin dimiliki oleh para waliAllah – mencakup para rasul dan imam – melainkan sebuah keharusan bagi mereka dalam kapasitasnya sebagai manusia-manusia sempurna yang paling dekat pada Allah swt. – sebagaimana perinciannya dibahas dalam bab kenabian dan keimaman –, mereka adalah manusia-manusia yang hidup di alam barzakh dan bisa berhubungan dengan alam dunia.
Hafidz Haitsami meriwayatkan hadis sahih dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda: Para nabi adalah hidup di dalam kuburan mereka dan melakukan shalat. [62] Rasulullah saw. juga bersabda: Pengetahuanku setelah aku meninggal dunia seperti pengetahuanku saat aku masih hidup. [63] Darami meriwayatkan dari Said bin Abdulaziz bahwa dia menandai datangnya waktu shalat dengan suara yang dia dengar dari dalam kuburan Rasulullah saw. [64] Untuk selebihnya, pembaca bisa temukan dalam pembahasan tentang kenabian dan keimaman atau ilmu gaib itu sendiri.
Kritikan kedua, Tirmidzi meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas bahwa apabila kamu hendak memohon maka mohonlah Allah dan apabila kamu hendak minta pertolongan maka mintalah pertolongan pada Allah swt. [65]
Jika diperhatikan lebih teliti lagi sebetulnya hadis ini ingin menjelaskan apabila seseorang hendak meminta pertolongan kepada siapa saja hendaknya dia yakin bahwa segala sesuatu hanya akan terjadi apabila sesuai kehendak Allah swt. dan dengan kekuasaan-Nya, kalau sebagian orang bisa melakukan sesuatu tidak lain hal itu karena kebajikan Allah swt. dan inayah-Nya, maka dari itu lanjutan hadis itu menyebutkan : kalaupun semua orang berkumpul untuk memberi keuntungan padamu, ketahuilah, mereka tidak akan mampu melakukan hal itu kecuali apabila Allah swt. menghendaki hal itu untukmu, begitu pula sebaliknya kalaupun semua orang berkumpul untuk membahayakanmu, ketahuilah mereka tidak akan mampu melakukan hal itu kecuali apabila Allah swt. menghendaki hal itu untukmu.
Kritikan ketiga, hadis yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit dari Rasulullah saw. bersabda: sesungguhnya tidak mungkin aku bisa diistighosahi melainkan hanya Allah semata yang harus diistighosahi. [66]
Kritikan ini disampaikan oleh sebagian Wahabi saja dan kenapa yang lain tidak berargumentasi dengan hadis ini mungkin karena kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa hadis ini adalah hadis yang lemah secara sanad (baca: silsilah perawi); satu contoh Ibnu Hajar Haitsami berulang kali menegaskan Ibnu Lahi’ah (salah satu mata rantai perawi hadis ini) sebagai orang yang lemah, cacat, dan tidak bisa dipercaya khususnya dalam hal periwayatan hadis, terlebih lagi apabila hadis di atas dilihat dengan kaca mata hadis-hadis shahih yang berjumlah banyak menentang hadis itu, yakni membolehkan istighosah bahkan menganjurkannya secara jelas.
Kritikan keempat, bukankah Allah swt. melarang kita untuk doa pada selain Dia, Allah swt. berfirman:

وَ اَنَّ الْمَسَاجِدَ ِللهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَبَدًا ﴿ الجن: 18 ﴾

Artinya: “Dan sesungguhnya semua masjid itu kepunyaan Allah maka janganlah kalian mendoa (menyembah) seorang pun selain Allah.” (QS. Al-Jin: 18).

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ لَا يَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْئٍ ﴿ الرعد 14 ﴾

Artinya: “Hanya kepada-Nya seruan (doa) yang benar dan yang mereka seru (doa) selain daripada-Nya tiadalah memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (QS. Ar-Ra’d: 14).
وَ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَكُمْ وَ لَا اَنْفُسَهِمْ يَنْصُرُوْنَ ﴿ الأعراف: 197 ﴾

Artinya: “Dan yang kalian seru (doa) selain Allah tidaklah sanggup menolong kalian dan tidak dapat menolong diri mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf: 197).

اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ عِبَادٌ اَمثَالُكُمْ ﴿ الأعراف: 194 ﴾

Artinya: “Sesungguhnya yang kalian seru (doa) selain Allah adalah hamba-hamba serupa kalian” (QS. Al-A’raf: 194).

اُولئِكَ الَّذيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلَی رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ ﴿ الإسراء: 57 ﴾

Artinya: “Sesembahan yang mereka seru (doa) itu (mereka sendiri) mencari jalan perantara kepada Tuhannya” (QS. Al-Isra’: 57).

وَ لَاتَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَ لَا يَضُرُّكَ ﴿ يونس: 106 ﴾

Artinya: “Dan janganlah engkau menyeru (doa) sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi mudarat kepada engkau selain Allah” (QS. Yunus: 106).
اِنْ تَدْعُوْهُمْ لَا يَسْمَعُوْا دُعَاءَكُمْ ﴿ فاطر: 14 ﴾

Artinya: “Jika mereka kalian seru (doa) tidaklah mereka mendengar seruan (doa) kalian” (QS. Fathir: 14).

وَ مَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُوا مِنْ دُوْنِ اللهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيْبُ لَهُ اِلَی يَوْمِ الْقِيَامَةِ ﴿ الأحقاف: 5 ﴾

Artinya: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru (doa)selain Allah yang tidak dapat memperkenankan baginya sampai hari kiamat” (QS. Al-Ahqaf: 5).
اُدْعُوْنِيْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ﴿ غافر/ المؤمن: 60 ﴾

Artinya: “Serulah (berdoalah kepada-) Aku niscaya Aku perkenankan bagi kalian, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembah-Ku mereka akan masuk jahannam dalam keadaan terhina.” (QS. Ghofir/ al-Mukmin: 60).
Memang benar ayat-ayat di atas melarang doa pada selain Allah swt., tapi yang dimaksud dengan doa atau seruan dalam ayat-ayat tersebut bukanlah doa atau seruan secara mutlak melainkan doa dan seruan khusus, yaitu doa yang mengandung makna Ketuhanan dan Kepengaturan pihak yang didoa (diseru), yakni apabila seseorang benar-benar menghendaki doa dengan kandungan makna tersebut maka perbuatan dia sama dengan penyembahan. Selain itu, sebenarnya ayat-ayat di atas berhubungan langsung dengan penyembah berhala yang mempercayai berhala-berhala (atau segala sesuatu yang bersimbol berhala) mereka sebagai keberadaan yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur sebagaimana Tuhan, karena itu mereka percaya sekali kalau berhala-berhala independen dalam tindakan dan pengelolaan alam, maka sudah barang tentu segala bentuk perendahan diri, doa, dan permintaan pada siapa saja selain Allah swt. dengan keyakinan tersebut di atas sama dengan menyembahnya dan hal ini tergolong perbuatan syirik.
Mungkin sebagian orang bertanya apa alasannya mengkaitkan doa dalam ayat-ayat di atas dengan makna itu? Jawabnya, catatan itu bisa dimengerti dari ayat-ayat lain seperti:
فَمَا اَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِيْ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مِنْ شَيْئٍ ﴿ هود: 101 ﴾

Artinya: “Maka tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi mereka sesembahan yang mereka seru (doa) selain Allah” (QS. Hud: 101).

وَ لَآ يَمْلِكُ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دِوْنِهِ الشَّفَاعَةَ ﴿ الزخرف: 86 ﴾

Artinya: “Dan yang mereka seru (doa) dari selain-Nya tidak mempunyai syafaat (pertolongan)” (QS. Az-Zukhruf: 86).

وَ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ مَا يَمْلِكُوْنَ مِنْ قِطْمِيْرٍ ﴿ فاطر: 13 ﴾

Artinya: “Dan mereka yang kalian seru (doa) selain daripada-Nya tidaklah mereka mempunyai (kekuasaan) walau pun setipis kulit ari.” (QS. Fathir: 13).

فَلَا يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَ لَا تَحْوِيْلًا ﴿ الإسراء: 56 ﴾

Artinya: “Maka mereka tidak sanggup menghilangkan kemudaratan dari kalian dan tidak pula mengalihkannya.” (QS. Al-Isra’: 56).
Dengan alasan itu maka sebab penghinaan Allah swt. terhadap orang-orang musyrik adalah mereka yakin bahwa berhala-berhala itu independen dalam kepengaturan alam, sehingga menurut keyakinan mereka tanpa kehendak dan izin Allah swt. pun berhala-berhala itu mampu melakukan sesuatu dan mengatur.
Kritikan kelima, penciptaan dan pengaruh pada alam semesta hanya milik Allah swt. dan tanpa campur tangan selain Dia di dalamnya, karena itu keyakinan bahwa nabi dan imam serta waliAllah memiliki kekuatan jiwa yang dapat memberikan pengaruh tertentu pada alam keberadaan sehingga mereka bisa diistighosahi dan dimintai untuk memenuhi kebutuhan adalah satu bentuk kesyirikan.
Bin Baz berkata hal-hal kesyirikan dan bid’ah yang dilakukan pada sisi kuburan di berbagai daerah adalah kenyataan yang sering terjadi dan tidak mungkin untuk diingkari tapi sebetulnya bisa dijelaskan dan dihindari, seperti halnya para peziarah beristighosah pada ahli kubur kemudian meminta sesuatu kepadanya seperti kesembuhan orang sakit, kemenangan melawan musuh-musuh Islam, dan lain sebagainya; semua itu termasuk kesyirikan akbar yang dulu dilakukan oleh kaum jahiliyah … . [67]
Pertama-tama konsekuensi mustahil yang muncul dari kritikan di atas adalah determinisme manusia dalam segala tindakannya, yakni manusia sama sekali tidak mempunyai pengaruh di alam semesta melainkan hanya Allah swt. semata yang berpengaruh sampai ke gerak-gerik dan semua tindakan manusia.
Adapun yang kedua, sebagaimana umumnya dibahas dalam babnya tersendiri bahwa alam keberadaan ini merupakan alam sebab dan akibat dan satu-satunya sebab yang independen dalam pengaruhnya terhadap segala sesuatu di alam semesta ini adalah Allah swt., sementara sebab-sebab yang lain merupakan perantara antara Allah swt. dan akibat yang sifatnya mungkin, sebab-sebab itu adalah perantara-perantara yang semua tingkah laku dan pengaruh eksistensialnya adalah tingkah laku dan pengaruh Allah swt.. Tentunya berbeda sekali antara keberadaan perantara dalam menyampaikan anugerah keberadaan pada akibat yang bersifat mungkin dengan keberadaan sesuatu dalam menciptakan secara independen, keyakinan pada hal yang pertama selaras dengan ke-Esa-an Allah swt. dan sistem sebab dan akibat pada alam ciptaan-Nya sedangkan keyakinan pada hal yang kedua adalah kesyirikan.
Seseorang ketika menulis dengan pena bisa dikatakan orang itu menulis, tangannya menulis, dan penanya menulis. Tiga penisbatan ini semuanya benar padahal yang terjadi hanyalah satu penulisan. Pendekatan sederhana ini cukup untuk menjelaskan tidak adanya pertentangan antara hukum kausalitas pada alam semesta yang bersifat mungkin dengan independensi Allah swt. dan ke-Esa-an-Nya dalam tindakan dan penciptaan, bahkan adanya perantara-perantara yang Dia inginkan memberi ketegasan tentang adanya Kausa Prima yang mempunyai pengaruh secara langsung dan mandiri terhadap kausa-kausa perantara tersebut.
Hukum apriori rasional ini dibenarkan pula oleh al-Qur’an; al-Qur’an menerima hukum kausalitas global dan menisbatkan tindakan-tindakan natural pada pelaku-pelaku natural pula dan juga menisbatkan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh manusia kepada manusia itu sendiri, tapi di saat yang sama dan tanpa ada paradoksi al-Qur’an menisbatkan semua itu pada Allah swt.:
وَ مَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لكِنَّ اللهَ رَمَی ﴿ الأنفال: 17 ﴾

Artinya: “Dan bukan engkau yang melempar mereka ketika engkau melempar tetapi Allah yang melempar” (QS. Al-Anfal: 17).
Di dalam ayat ini pelemparan dinisbatkan pada Rasulullah saw. dan dinisbatkan pula pada Allah swt., dua-duanya benar karena penisbatan ini harus dipandang secara vertikal dan tidak horizontal sehingga menimbulkan paradoksi antara dua penisbatan tersebut. Di dalam surat at-Taubah Allah swt. berfirman:
قَاتِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِاَيْدِيْكُمْ ﴿ التوبة: 14 ﴾

Artinya: “Perangilah mereka, Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tangan kalian” (QS. At-Taubah: 14).
اِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا ﴿ التوبة: 55 ﴾

Artinya: “Sesungguhnya Allah menghendaki menyiksa mereka dengannya (harta benda dan anak-anak itu)” (QS. At-Taubah: 55).
Perhatikanlah dua ayat di atas baik-baik, ayat pertama menisbatkan pembunuhan atau peperangan melawan orang kafir kepada manusia, tapi ayat kedua menisbatkannya pada Allah swt.. Maksud dari dua ayat di atas yakni sebab asli perbuatan ini adalah Allah swt. dan dilakukan dengan perantara manusia. Oleh karena itu perbuatan ini bisa dinisbatkan kepada dua-duanya dengan cara pandang vertikal sebab dan perantara.
Berkenaan dengan penyembuhan Allah swt. berfirman:
وَ اِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ﴿ الشعراء: 80 ﴾

Artinya: “Dan apabila aku sakit maka Dia menyembuhkanku.” (QS. As-Syu’ara’: 80).

ثُمَّ كُلِيْ مُنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهُ فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ﴿ النحل: 69﴾

Artinya: “Kemudian makanlah bermacam-macam buah-buahan, maka laluilah jalan-jalan Tuhanmu dengan patuh, keluarlah dari perutnya minuman yang bermacam-macam warnanya, dan padanya obat bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).

وَ نُنَزِّلُ مِنَ القُرآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ لَا يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ﴿ الإسراء: 82 ﴾

Artinya: “Dan Kami turunkan dari al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang mukmin dan ia (al-Qur’an) tidak menambahkan bagi orang-orang zalim melainkan kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82).
Bisa diperhatikan bahwa Allah swt. pada ayat pertama menisbatkan penyembuhan penyakit pada Diri-Nya, tapi kemudian di ayat kedua Dia juga menisbatkan penyembuhan penyakit pada madu dan pada ayat ketiga menisbatkannya pada al-Qur’an.
Berkenaan dengan pencatatan amal Allah swt. berfirman:
وَ اللهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُوْنَ ﴿ النساء: 81 ﴾

Artinya: “Padahal Allah menuliskan sesuatu yang mereka rencanakan pada malam hari” (QS. An-Nisa’: 81).

اَمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَ نَجْوَاهُمْ بَلَی وَ رُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكتُبُوْنَ ﴿ الزخرف: 80 ﴾

Artinya: “Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia mereka dan bisik-bisik mereka? Bukan begitu dan utusan-utusan Kami mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80).
Allah swt. menisbatkan pencatatan amal pada Diri-Nya sendiri sebagaimana disebutkan oleh ayat pertama dan menisbatkannya juga pada utusan-utusan Dia sebagaimana disebutkan oleh ayat kedua.
Berkenaan dengan kepengaturan alam Allah swt berfirman:
ثُمَّ اسْتَوَی عَلَی الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الاَمْرَ ﴿ يونس: 3 ﴾

Artinya: “Kemudian Dia berada di arasy mengatur urusan” (QS. Yunus: 3).
فَالْمُدَبِّرَاتِ اَمْرًا ﴿ النازعات: 5 ﴾

Artinya: “Demi (malaikat) yang mengatur urusan.” (QS. An-Nazi’at: 5).
Allah swt. menisbatkan kepengaturan segala urusan alam semesta kepada Diri-Nya sendiri pada ayat yang pertama tapi Dia juga menisbatkannya kepada malaikat-malaikat pengatur seperti disinyalir dalam ayat kedua.
Berkenaan dengan pencabutan nyawa Allah swt. berfirman:
اَللهُ يَتَوَفَّی الاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا ﴿ الزمر: 42 ﴾

Artinya: “Allah yang memegang jiwa ketika matinya” (QS. Az-Zumar: 42).
الَّذِيْنَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِيْنَ ﴿ النحل: 32 ﴾

Artinya: “Mereka yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan baik.” (QS. An-Nahl: 32).
Terkadang Allah swt. menisbatakan pencabutan nyawa kepada Diri-Nya sendiri sebagaimana tercatat dalam ayat pertama dan terkadang Allah swt. menisbatkannya kepada malaikat, dan dua-duanya benar sesuai dengan penjelasan sebelumnya.
Begitu pula berkenaan dengan pertolongan Allah swt. berfirman:
وَ مَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللهِ العَزِيْزِ الحَكِيْمِ ﴿ آل عمران: 126 ﴾

Artinya: “Dan tidak ada kemenangan melainkan dari sisi Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali-Imran: 126).
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ﴿ الفاتحة/ الحمد: 5 ﴾

Artinya: “Hanya Engkaulah kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah/ al-Hamd: 5).
وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلَاةِ ﴿ البقرة: 45 ﴾

Artinya: “Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45).
وَ تَعَاوَنُوْا عَلَی البِرِّ وَ التَّقْوَی ﴿ المائدة: 2 ﴾

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa” (QS. Al-Maidah: 2).
وَ اِنِ اسْتَنْصَرُوْكُمْ فِيْ الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمْ النَّصْرُ ﴿ الانفال: 72 ﴾

Artinya: “Dan kalau mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan agama maka wajib bagi kalian memberikan pertolongan” (QS. Al-Anfal: 72).
Seperti yang tercantum di atas Allah swt. pada ayat pertama dan kedua membatasi pertolongan hanyak milik-Nya tapi di tiga ayat berikutnya Allah swt. menisbatkan pula pertolongan kepada sabar (puasa), shalat, dan kepada sesama manusia. Penjelasannya sama dengan ayat-ayat sebelumnya; semua ayat yang seperti ini ingin mengatakan bahwa penisbatan hal-hal seperti pelemparan, pembunuhan, penyembuhan, penulisan, pencabutan nyawa, pertolongan, dan lain sebagainya kepada Allah swt. adalah penisbatan perbuatan secara independen, tapi di saat yang sama perbuatan-perbuatan itu juga bisa dinisbatkan kepada selain Allah swt. secara dependen dan hanya dengan kehendak serta izin Allah swt., maka dari itu tidak ada paradoksi antara dua kelompok ayat-ayat di atas.
Hasan bin Ali as-Seqaf yang bermadzhab Syafii berkata kalau ada pertanyaan bolehkah hukumnya meminta sesuatu kepada Rasulullah saw. atau salah satu umatnya yang saleh setelah mereka wafat? Jawabnya adalah kalau orang yang meminta tersebut berkeyakinan bahwa pihak yang diistighosahi dan dimintai pertolongan memiliki sifat rububiyah (sifat Ilahi berupa kepengaturan alam semesta) maka orang itu betul-betul telah kafir dan sama saja apakah pihak yang diistighosahi dan dimintai pertolongan itu masih dalam keadaan hidup ataupun sudah meninggal dunia. Masalah ini sudah terbukti dan populer dalam pembahasan tentang ilmu tauhid. Akan tetapi apabila seseorang meminta Rasulullah saw. yang sudah meninggal dunia agar beristighfar untuknya dan tanpa meyakini beliau sebagai rabbi (pengatur alam), penghidup, pencabut nyawa, pencipta, pemberi rejeki, dan sifat-sifat Ilahi lainnya maka sama sekali perbuatan dia tidak terhitung kafir dan syirik, karena sungguh Rasulullah saw. pernah mengajarkan pada orang buta untuk berkata dalam doanya demikian «ya muhammad, inni atawajjahu bika ilallohi fi hajati» yang artinya «wahai Muhammad, aku utamakan engkau yang berkedudukan di hadapan Allah untuk meminta apa-apa yang kuperlukan», dan umumnya orang yang beristighosah pada Rasulullah saw. adalah mempunyai keyakinan seperti ini dan berkata seperti yang diajarkan oleh beliau.
Adapun untuk orang yang beranggapan bahwa kepercayaan dan perbuatan ini berakibat syirik dan seyogianya ditinggalkan saya katakan bahwa sama sekali tidak demikian, karena tidak mungkin Rasulullah saw. mengajarkan amalan yang berakibat syirik. Sikap mereka yang melarang sebuah perbuatan hanya karena kemungkinan terjadi syirik di dalamnya pada saat hadis-hadis shahih menganjurkan perbuatan itu adalah sikap yang sangat berbahaya. Para imam dari golongan ahli hadis dan fikih senantiasa menyebutkan hadis tentang orang buta tersebut di dalam bab-bab tentang shalat hajat, mereka mendorong masyarakat dalam upacara shalat hajat untuk berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah saw. tadi «ya rasulallah inni atawajjahu ilallohi fi hajati ... » . [68]
Dia juga berkata menurut saya, istighosah adalah permintaan pada Rasulullah saw. sebelum beliau wafat dan juga setelahnya, karena beliau saw. tetap hidup setelah meninggal dunia. Riwayat-riwayat menjelaskan bagaimana beliau mendengar dan menerima laporan tentang perbuatan-perbuatan umatnya, istighosah adalah permintaan pada Rasulullah saw. agar beliau minta Allah swt. untuk memenuhi keperluan-keperluannya. Sejarah umat Islam juga menjadi bukti nyata bagaimana mereka beristighosah kepada beliau saw. mulai dari zaman beliau hidup sampai sekarang, meskipun turunnya hujan berada di tangan Tuhan dan tidak di tangan Rasulullah tapi sebagaimana masyhur … Rasulullah saw. tidak bersabda pada umatnya janganlah kalian datang dan berdoa padaku setiap kali kalian menderita kelaparan dan mengalami bencana melainkan kalian harus minta kepada Allah semata … . [69]
Kritikan keenam, salaf dan pendahulu-pendahulu umat Islam tidak pernah melakukan istighosah, karena itu perbuatan tersebut hukumnya adalah haram. Satu contoh Ibnu Taimiyah berkata: tak seorangpun dari salaf umat Islam mulai dari sahabat, tabiin dan sampai tabiut-tabiin (generasi muslim setelah tabiin) yang melakukan shalat dan berdoa di sisi kuburan para nabi, salaf juga tidak pernah minta dari mereka dan beristighosah pada mereka baik ketika dalam kondisi jauh maupun ketika berada di sisi kuburan mereka. [70]
Pertama-tama, hal yang tidak pernah dilakukan oleh salaf dan pendahulu umat Islam tidak bisa dijadikan bukti untuk mengharamkannya, jangankan pendahulu umat; hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang maksum (suci) pun tidak bisa dijadikan bukti untuk mengharamkan sesuatu, apalagi sekedar sahabat, tabiin, dan tabiut-tabiin, karena boleh jadi mereka meninggalkan perbuatan tertentu dengan alasan mubah, makruh, atau bahkan mustahab. Kedua, setiap orang yang membaca sejarah sahabat dan pasca sahabat, dia akan menyaksikan bahwa istighosah sudah populer dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi saw. dan juga umat Islam setelah mereka sebagaimana pembaca budiman telah membaca sebagian dari data-data sejarah tersebut dalam subjudul-subjudul sebelumnya.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Tulisan ini disadur dari dua tulisan berjudul istighosah yang termuat dalam dua kitab: Rawafidu al-Iman ila Aqa’idi al-Islam, Najmuddin Tabasi, hal. 63-91. Wahabiyat, Ali Asghar Ridhwani, hal. 471-487.
2. Al-Hadiyyatu as-Sinniah: 40.
3. Kasyfu al-Irtiyab: 214.
4. Kasyfu al-Irtiyab: 214.
5. Majmu’ Fatawa bin Baz: jilid 2, hal. 549.
6. Ibid. hal. 552.
7. Ibid, hal. 746.
8. Risalatu Ziaroti al-Qubur: hal. 155.
9. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa suatu saat Abu Hanifah makan bersama Imam Ja’far Shadiq as, dan ketika selesai makan Imam Shadiq mengucapkan Alhamdu lillahi robbil alamin, Allohumma hadza minka wa min rosulik (artinya: puji syukur pada Allah Tuhan semesta alam, ya Allah ini adalah dari-Mu dan dari Rasul-Mu), seketika Abu Hanifah menegur wahai Abu Abdillah (kunyah Imam Shadiq)! Apa engkau menyekutukan Allah swt.? maka beliau menjawab: celakalah dirimu, sesungguhnya Allah swt. berfirman di dalam kitab sucinya:
وَ مَا نَقَمُوْا اِلَّا اَنْ اَغْنَاهُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ مِنْ فَضْلِهِ ﴿ التوبة: 74 ﴾
(artinya: “Dan kalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata cukuplah Allah bagi kami maka Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya.” (QS. At-Taubah: 59), Allah swt. juga berfirman di ayat yang lain:
وَ لَوْ اَنَّهُمْ رَضُوْا مَآ ءَاتَاهُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ قَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ سَيُؤْتِيْنَا اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ رَسُوْلِهِ ﴿ التوبة: 59 ﴾
(Artinya: “Dan kalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata cukuplah Allah bagi kami maka Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya.” (QS. At-Taubah: 59), setelah mendengar jawaban itu maka Abu Hanifah berkata: demi Allah seakan-akan aku tidak pernah membaca ayat itu. (Kanzu al-Fawaid: 196. darinya juga Wasailu as-Syiah: 24/351. Biharu al-Anwar: 47/240.)
10. Fathu al-Bari fi Syarhi Shohihi Bukhori: jilid 3, hal. 338, kitabu az-zakat, no. 52.
11. Wafa’u al-Wafa’: 2/421.
12. Risalatu Ziaroti al-Qubur: 155.
13. Kasyfu al-Irtiyab: 223.
14. Kasyfu al-Irtiyab: 2/421.
15. Musnadu Ahmad bin Hanbal: 3/245, 261 dan 381.
16. Shohih Baihaqi di juz tentang kehidupan para nabi. Hadis ini juga dinukil oleh Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathu al-Bari, dan komitmen Ibnu Hajar adalah semua hadis dai teks Shahih Bukhori yang dia nukil, komentari dan atau dia lengkapi di dalam kitabnya maka hadis itu menurut hemat dia adalah sahih atau hasan.
17. Manawi meriwayatkannya dalam kitab Syarhu al-Jami’ as-Shoghir dari Ibnu Asakir. Hafidz Iraqi menambahkan bahwa Ibnu Abdul Bar mensinyalirnya dalam Tamhid wa al-Istidzkar dengan silsilah perawi yang sahih dari Ibnu Abbas. Hadis ini juga dinyatakan sahih oleh Abdul Haq. Lihatlah kitab al-Maqolatu as-Sinniyah: 114.
18. Al-Maqolatu as-Sinniyah fi Kasyfi Dholalati Ibni Taimiyah: 114.
19. Ubadah bin Shamit meriwayatkan bahwa Abu Bakar pernah berkata bangkitlah kalian untuk beristighosah pada Rasulullah dalam menghadapi orang munafik, maka Rasulullah saw. bersabda: kebangkitan itu bukan untukku melainkan hanya untuk Allah swt. (Musnadu Ahmad bin Hanbal: 5/317).
20. Al-Mawahibu as-Sinniyah: 3/417.
21. Tahqiqu an-Nadhroh bi Talkhishi Ma’alimi Dar al-Hijroh: 113.
22. Menunjukkan riwayat yang dinukil pula oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya: 4/138, hadis ini mengisahkan orang buta yang mendapatkan penglihatannya kembali berkat doa yang Rasulullah saw. ajarkan padanya. Hadis ini juga dicatat oleh Tirmidzi: 5/560, hadis ke3578, Ibnu Majah: 1/441, Hakim Nisyaburi: 1/313.
23. Mu’jamu at-Thobroni: 9/30 no.8311. Mu’jamu as-Shoghir: 1/183, penyusun kitab ini menyatakannya sebagai hadis yang sahih.
24. Siyaru A’lami an-Nubala’: 2/320.
25. Sunanu ad-Daromi: 1/56. Subulu al-Huda wa ar-Rosyad: 12/347. Wafa’u al-Wafa’: 4/1374.
26. Fathu al-Bari: 2/577. Wafa’u al-Wafa’: 4/1372. begitu pula dengan kuburan Abu Ayub sebagaimana dalam Siyaru A’lami an-Nubala’: 2/412.
27. Masyariqu al-Anwar li al-Hamzawi: 1/197. lihatlah kitab al-Ghodir: 5/191.
28. Al-Ithafu bi Hubbi al-Asyrof: 75-110. Al-Ghodir: 5/187.
29. Kitabu ats-Tsiqot: 6/402. Al-Ansabu li as-Sam’ani: 1/517.
30. Siyaru A’lami an-Nubala’: 16/92. lihatlah kitab Mizanu al-I’tidal: 3/506. An-Nujumu az-Zahiroh: 3/342. Thobaqotu as-Subki: 3/131. Al-Ansab: 2/209. Al-Wafi bi al-Wafayat: 2/317.
31. Tahdzibu at-Tahdzib: 7/339.
32. Siyaru A’lami an-Nubala’: 14/365.
33. Siyaru A’lami an-Nubala’: 14/374-377.
34. Mustadroku al-Hakim: 3/518, no. 5929/1527. Shifatu as-Shofwah: 1/470.
35. Tarikhu Baghdad: 1/120.
36. Khulashotu al-Kalam: 252 karya Sayid Zaini Dahlan. Tarikhu Baghdad: 1/123. Manaqibu Abi Hanifah li al-Khorazmi: 2/199. lihatlah kitab al-Ghodir: 5/194.
37. Manaqibu Ahmad, karya Ibnu Jauzi: 297.
38. Wafayatu al-A’yan: 4/272. Siyaru A’lami an-Nubala’: 17/216.
39. Siyaru A’lami an-Nubala’: 17/215. Thobaqotu as-Syafiiyah: 4/130.
40. Mir’atu al-Jinan: 4/357.
41. Salah satu kampung daerah Samarkand. (Mu’jamu al-Buldan: 2/356).
42. Thobaqotu as-Syafiiyah: 2/234. Siyaru A’lami an-Nubala’: 12/469.
43. Siyaru A’lami an-Nubala’: 15/375. Tarikhu Baghdad: 8/182.
44. Al-Madkholu fi Risalati Ziaroti al-Qubur: 1/257. Al-Ghodir: 5/111.
45. Furqonu al-Qur’an: 133. Al-Ghodir: 5/155.
46. Al-Mawahibu al-Laduniyah bi al-Minahi al-Muhammadiyah.
47. Komentator kitab Siyaru Al’ami an-Nubala’ melewatkan komentarnya tentang kitab ini yang sebetulnya membahas tema permintaan syafaat dan istighosah pada kuburan Rasulullah saw., tapi itu sudah menjadi kebiasaan komentator yang senantiasa menghindar untuk memberi komentar terhadap hal-hal di sini yang tidak sesuai dengan kepercayaan atau anggapan Wahabisme, seperti halnya bisa disaksikan dalam komentar-komentarnya berkenaan dengan beografi Kurkhi, Sayidah Nafisah, Abu Uwanah dan … atau jangan-jangan yang terhormat komentator tidak mengetahui isi kitab ini, karena kalau memang dia tahu maka buku ini sekaligus penulisnya tidak akan selamat dari serangan komentator yang disebut bertaqwa dan zahid! ini, kalau memang betul demikian maka Alhamdulillah.
Oleh karena itu Anda lihat bagaimana dia memuji pribadi penulis dan sikap perjuangannya yang berujung pada kesyahidan, kemudian dia berkata sebagai berikut: beginilah pribadi ulama Islam pada umumnya dan ahli hadis pada khususnya, mereka berada di baris depan pejuang yang membela negara-negara Islam dan menjaga kehormatannya. Siyaru A’lami an-Nubala’: 23/134.
48. Kendati pun Samhudi menyebutkan nama pengarang buku ini adalah Muhammad bin Musa bin Nu’man al-Balansi. Mungkin ada dua kitab yang judulnya sama, satu milik Sulaiman bin Musa dan yang satu lagi karya Muhammad bin musa. Halabi mencatat kitab ini dengan nama pengarang Sulaiman bin Musa bin Salim al-Balansi dan Muhammad bin Musa at-Tilmasani. Lihatlah Kasyfu ad-Dzunun: 2/1706.
49. Ibnu Imad berkata: Abu Rabi’ al-Kala’I Sulaiman bin Musa bin Salim al-Balansi adalah hafidz besar, terpercaya, penulis, penyusun, dan sisa tokoh-tokoh ilmu tekstual di Andalusia. Dia lahir pada tahun lima ratus enam puluh lima .
Abar menyebutkan: dia adalah orang yang pandai ilmu hadis, berakal (bijak), ahli di bidang ilmu jarh wa ta’dil (hal-hal positif atau negatif tentang perawi-perawi hadis), menguasai tanggal lahir dan wafatnya orang-orang penting, lebih maju daripada mereka yang hidup pada waktu itu, apalagi daripada mereka yang lebih muda setelahnya, dan tidak ada tandingannya dalam hal catatannya yang kuat dan teliti … . Syadzarotu ad-Dzahab: 5/164.
Dzahabi mengenalkan: dia adalah imam, allamah, hafidz, mujawid (teliti dari sisi tajwid sebuah teks), adib, sastrawan, tokoh ilmu hadis dan balaghah di Andalusia, dia bernama Abu Rabi’ Sulaiman bin Musa al-Balansi … dia termasuk imam-imam hadis yang terkemuka.
Kemudian dia menukil dari Abu Abdillah bin al-Abar dalam kitab sejarahnya bahwa dia (Abu Rabi’) adalah imam di bidang ilmu hadis … dia meninggalkan banyak karya yang bermanfaat di berbagai disiplin ilmu. Di antaranya adalah: Kitab Mishbahu ad-Dzulam … dalam ilmu hadis saya banyak mengambil manfaat dari kitab ini, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan darinya. Dia menukil dari Hafidz bin Musdi berkata: aku tidak menemukan seseorang yang menyerupainya dari sisi kebesaran, kepandaian, kepemimpinan dan keutamaan, dia adalah imam terkemuka di berbagai disiplin ilmu tekstual maupun rasional, tulisan natsr dan berwazan, mempunyai keutamaan-keutamaan secara lengkap, pakar di bidang ilmu-ilmu tentang Qur’an dan tajwid … dan dia adalah penutup para hafidz …
Dari Ibnu Abar diriwayatkan bahwa dia memberitahu kita kalau hidupnya akan berakhir pada usianya yang ketujuh puluh berdasarkan mimpi yang dia alami, dan dia adalah hafidz yang terakhir serta sastrawan di Andalusia. (Siyaru A’lami an-Nubala’: 23/134. An-Nujumu az-Zahiroh: 6/298).
50. Wafa’u al-Wafa’: 4/1380.
51. para ahli menyebutkan dia adalah orang yang paling unggul di antara tandingan-tandingannya, hal itu karena ilmunya yang luas, pemahamannya yang tajam, lahjahnya yang jujur, ibadahnya yang jelas, dia meninggal pada tahun 324. Siyaru A’lami an-Nubala’: 15/273. Thobaqotu as-Syafiiyah: 3/58.
52 Wafa’u al-Wafa’: 4/1380.
53. Wafa’u al-Wafa’: 4/1380.
54. Wafa’u al-Wafa’: 4/1383.
55. Wafa’u al-Wafa’: 4/1383.
56. Ibid.
57. Ibid.
58. Wafa’u al-Wafa’: 4/1385.
59. Ibid.
60. Al-Aqdu at-Tsamin: 3/68.
61. Tadzkirotu al-Hufadz: 4/1474.
62. Majma’u az-Zawaid: jilid 8, hal. 211.
63. Kanzu al-Ummal: jilid 1, hal. 507, no. hadis 2181.
64. Sunanu ad-Daromi: jilid 1, hal. 56, no. hadis 93.
65. Shohihu at-Tirmidzi: jilid 4, hal. 76, no. hadis 2635.
66. Majma’u az-Zawaid: jilid 8, hal. 40.
67. Majmuu Fatawa Bin Baz: jilid 2, hal. 55.
68. Al-Ighosatu bi Adillati al-Istighosah: hal. 3.
69. Ibid, hal. 4, penerbit Oman (Jordan).
70. Risalatu al-Hadiyah as-Sinniyah: hal. 162.





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
8+5 =